Pembacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 19:13–20
Tema: Yesus Aku Kenal, Tetapi Kamu, Siapa Kamu?
"Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapa kamu?" (ayat 15)
Sobat Teruna yang dikasihi Tuhan, kalimat dalam ayat ini terdengar sangat keras, bahkan mengejutkan. Kalimat itu tidak diucapkan oleh manusia, melainkan oleh roh jahat.
Ironisnya, justru roh jahat itu mampu membedakan siapa yang sungguh-sungguh mengenal Yesus dan siapa yang hanya memakai nama Yesus secara sembarangan.
Kalimat ini menampar iman kita dan mengajak kita bertanya dengan jujur: apakah aku benar-benar mengenal Yesus, atau hanya tahu tentang Yesus?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengatakan “aku kenal dia”, padahal yang kita maksud sebenarnya hanyalah “aku tahu tentang dia”.
Kita tahu namanya, pekerjaannya, latar belakangnya, tetapi tidak sungguh-sungguh dekat dengannya. Mengenal dalam arti Alkitab bukan sekadar tahu, melainkan memiliki relasi yang hidup, mendalam, dan saling mengenal.
Demikian juga dengan iman kepada Yesus Kristus. Mengenal Yesus bukan hanya soal hafal ayat Alkitab, rajin ke gereja, atau aktif dalam pelayanan. Mengenal Yesus berarti memberikan hati, hidup, dan arah hidup kepada-Nya.
Yesus tidak lagi berada jauh di luar diri kita, melainkan hidup dan berdiam di dalam hati kita yang paling dalam. Ia bukan sekadar tokoh rohani, tetapi Tuhan dan Juruselamat pribadi.
Kisah Para Rasul 19:13–20 menghadirkan peristiwa yang sangat serius dan penuh makna. Lukas menceritakan tentang tujuh anak Skewa, imam kepala Yahudi, yang mencoba mengusir roh jahat dengan menyebut nama Yesus.
Mereka berkata, “Aku menyumpahi kamu demi Yesus yang diberitakan oleh Paulus.” Mereka tidak mengenal Yesus secara pribadi. Mereka hanya meniru, meminjam, dan memanfaatkan nama Yesus sebagai formula rohani.
Sobat Teruna, di sinilah letak masalahnya. Nama Yesus dipakai bukan sebagai pengakuan iman, tetapi sebagai alat. Nama yang kudus dan berkuasa diperlakukan seperti jimat atau mantra. Ini bukan iman, melainkan penyalahgunaan iman.
Akibatnya sangat fatal. Roh jahat itu tidak tunduk, justru melawan. Ia berkata, “Yesus aku kenal, Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapa kamu?” Lalu roh jahat itu menyerang mereka hingga mereka luka-luka dan lari dengan telanjang.
Peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa kuasa nama Yesus tidak bekerja secara otomatis. Kuasa nama Yesus bekerja dalam relasi, dalam iman, dan dalam ketaatan. Nama Yesus bukan sekadar kata yang diucapkan, tetapi pengakuan hidup yang dijalani.
Roh jahat mengenal Yesus karena Yesus adalah Tuhan atas segala kuasa. Roh jahat juga mengenal Paulus karena hidup Paulus sungguh-sungguh dipersembahkan bagi Kristus. Tetapi mereka tidak mengenal anak-anak Skewa, karena tidak ada relasi iman yang sejati.
Sobat Teruna, kisah ini sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Banyak orang berbicara tentang Yesus, menyebut nama Yesus, bahkan mengaku percaya kepada Yesus, tetapi hidupnya tidak mencerminkan relasi dengan Yesus.
Ada iman di bibir, tetapi tidak ada iman dalam hidup. Ada simbol-simbol rohani, tetapi tidak ada pertobatan sejati.
Yesus sendiri pernah berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku.” Artinya, pengenalan sejati kepada Yesus selalu terwujud dalam ketaatan dan perubahan hidup.
Sobat Teruna, mengenal Yesus berarti membiarkan Yesus mengenal kita sepenuhnya. Ia mengenal luka kita, dosa kita, ketakutan kita, dan masa depan kita. Ia mengenal kita lebih dalam daripada kita mengenal diri sendiri.
Karena itu, pengenalan kita kepada Yesus seharusnya bukan pengenalan yang dangkal, melainkan pengenalan yang mengubah hidup.
Nama Yesus sendiri berarti “Tuhan menyelamatkan”. Nama ini bukan hanya identitas, tetapi misi. Di dalam nama Yesus ada keselamatan, pemulihan, dan pembebasan.
Tetapi keselamatan itu diberikan kepada mereka yang percaya dan menyerahkan hidupnya kepada-Nya. Bukan kepada mereka yang hanya memanfaatkan nama-Nya demi kepentingan pribadi.
Kisah ini juga membawa dampak besar bagi kota Efesus. Ketika peristiwa itu tersebar, banyak orang menjadi takut akan Tuhan, dan nama Yesus dimuliakan. Banyak orang yang percaya datang mengaku dosa dan perbuatan mereka.
Bahkan kitab-kitab sihir dibakar di depan umum. Ini menunjukkan bahwa pengenalan sejati kepada Yesus selalu menghasilkan pertobatan yang nyata. Tidak ada iman sejati tanpa perubahan hidup.
Sobat Teruna, pertanyaannya sekarang kembali kepada kita: Yesus aku kenal, tetapi kamu, siapa kamu? Jika pertanyaan itu ditujukan kepada kita, apa jawabannya? Apakah hidup kita mencerminkan bahwa kita sungguh milik Kristus? Apakah Yesus mengenal kita sebagai murid-Nya, sebagai anak-anak-Nya?
Mengenal Yesus berarti hidup dalam terang, bukan dalam kepura-puraan. Mengenal Yesus berarti berani meninggalkan dosa, meskipun itu nyaman. Mengenal Yesus berarti hidup dalam kasih, kejujuran, dan kebenaran, meskipun itu tidak populer. Mengenal Yesus berarti mengandalkan-Nya, bukan memakai-Nya.
Sobat Teruna hidup di zaman yang penuh dengan simbol, citra, dan pencitraan. Mudah sekali tampil rohani di luar, tetapi kosong di dalam. Firman Tuhan malam ini mengajak kita untuk berhenti berpura-pura dan mulai membangun relasi yang sejati dengan Kristus.
Tuhan tidak mencari orang yang pandai berbicara tentang Dia, tetapi orang yang mau hidup bersama Dia.
Sebelum kita terlelap malam ini, mari kita merenung dengan jujur: Apakah aku sungguh mengenal Yesus secara pribadi? Apakah imanku hanya tradisi, atau relasi? Apakah hidupku memuliakan nama Yesus, atau justru mempermalukan-Nya?
Kiranya Roh Kudus menolong Sobat Teruna untuk memiliki pengenalan yang benar dan mendalam tentang Yesus Kristus. Bukan pengenalan palsu, bukan iman pinjaman, tetapi iman yang hidup dan menyelamatkan. Yesus aku kenal, dan kiranya Yesus pun mengenal kita sebagai milik-Nya. Amin.
Doa : Tuhan Yesus yang kudus dan berkuasa, terima kasih karena Engkau mengenal kami sepenuhnya. Ajarlah kami memiliki iman yang sejati, bukan sekadar kata-kata, tetapi relasi yang hidup dengan-Mu. Bentuklah hidup kami agar memuliakan nama-Mu dalam setiap langkah. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas