Sobat Teruna yang dikasihi Tuhan, pernahkah kalian merasa bingung, bahkan kesal, ketika melihat realitas hidup yang terasa tidak adil? Orang yang curang, licik, dan menindas justru terlihat sukses, kaya, dan hidup nyaman.
Sebaliknya, orang yang jujur, bekerja keras, dan berusaha hidup benar malah berkali-kali jatuh, disalahpahami, atau menderita. Pertanyaannya muncul: “Tuhan ke mana? Apakah Tuhan adil? Apakah Tuhan benar-benar peduli?”
Pergumulan ini bukan hanya pergumulan kita hari ini. Ribuan tahun yang lalu, seorang nabi bernama Habakuk juga bergumul dengan pertanyaan yang sama. Ia melihat bangsanya—Yehuda—hidup dalam kejahatan, ketidakadilan, dan kekerasan.
Hukum Tuhan diabaikan, kebenaran diputarbalikkan, dan orang jahat tampak menang. Habakuk berseru kepada Tuhan, “Berapa lama lagi?” Ia jujur, ia gelisah, ia tidak menutup-nutupi kebingungannya di hadapan Allah.
Menariknya, Tuhan tidak marah atas pertanyaan Habakuk. Tuhan justru menjawab. Namun jawaban Tuhan bukan jawaban yang menenangkan perasaan, melainkan jawaban yang menantang iman.
Tuhan berkata bahwa Ia akan bertindak dengan membangkitkan bangsa Kasdim atau Babel. Di ayat 7–11, Tuhan menggambarkan Babel sebagai bangsa yang dahsyat, menakutkan, cepat, ganas, dan sangat kuat secara militer.
Mereka tidak menghargai hukum, tidak menghormati siapa pun, dan menjadikan kekuatan mereka sendiri sebagai ilah. Dengan kata lain, Babel adalah bangsa yang arogan dan kejam.
Sobat Teruna, mungkin kita berpikir, “Loh Tuhan, ini kok aneh? Bangsa Yehuda yang berdosa dihukum memakai bangsa yang lebih jahat?” Bukankah ini semakin tidak adil?
Di sinilah kita belajar satu kebenaran penting: Tuhan tidak selalu bekerja sesuai dengan logika manusia, tetapi Tuhan selalu bekerja sesuai dengan kedaulatan-Nya.
Jawaban Tuhan di ayat 7–11 memang tidak langsung menghibur Habakuk. Tidak ada kata-kata lembut. Tidak ada janji bahwa penderitaan akan segera berhenti.
Namun Tuhan sedang membuka mata Habakuk bahwa Ia tidak diam. Tuhan bekerja dalam skala yang lebih besar, dalam rencana yang melampaui pemahaman manusia.
Sobat Teruna, sering kali kita berpikir bahwa jika Tuhan berdaulat, maka hidup seharusnya rapi, tertib, dan nyaman. Padahal Alkitab justru menunjukkan bahwa kedaulatan Allah sering kali dinyatakan di tengah kekacauan. Tuhan tetap memegang kendali bahkan ketika dunia terlihat berantakan.
Babel memang diizinkan untuk berkuasa, tetapi bukan berarti Babel menjadi penguasa sejati. Tuhanlah yang tetap berdaulat. Babel hanyalah alat di tangan Tuhan—alat yang bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang dipakai.
Ini pelajaran yang tidak mudah diterima, apalagi bagi anak muda. Kita hidup di era media sosial, di mana kesuksesan terlihat instan. Orang yang menipu bisa viral, yang memfitnah bisa terkenal, yang manipulatif bisa naik jabatan. Sementara mereka yang memilih jujur justru sering tertinggal.
Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: izin Tuhan bukan berarti persetujuan Tuhan. Tuhan mengizinkan Babel berkuasa, tetapi Tuhan tidak menyetujui kekejian mereka. Dalam kedaulatan-Nya, Tuhan juga telah menetapkan batas bagi Babel. Kekuasaan mereka tidak akan berlangsung selamanya.
Sobat Teruna, ini penting. Jangan sampai kita salah paham. Ketika orang jahat terlihat menang, itu bukan tanda bahwa Tuhan kalah. Itu bukan bukti bahwa kejahatan lebih kuat dari kebenaran. Itu hanya menunjukkan bahwa Tuhan sedang bekerja dengan cara-Nya sendiri dan dalam waktu-Nya sendiri.
Tuhan memakai Babel untuk mendidik Yehuda. Yehuda telah berulang kali diingatkan, ditegur, dan diajak bertobat, tetapi mereka tetap keras hati. Maka Tuhan mengizinkan penderitaan sebagai sarana pembentukan. Bukan karena Tuhan kejam, tetapi karena Tuhan adil dan mengasihi umat-Nya.
Sobat Teruna, kadang Tuhan juga mengizinkan kekacauan dalam hidup kita bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menyadarkan. Kegagalan, kekecewaan, bahkan luka bisa menjadi cermin yang Tuhan pakai untuk menegur kita, membentuk karakter kita, dan membawa kita kembali kepada-Nya.
Namun jangan lupa, cerita tidak berhenti di Babel. Kitab Habakuk selanjutnya menunjukkan bahwa Tuhan juga akan menghakimi Babel. Kesombongan mereka, kekerasan mereka, dan penyembahan mereka kepada kekuatan sendiri akan mendatangkan hukuman. Tidak ada kejahatan yang lolos dari keadilan Tuhan.
Ini memberi kita pengharapan besar. Allah yang berdaulat adalah Allah yang adil. Tidak ada satu pun perbuatan jahat yang tidak diperhitungkan. Mungkin keadilan itu tidak langsung terlihat sekarang, tetapi pasti akan dinyatakan pada waktunya.
Sobat Teruna, bagaimana kita merespons firman ini?
Pertama, belajarlah jujur kepada Tuhan seperti Habakuk. Tuhan tidak alergi terhadap pertanyaan dan keluhan kita. Datanglah kepada-Nya dengan hati yang terbuka. Lebih baik kita bergumul di hadapan Tuhan daripada menjauh dari Tuhan.
Kedua, jangan iri kepada keberhasilan orang jahat. Keberhasilan yang dibangun di atas kecurangan tidak pernah kekal. Mazmur berkata, orang fasik seperti rumput yang cepat layu. Apa yang terlihat kuat hari ini bisa runtuh besok.
Ketiga, tetaplah hidup benar meski terasa sulit. Integritas memang mahal, tetapi itu satu-satunya jalan yang berkenan kepada Tuhan. Tuhan mungkin tidak langsung memberi upah, tetapi Ia tidak pernah lupa.
Keempat, percayalah pada kedaulatan Tuhan, bukan pada situasi. Situasi bisa berubah, perasaan bisa goyah, tetapi kedaulatan Tuhan tetap teguh. Tuhan tidak kehilangan kendali, bahkan ketika hidup kita terasa kacau.
Sobat Teruna yang dikasihi Tuhan, di balik kekacauan dunia, di balik ketidakadilan yang kita lihat, di balik penderitaan yang kita alami, Allah tetap berdaulat. Ia bekerja dalam diam, menyusun rencana-Nya, dan menuntun sejarah menuju tujuan-Nya yang baik.
Kiranya kita belajar berkata seperti Habakuk di akhir kitabnya: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga… namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan.”
Sebab iman sejati bukanlah percaya ketika semuanya baik-baik saja, tetapi tetap percaya ketika kita belum mengerti apa yang sedang Tuhan lakukan. Amin.
Doa : Tuhan yang Mahaberdaulat, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Ajari kami tetap percaya di tengah kekacauan hidup dan setia berjalan dalam kebenaran. Teguhkan iman kami saat keadilan belum kami lihat, dan mampukan kami hidup berkenan kepada-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas