Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Minggu, 25 Januari 2026, Habakuk 1:5-6 Allah Bisa Memakai Siapa Saja Untuk Menegakkan Keadilan

Alfianne Lumantow • Jumat, 23 Januari 2026 | 20:30 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Habakuk 1:5–6
Tema: Allah Bisa Memakai Siapa Saja untuk Menegakkan Keadilan

“Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, terheran-heranlah dan tercenganglah, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai, sekiranya diceritakan.” (Hab. 1:5)

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Kitab Habakuk adalah salah satu kitab nabi kecil yang sangat jujur dan berani. Di dalamnya, kita tidak hanya menemukan firman Tuhan yang disampaikan kepada umat, tetapi juga pergumulan batin seorang nabi yang bergulat langsung dengan Allah.

Habakuk bukan nabi yang hanya menyampaikan pesan, tetapi ia juga mempertanyakan, meratap, bahkan hampir memprotes Allah atas realitas yang ia lihat di sekitarnya.

Pada bagian awal pasal 1, ayat 2–4, Habakuk menyuarakan kegelisahannya. Ia melihat kejahatan, kelaliman, penindasan, dan ketidakadilan terjadi di tengah umat Yehuda—umat pilihan Allah sendiri.

Hukum seolah lumpuh, keadilan tidak ditegakkan, orang fasik menindas orang benar. Yang lebih menyakitkan bagi Habakuk adalah kenyataan bahwa semua itu seakan-akan dibiarkan oleh Allah. Doa-doanya seperti tidak dijawab, teriakannya seolah tidak didengar.

Pergumulan Habakuk ini sangat manusiawi dan dekat dengan pengalaman kita. Bukankah sering kali kita juga bertanya, “Di mana Tuhan ketika kejahatan merajalela?

Mengapa orang jahat tampak hidup nyaman, sementara orang yang berusaha hidup benar justru menderita?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bukan tanda kurang iman, melainkan ekspresi iman yang jujur. Habakuk tidak meninggalkan Tuhan; ia justru membawa kebingungannya kepada Tuhan.

Lalu, pada ayat 5–6, Tuhan menjawab. Namun jawaban Tuhan sama sekali tidak seperti yang diharapkan Habakuk. Tuhan tidak langsung berkata bahwa Ia akan segera membereskan semuanya dengan cara yang lembut dan menenangkan.

Sebaliknya, Tuhan menyatakan bahwa Ia sedang melakukan pekerjaan besar yang akan membuat orang tercengang: Ia akan membangkitkan bangsa Kasdim, yakni bangsa Babel, bangsa yang kejam, sombong, dan tidak mengenal Allah, untuk menghukum Yehuda.

Di sinilah letak kejutan besar itu. Allah memakai bangsa yang secara moral dan rohani lebih buruk daripada Yehuda untuk menegakkan keadilan-Nya.

Bagi Habakuk, ini sungguh sulit diterima. Bagaimana mungkin Allah yang kudus menggunakan bangsa kafir untuk menghukum umat-Nya? Bukankah itu terasa tidak adil?

Namun melalui peristiwa ini, kita diajak untuk melihat satu kebenaran iman yang penting: Allah berdaulat penuh dan bebas memakai siapa saja dan apa saja untuk menegakkan keadilan-Nya.

Allah tidak terikat oleh cara berpikir manusia, tidak terkungkung oleh standar kenyamanan kita. Ketika umat-Nya tidak mau bertobat, Allah tetap setia pada kekudusan dan keadilan-Nya, bahkan jika itu berarti Ia harus memakai alat yang tidak kita sukai.

Saudara-saudari, sering kali kita ingin Allah bekerja sesuai dengan harapan kita. Kita ingin keadilan ditegakkan dengan cara yang cepat, bersih, dan menyenangkan. Kita ingin orang jahat dihukum tanpa kita ikut merasakan dampaknya.

Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa keadilan Allah tidak selalu datang dengan cara yang lembut. Kadang keadilan itu datang sebagai teguran keras, bahkan penderitaan, agar umat kembali kepada Tuhan.

Allah tidak pernah berdiam diri terhadap ketidakadilan. Ketika tampaknya Tuhan diam, sesungguhnya Ia sedang bekerja dengan cara yang lebih dalam dan luas dari yang bisa kita pahami.

Tuhan berkata, “Lihatlah… perhatikanlah… terheran-heranlah dan tercenganglah.” Artinya, manusia diminta untuk membuka mata iman, bukan hanya mata jasmani. Apa yang tampak sebagai kekacauan bisa jadi adalah bagian dari karya Allah yang sedang berlangsung.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering mengalami hal serupa. Kita melihat orang-orang yang tidak takut Tuhan, yang mungkin hidup dengan cara yang tidak benar, tetapi tampaknya berhasil, makmur, dan dihormati.

Sementara itu, kita yang berusaha hidup jujur dan setia justru mengalami kesulitan, tekanan, bahkan ketidakadilan. Situasi ini bisa menggoyahkan iman.

Kita bisa tergoda untuk berpikir bahwa hidup benar tidak ada gunanya, atau bahkan tergoda untuk ikut-ikutan hidup seperti mereka.

Firman Tuhan hari ini menegur kita dengan lembut namun tegas: jangan mengukur keadilan Allah hanya dari apa yang tampak sekarang. Allah melihat gambaran yang utuh, melampaui waktu dan kepentingan manusia.

Keberhasilan orang fasik bukanlah tanda bahwa Allah menyetujui hidup mereka. Bisa jadi itu adalah ruang pertobatan yang Tuhan berikan, atau bahkan alat untuk menguji kesetiaan orang benar.

Lebih dari itu, Tuhan juga dapat memakai orang atau situasi yang tidak kita duga untuk mendidik dan membentuk iman kita.

Kadang Tuhan memakai orang yang tidak seiman, situasi yang tidak adil, atau pengalaman pahit untuk mengajarkan kita tentang kerendahan hati, ketekunan, dan keadilan sejati.

Seperti Habakuk, kita mungkin tidak langsung mengerti, tetapi kita diajak untuk tetap percaya.
Keadilan Allah bukan hanya soal menghukum yang jahat, tetapi juga memurnikan umat-Nya. Yehuda dihukum bukan karena Allah membenci mereka, melainkan karena Ia mengasihi mereka dan tidak ingin mereka terus hidup dalam kelaliman.

Demikian pula dengan kita. Ketika Tuhan mengizinkan proses yang menyakitkan, itu bukan tanda Ia meninggalkan kita, melainkan tanda bahwa Ia masih peduli dan bekerja dalam hidup kita.

Saudara-saudari yang terkasih, pesan utama dari Habakuk 1:5–6 adalah ajakan untuk mempercayai kedaulatan Allah. Allah tidak terbatas oleh siapa pun.

Ia bisa memakai siapa saja—bahkan mereka yang tidak mengenal Dia—untuk melaksanakan rencana-Nya. Tugas kita bukanlah menghakimi cara Allah bekerja, melainkan meresponsnya dengan iman dan ketaatan.

Sebagai umat Tuhan di tengah dunia yang penuh ketidakadilan, kita dipanggil untuk tetap mencintai kebenaran dan hidup adil. Jangan menyerah pada keputusasaan.

Jangan pula membalas kejahatan dengan kejahatan. Percayalah bahwa Allah melihat, Allah tahu, dan Allah bertindak pada waktu-Nya.

Kiranya firman Tuhan ini menguatkan kita untuk tetap setia, meskipun jalan iman tidak selalu mudah dimengerti. Mari kita belajar seperti Habakuk, yang akhirnya tidak berhenti pada pertanyaan, tetapi melangkah menuju iman yang lebih dewasa—iman yang bersandar penuh pada Allah yang adil dan berdaulat. Amin.

Doa : Tuhan Allah yang adil dan berdaulat, kami bersyukur atas firman-Mu yang menguatkan iman kami. Ajarlah kami percaya pada cara-Mu, meski sulit kami mengerti. Teguhkan hati kami untuk tetap hidup benar, mencintai keadilan, dan setia mengikuti kehendak-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB