Pembacaan Alkitab: Habakuk 3:15–19
Tema: APAPUN KONDISIMU, PUJILAH DIA!
"Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pokok anggur tidak berbuah, dan pohon zaitun mengecewakan..." (ayat 17)
Jemaat yang dikasihi Tuhan, Sebagai orang percaya, kita diajar untuk selalu mengucap syukur dalam segala keadaan. Bukan hanya saat hidup berjalan lancar, tetapi juga ketika hidup terasa berat.
Tidak hanya ketika kita sehat, berhasil, dan bahagia, tetapi juga ketika kita sakit, gagal, dan berduka. Dalam keadaan apa pun, kita dipanggil untuk berkata: “Terima kasih Tuhan, Engkau tetap baik.”
Namun, mari kita jujur: mengucap syukur ketika keadaan baik itu mudah, tetapi mengucap syukur ketika keadaan buruk bukanlah hal yang gampang. Saat doa kita dikabulkan, kita cepat bersyukur.
Tetapi ketika doa terasa tidak dijawab, kita sering mengeluh. Saat berkat melimpah, kita memuji Tuhan. Tetapi saat kehilangan, kita mudah bertanya: “Mengapa Tuhan mengizinkan ini terjadi?”
Firman Tuhan hari ini mengajak kita belajar iman yang lebih dewasa: iman yang tidak tergantung pada keadaan, melainkan iman yang berdiri di atas pengenalan akan Allah.
Pada bagian akhir kitab Habakuk ini, kita melihat suatu kesaksian iman yang luar biasa. Nabi Habakuk tidak lagi berbicara tentang keluhannya, tetapi tentang kepercayaannya. Ia tidak lagi mempersoalkan keadaan, tetapi memuliakan Tuhan. Ia tidak lagi bertanya “mengapa”, tetapi menyatakan “aku percaya”.
Ayat 17 melukiskan keadaan yang sangat sulit:
• pohon ara tidak berbunga,
• pokok anggur tidak berbuah,
• hasil pohon zaitun mengecewakan,
• ladang tidak menghasilkan makanan,
• kambing domba lenyap dari kandang,
• lembu sapi tidak ada di kandang.
Bagi bangsa Yehuda, ini bukan sekadar gambaran puitis, tetapi realitas hidup. Semua itu adalah sumber makanan dan sumber penghidupan mereka. Jika semua itu gagal, berarti ada kelaparan, kemiskinan, dan penderitaan.
Dengan kata lain, Habakuk sedang berkata: “Sekalipun semua sumber kehidupan kami runtuh, sekalipun masa depan tampak gelap, sekalipun kami tidak melihat harapan secara manusiawi…”
Tetapi Habakuk tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan di ayat 18:
"Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku."
Inilah inti iman Habakuk. Sukacita Habakuk tidak bergantung pada hasil panen, tetapi pada Tuhan. Harapan Habakuk tidak bergantung pada keadaan ekonomi, tetapi pada Allah yang menyelamatkan. Inilah iman yang matang: iman yang tidak diikat oleh situasi, tetapi oleh relasi dengan Tuhan.
Jemaat yang dikasihi Tuhan, Habakuk dan bangsa Yehuda mengalami penghukuman: mereka dibuang ke Babel, tanah perjanjian dirusak, kehidupan porak-poranda.
Mereka kehilangan banyak hal: tanah, kebebasan, keamanan, dan masa depan yang pasti. Namun justru di tengah penderitaan itulah mereka belajar mengenal Tuhan dengan cara yang baru.
Habakuk menggambarkan Allah sebagai “Tuhan, Gunung Batuku, kekuatanku” (ayat 19). Gunung batu melambangkan sesuatu yang kokoh, tidak tergoyahkan, dan dapat diandalkan. Artinya, ketika semua yang lain runtuh, Tuhan tetap teguh. Ketika dunia tidak bisa diandalkan, Tuhan tetap setia.
Pemulihan relasi dengan Tuhan inilah yang membuat umat bisa kembali bersyukur. Mereka tidak memuji Tuhan karena keadaan sudah berubah, tetapi karena Tuhan tidak berubah. Mereka tidak bersukacita karena situasi membaik, tetapi karena Tuhan tetap menjadi Juruselamat mereka.
Ini mengajarkan kita bahwa iman bukanlah soal menghindari penderitaan, tetapi soal menemukan Tuhan di tengah penderitaan. Iman bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi hidup dengan Tuhan di dalam masalah.
Jemaat yang dikasihi Tuhan, Firman Tuhan hari ini sangat relevan dengan kehidupan kita. Kita hidup di dunia yang penuh ketidakpastian: ekonomi bisa goyah, kesehatan bisa terganggu, relasi bisa rusak, pekerjaan bisa hilang, rencana bisa gagal.
Kita bisa mengalami “pohon ara yang tidak berbunga” dalam hidup kita:
• usaha yang tidak berhasil,
• keluarga yang penuh konflik,
• penyakit yang tak kunjung sembuh,
• anak yang memberontak,
• atau pelayanan yang terasa berat.
Dalam situasi seperti itu, kita punya dua pilihan: mengeluh atau memuji Tuhan. Habakuk mengajarkan kita untuk memilih yang kedua: memuji Tuhan bukan karena keadaan baik, tetapi karena Tuhan baik.
Mengucap syukur bukan berarti kita menutup mata terhadap penderitaan. Habakuk tidak menyangkal kenyataan pahit. Ia dengan jujur berkata bahwa pohon tidak berbunga dan ladang tidak menghasilkan. Tetapi ia memilih untuk tidak berhenti pada kenyataan itu. Ia melangkah lebih jauh kepada iman: “Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN.”
Mengucap syukur juga bukan berarti kita pura-pura kuat. Mengucap syukur berarti kita mengakui kelemahan kita, tetapi menyerahkannya kepada Tuhan yang kuat. Syukur bukan penyangkalan, melainkan pengakuan bahwa Tuhan lebih besar daripada keadaan kita.
Jemaat yang dikasihi Tuhan, Sikap ini hanya mungkin jika kita benar-benar mengenal Tuhan sebagai Juruselamat. Habakuk berkata, “Allah yang menyelamatkan aku.”
Artinya, pusat sukacitanya bukan pada berkat, tetapi pada keselamatan. Yang paling penting bagi Habakuk bukanlah panen yang melimpah, tetapi relasi yang utuh dengan Allah.
Di dalam Perjanjian Baru, kita melihat puncak dari keselamatan itu dalam Yesus Kristus. Dalam Kristus, kita melihat bahwa Allah tidak menjanjikan hidup tanpa penderitaan, tetapi Ia menjanjikan penyertaan-Nya di tengah penderitaan. Kristus sendiri menderita, disalibkan, dan mati, tetapi melalui penderitaan itu lahir keselamatan bagi manusia.
Salib mengajarkan kita bahwa kasih Allah tidak hilang ketika kita menderita. Justru di salib kita melihat bahwa Allah hadir di tengah penderitaan manusia. Karena itu, tidak ada kondisi hidup yang memisahkan kita dari kasih karunia Tuhan dalam Yesus Kristus.
Rasul Paulus berkata, “Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus” (Roma 8:39). Baik kegagalan maupun keberhasilan, baik kesedihan maupun kegembiraan, tidak akan memisahkan kita dari Tuhan.
Inilah dasar kita mengucap syukur dalam segala keadaan. Bukan karena kita selalu mengerti jalan Tuhan, tetapi karena kita percaya pada kasih-Nya. Bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena Tuhan selalu setia.
Jemaat yang dikasihi Tuhan, Tema kita hari ini berkata: “Apapun kondisimu, pujilah Dia!” Ini bukan perintah kosong, tetapi undangan iman. Tuhan mengundang kita untuk melihat hidup bukan hanya dari apa yang tampak, tetapi dari siapa yang menyertai kita.
Ketika kita memuji Tuhan di tengah kesulitan, pujian itu bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kepercayaan. Ketika kita bersyukur di tengah duka, syukur itu bukan kepura-puraan, tetapi pengakuan bahwa Tuhan masih bekerja. Ketika kita tetap setia dalam penderitaan, kesetiaan itu adalah kesaksian iman yang hidup.
Habakuk mengajarkan bahwa sukacita sejati tidak berasal dari situasi, tetapi dari Tuhan. Dunia memberi sukacita yang tergantung pada keadaan. Tetapi Tuhan memberi sukacita yang bertahan di tengah keadaan apa pun.
Karena itu, mari kita belajar berkata seperti Habakuk:
• Sekalipun usaha gagal, aku tetap percaya.
• Sekalipun tubuh lemah, aku tetap berharap.
• Sekalipun masa depan tampak gelap, aku tetap memuji Tuhan.
Inilah iman yang memuliakan Tuhan. Iman yang tidak bersyarat. Iman yang tidak berkata, “Aku percaya jika Tuhan memberkati aku,” tetapi berkata, “Aku percaya karena Tuhan adalah Tuhan.”
Jemaat yang dikasihi Tuhan, Hidup kita berada dalam tangan Tuhan. Tidak ada keberhasilan yang membuat kita lebih dikasihi Tuhan, dan tidak ada kegagalan yang membuat kita kurang dikasihi Tuhan. Kasih Tuhan tidak berubah oleh keadaan hidup kita.
Karena itu, marilah kita menjadi umat yang tetap bersyukur:
• bersyukur dalam kelimpahan,
• bersyukur dalam kekurangan,
• bersyukur dalam kesehatan,
• bersyukur dalam sakit,
• bersyukur dalam suka,
• bersyukur dalam duka.
Bukan karena semua itu menyenangkan, tetapi karena Tuhan menyertai kita di dalam semuanya.
Kiranya firman Tuhan hari ini meneguhkan iman kita, sehingga dalam setiap musim kehidupan kita dapat berkata: "Tuhan adalah Gunung Batuku dan Juruselamatku.
Apapun kondisiku, aku akan memuji Dia." Amin.
Doa : Ya Tuhan yang setia, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengajar kami tetap memuji Engkau dalam segala keadaan. Kuatkan iman kami saat menghadapi suka maupun duka, agar hidup kami selalu bersandar kepada-Mu. Jadikan kami umat yang setia bersyukur dan memuliakan nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas