Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Senin 26 Januari 2026, Habakuk 1:12-14 Tuhan Beserta Dan Tetap Berubah

Alfianne Lumantow • Minggu, 25 Januari 2026 | 20:58 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Habakuk 1:12–14
Tema: Tuhan Beserta dan Tetap Tiada Berubah

“Bukankah Engkau ada sejak dulu, TUHAN, Allahku, Yang Mahakudus? Kami tidak akan mati.” (Hab. 1:12a)

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Kitab Habakuk kembali memperlihatkan kepada kita sebuah dialog iman yang sangat mendalam antara manusia dan Allah. Jika pada ayat-ayat sebelumnya Habakuk mempertanyakan keadilan Tuhan karena kejahatan di Yehuda.

Maka pada ayat 12–14 ini kita melihat kelanjutan pergumulan sang nabi setelah ia mendengar jawaban Tuhan tentang penggunaan bangsa Kasdim sebagai alat penghukuman.

Habakuk tidak berhenti bergumul. Ia kembali berbicara kepada Tuhan. Namun yang menarik, di tengah pertanyaan-pertanyaan yang tajam itu, Habakuk justru memulai dengan sebuah pengakuan iman yang kuat: “Bukankah Engkau ada sejak dulu, TUHAN, Allahku, Yang Mahakudus?”

Kalimat ini bukan sekadar pembuka doa, melainkan pernyataan iman yang mendasar. Sebelum mempertanyakan apa pun, Habakuk menegaskan siapa Allah itu baginya: Allah yang kekal, Mahakudus, dan setia.

Pengakuan ini menjadi dasar seluruh pergumulan Habakuk. Ia sadar bahwa ia sedang berbicara kepada Allah yang tidak berubah oleh waktu, tidak tergoyahkan oleh situasi, dan tidak kehilangan kendali atas sejarah.

Habakuk tidak sedang meragukan keberadaan Allah, melainkan mencoba memahami karya Allah yang terasa bertentangan dengan pemahamannya tentang keadilan.

Pertanyaan-pertanyaan Habakuk dalam ayat-ayat ini bersifat retorika. Ia seolah bertanya, tetapi di balik pertanyaan itu tersembunyi iman yang teguh. Ketika Habakuk berkata, “Kami tidak akan mati,” ia sedang menyatakan keyakinan bahwa Allah tidak akan membinasakan umat-Nya sepenuhnya. Hukuman yang datang bukanlah tanda kebinasaan total, melainkan tindakan pendisiplinan dari Allah yang setia.

Secara manusiawi, Habakuk memiliki alasan untuk bertanya. Bagaimana mungkin Allah yang Mahakudus memakai bangsa yang lebih jahat dan tidak mengenal Tuhan untuk menghukum Yehuda?

Bangsa Kasdim digambarkan sebagai bangsa yang kejam, rakus, dan memperlakukan manusia seperti ikan di laut yang ditangkap tanpa belas kasihan. Gambaran ini menunjukkan betapa mengerikannya alat yang dipakai Allah.

Namun, justru di sinilah iman Habakuk diuji dan diperdalam. Ia tidak menyangkal kekudusan Allah. Ia tidak menuduh Allah berbuat salah. Ia membawa kebingungannya ke hadapan Tuhan dalam relasi yang dekat dan akrab. Inilah iman yang dewasa: iman yang tidak lari dari Tuhan saat tidak mengerti, tetapi justru datang dan berbicara kepada-Nya.

Saudara-saudari, relasi yang akrab dengan Tuhan memungkinkan umat-Nya untuk berseru, bertanya, bahkan mengeluh. Bukan karena kita lebih tahu dari Tuhan, melainkan karena kita percaya bahwa Tuhan mau mendengar.

Seperti yang dikemukakan dalam tafsiran, Tuhan memberi ruang bagi umat-Nya untuk mencurahkan isi hati, walaupun pada hakikatnya tidak seorang pun berhak mempertanyakan keputusan Allah. Ruang ini adalah ruang kasih, bukan ruang penghakiman.

Dalam hubungan kasih, pertanyaan bukanlah tanda pemberontakan, melainkan tanda kepercayaan. Anak yang percaya kepada orang tuanya akan berani bertanya ketika ia tidak mengerti.

Demikian pula umat Tuhan. Habakuk mewakili umat yang bergumul, tetapi tetap berpegang pada keyakinan bahwa Tuhan tidak berubah dalam kasih dan penyertaan-Nya.

Pesan utama dari bagian ini adalah bahwa Tuhan beserta umat-Nya dan tetap tiada berubah, bahkan ketika cara-Nya sulit dipahami. Tuhan yang sama yang memanggil Abraham, membebaskan Israel dari Mesir, dan memelihara umat-Nya sepanjang sejarah, adalah Tuhan yang sama yang sedang bertindak pada zaman Habakuk. Kekekalan Allah menjadi jaminan keselamatan umat.

Saudara-saudari yang terkasih, pengalaman Habakuk juga sangat relevan dengan kehidupan kita. Dalam perjalanan hidup, kita sering diperhadapkan dengan peristiwa-peristiwa yang tidak kita mengerti: sakit penyakit, kehilangan orang yang dikasihi, kegagalan, ketidakadilan, atau penderitaan yang terasa tidak sebanding dengan usaha hidup benar yang kita jalani. Dalam situasi seperti itu, pertanyaan “mengapa” sering muncul secara spontan.

Sering kali kita merasa seolah-olah kita berhak meminta penjelasan dari Tuhan. Kita bertanya, “Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa Tuhan mengizinkan semua ini?” Pertanyaan-pertanyaan ini adalah bagian dari pergumulan iman.

Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa di balik semua pertanyaan itu, kita perlu kembali pada pengakuan iman yang sama seperti Habakuk: Tuhan kita adalah Allah yang kekal, Mahakudus, dan tidak berubah.

Allah tidak pernah berubah dalam kasih-Nya, meskipun keadaan hidup kita berubah. Situasi boleh berganti, perasaan boleh naik turun, tetapi karakter Allah tetap sama. Ia setia pada janji-Nya, setia pada umat-Nya, dan setia pada rencana keselamatan-Nya.

Keyakinan ini mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus. Dalam Kristus, kita melihat dengan jelas bahwa Allah tidak pernah berubah. Allah yang dahulu bekerja dalam sejarah Israel, kini hadir secara nyata dalam Yesus.

Ia datang ke dalam dunia, tinggal di antara manusia, merasakan penderitaan, ketidakadilan, dan bahkan kematian. Semua itu dilakukan-Nya sebagai bukti kasih yang tidak berubah.

Kristus adalah jaminan bahwa Allah selalu beserta kita. Melalui salib dan kebangkitan-Nya, kita diyakinkan bahwa penderitaan bukanlah akhir, dan hukuman bukanlah penolakan. Di dalam Kristus, Allah menyatakan bahwa Ia tetap setia, bahkan ketika umat-Nya tidak setia.

Saudara-saudari, Habakuk mengajarkan kepada kita bahwa iman bukan berarti selalu mengerti, tetapi tetap percaya. Iman bukan berarti tidak pernah bertanya, tetapi bertanya sambil tetap bersandar kepada Allah. Dalam iman seperti inilah kita menemukan kekuatan untuk menjalani hidup yang penuh tantangan.

Ketika kita tidak memahami jalan Tuhan, marilah kita tetap berpegang pada siapa Tuhan itu. Ketika kita merasa ditinggalkan, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Ketika kita merasa iman kita diuji, ingatlah bahwa Allah kita adalah Allah yang dulu, kini, dan selamanya tetap sama.

Kiranya firman Tuhan ini meneguhkan kita untuk terus berjalan dalam iman, dengan keyakinan bahwa Tuhan beserta kita dan kasih-Nya tidak pernah berubah. Amin.


Doa : Tuhan Allah yang kekal dan setia, kami bersyukur atas firman-Mu yang meneguhkan iman kami. Di tengah hal yang tidak kami mengerti, ajarlah kami tetap percaya kepada kasih-Mu yang tidak berubah. Kuatkan kami untuk berjalan bersama-Mu setiap hari, karena Engkau selalu beserta kami. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB