Pembacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 18:26–28
Tema: Berani Menyatakan Kebenaran
Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan, Malam hari adalah waktu yang tepat untuk bercermin. Ketika aktivitas mulai berhenti dan suara dunia perlahan mereda, kita diberi ruang untuk menilai diri sendiri dengan lebih jujur.
Dalam keheningan inilah firman Tuhan mengajak kita merenungkan satu sikap iman yang sangat penting, namun sering kali sulit dilakukan, yaitu keberanian untuk menyatakan kebenaran yang lahir dari kerendahan hati.
Ayat kunci firman Tuhan malam ini berbunyi, “Sebab, dengan penuh semangat ia membantah orang-orang Yahudi di depan umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesuslah Mesias.”
Ayat ini merujuk pada Apolos, seorang pelayan Tuhan yang dikenal cakap, berpengetahuan luas, dan penuh semangat. Namun keberanian Apolos menyatakan kebenaran tidak lahir dari kesombongan, melainkan dari proses pembelajaran, koreksi, dan pembaruan hidup.
Saudara-saudari, Tidak mudah bagi siapa pun untuk menerima kritik dan pengajaran dari orang lain.
Dalam dunia psikologi, dikenal istilah narsisme, yaitu kecenderungan seseorang untuk merasa dirinya paling benar, paling tahu, dan paling penting.
Orang dengan kecenderungan ini sulit dikoreksi karena kritik dianggap sebagai ancaman terhadap citra diri. Akibatnya, ia menutup diri dari pertumbuhan dan pembaruan.
Sikap seperti ini bukan hanya ada di dunia sekuler, tetapi juga dapat ditemukan dalam persekutuan orang percaya.
Firman Tuhan malam ini dengan lembut menegur sikap semacam itu. Kisah Apolos, Priskila, dan Akwila menunjukkan kepada kita bahwa pertumbuhan iman hanya mungkin terjadi ketika ada kerendahan hati untuk belajar dan keberanian untuk saling menegur dalam kasih.
Tanpa kerendahan hati, kebenaran bisa berubah menjadi alat kesombongan. Tanpa keberanian, kebenaran bisa terpendam dan tidak pernah disampaikan.
Apolos digambarkan sebagai seorang Yahudi dari Aleksandria, kota yang terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan.
Ia fasih berbicara, mahir dalam Kitab Suci, dan penuh semangat memberitakan firman Tuhan. Secara manusiawi, Apolos memiliki semua alasan untuk merasa dirinya cukup dan tidak membutuhkan pengajaran tambahan.
Namun Alkitab mencatat bahwa pemahamannya tentang jalan Tuhan belum lengkap. Ia hanya mengenal baptisan Yohanes.
Di sinilah kita melihat keindahan karya Tuhan melalui komunitas iman. Priskila dan Akwila, sepasang suami istri biasa, bukan orator besar dan bukan tokoh terkenal, dengan penuh hikmat dan kasih mengajak Apolos berbicara secara pribadi.
Mereka tidak mempermalukannya di depan umum, tetapi menjelaskan kepadanya jalan Allah dengan lebih teliti. Ini adalah teladan koreksi yang sehat: jujur, berani, tetapi penuh kasih.
Saudara-saudari, Keberanian menyatakan kebenaran tidak selalu berarti berbicara lantang di depan banyak orang.
Kadang-kadang keberanian itu justru ditunjukkan dalam percakapan yang tenang, dalam nasihat yang tulus, dan dalam kesediaan untuk mengoreksi demi kebaikan bersama.
Priskila dan Akwila berani menyatakan kebenaran meski mereka berbicara kepada seorang yang lebih terkenal dan lebih pandai.
Keberanian mereka bukan bersumber dari rasa lebih unggul, melainkan dari kasih kepada Tuhan dan kepada Apolos.
Yang lebih mengagumkan lagi adalah sikap Apolos. Ia tidak tersinggung. Ia tidak defensif. Ia tidak menutup diri. Sebaliknya, ia menerima pengajaran itu dengan rendah hati. Ia mau dibentuk, mau diperbarui, dan mau belajar.
Sikap inilah yang membuat pelayanannya semakin kuat dan berdampak luas. Kerendahan hati Apolos membuka jalan bagi keberanian yang lebih besar dalam menyatakan kebenaran.
Setelah menerima pengajaran yang lebih lengkap, Apolos tidak berhenti di Efesus. Ia justru terdorong untuk melangkah lebih jauh ke Akhaya. Ia tidak terikat pada kenyamanan, ketenaran, atau zona aman.
Dengan dukungan saudara-saudara seiman, Apolos pergi dan menjadi berkat besar bagi jemaat di sana. Ia membela iman Kristen di depan umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.
Saudara-saudari, Inilah kebenaran penting yang perlu kita renungkan malam ini: orang yang mau dikoreksi akan dipakai Tuhan lebih luas.
Sebaliknya, orang yang menolak koreksi akan berhenti bertumbuh, bahkan bisa menjadi penghambat karya Tuhan.
Keberanian menyatakan kebenaran tidak bisa dipisahkan dari kerendahan hati untuk menerima kebenaran.
Dalam kehidupan gereja dan persekutuan hari ini, kita sangat membutuhkan roh seperti ini. Dunia dipenuhi oleh suara-suara yang saling menyerang, saling menjatuhkan, dan merasa diri paling benar.
Media sosial sering menjadi ruang di mana kebenaran diperdebatkan tanpa kasih. Firman Tuhan mengajak kita menempuh jalan yang berbeda: menyatakan kebenaran dengan kasih, dan menerima kebenaran dengan kerendahan hati.
Saudara-saudari, Renungan malam ini juga mengajak kita bercermin secara pribadi. Bagaimana sikap kita ketika dikoreksi? Apakah kita langsung defensif? Apakah kita menutup diri? Ataukah kita mau bertanya, merenung, dan belajar?
Tidak ada seorang pun yang sudah sempurna dalam pengertian iman. Kita semua sedang dalam proses dibentuk oleh Tuhan.
Keberanian menyatakan kebenaran bukanlah keberanian yang kasar, apalagi penuh amarah. Keberanian sejati lahir dari kasih kepada Tuhan dan sesama.
Priskila dan Akwila berani karena mereka mengasihi Apolos dan mengasihi kebenaran. Apolos berani karena ia mengasihi Injil dan mengasihi jemaat. Semua keberanian ini berakar pada kerendahan hati di hadapan Allah.
Saudara-saudari terkasih, Menjelang kita menutup hari dan memasuki peraduan malam, firman Tuhan mengajak kita membangun tekad baru.
Marilah kita berkomitmen untuk hidup dalam kerendahan hati, terbuka terhadap pengajaran yang benar, dan siap diperbarui oleh Tuhan.
Marilah kita juga berdoa agar Tuhan memberi kita hikmat dan keberanian untuk menyatakan kebenaran, bukan demi kepentingan diri sendiri, tetapi demi kemuliaan nama-Nya.
Besok, ketika kita kembali menjalani kehidupan, biarlah seluruh karya hidup kita menjadi kesaksian tentang kebenaran Injil.
Di rumah, di tempat kerja, di tengah persekutuan, dan di masyarakat, kiranya orang melihat bukan kehebatan kita, melainkan kasih dan kebenaran Kristus yang hidup di dalam kita.
Kiranya kita, seperti Apolos, menjadi pribadi yang rendah hati untuk belajar dan berani untuk bersaksi. Kiranya kita, seperti Priskila dan Akwila, berani menyatakan kebenaran dalam kasih. Dan kiranya Tuhan dimuliakan melalui hidup kita. Amin.
Doa : Tuhan Allah yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu yang meneguhkan dan membarui hidup kami. Bentuklah kami menjadi umat yang rendah hati, berani menyatakan kebenaran-Mu dengan kasih. Sertai langkah kami saat beristirahat dan memasuki hari esok. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas