Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Materi Khotbah 1 Korintus 1:10–17, Seia Sekata, Erat Bersatu Dan Sehati Sepikir

Clavel Lukas • Kamis, 29 Januari 2026 | 17:15 WIB

Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Surat 1 Korintus ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 55 M ketika ia berada di Efesus.

Surat ini ditujukan kepada jemaat di Korintus, sebuah kota besar, kaya, dan berpengaruh, namun juga dikenal dengan kehidupan moral yang rusak dan persaingan sosial yang kuat.

Korintus adalah pusat perdagangan, budaya, dan filsafat, tempat berbagai pandangan hidup bertemu dan sering bertabrakan.

Jemaat Korintus terdiri dari orang-orang dengan latar belakang yang sangat beragam: ada orang Yahudi, Yunani, budak, orang merdeka, orang miskin, dan orang kaya.

Baca Juga: MTPJ GMIM 1–7 Februari 2026, 1 Korintus 1:10–17 Seia Sekata, Erat Bersatu Dan Sehati Sepikir

Keberagaman ini seharusnya menjadi kekayaan, tetapi justru menjadi sumber perpecahan.

Jemaat mulai terpecah dalam kelompok-kelompok yang saling membanggakan diri berdasarkan tokoh rohani yang mereka kagumi: Paulus, Apolos, Kefas, bahkan ada yang merasa paling rohani dengan mengatakan, “Aku golongan Kristus.”

Paulus melihat bahwa masalah utama jemaat Korintus bukan kurangnya karunia, melainkan hilangnya kesatuan.

Karena itu, sebelum membahas masalah-masalah lain, Paulus terlebih dahulu menegaskan pentingnya hidup seia sekata, erat bersatu, dan sehati sepikir.

Baca Juga: Renungan 1 Korintus 1:10–17, Seia Sekata, Erat Bersatu, dan Sehati Sepikir

PEMBAHASAN AYAT PER AYAT

Ayat 10

“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.”

Paulus membuka bagian ini dengan kata “menasihatkan”, yang dalam bahasa Yunani parakalō, berarti memanggil dengan sungguh-sungguh, mendesak dengan kasih.

Ini bukan perintah dingin, tetapi seruan pastoral dari seorang gembala yang mengasihi jemaatnya.

Dasar dari nasihat ini sangat penting: “demi nama Tuhan kita Yesus Kristus.”

Artinya, kesatuan jemaat bukan soal etika sosial atau demi kenyamanan bersama, tetapi tanggung jawab iman di hadapan Kristus sendiri. Memecah-belah gereja berarti mencederai nama Kristus.

Tiga frasa kunci muncul di ayat ini:

  1. Seia sekata – satu pengakuan iman, satu Injil, satu kebenaran

  2. Jangan ada perpecahan – kata schisma menunjuk pada sobekan, retakan yang memisahkan satu tubuh

  3. Erat bersatu dan sehati sepikir – bukan keseragaman, tetapi keselarasan dalam Kristus

Paulus tidak menuntut semua orang berpikir sama dalam segala hal, tetapi memiliki pusat yang sama, yaitu Kristus.

Kesatuan Kristen lahir dari salib, bukan dari kesamaan selera, latar belakang, atau kepentingan.

Gereja sering terpecah bukan karena ajaran sesat, tetapi karena perbedaan kecil yang dibesarkan oleh ego.

Firman ini menegur kita: apakah kita lebih membela pendapat pribadi atau nama Kristus?

Ayat 11

“Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan tentang kamu oleh orang-orang Kloe, bahwa ada perselisihan di antara kamu.”

Paulus menyebut sumber informasinya secara terbuka. Ini menunjukkan bahwa masalah perpecahan bukan gosip, tetapi realitas yang serius dan nyata.

Kata “perselisihan” (eris) menunjuk pada pertengkaran yang berulang, sikap saling menyerang, dan konflik yang tidak diselesaikan.

Ini bukan perbedaan sehat, tetapi pertikaian yang merusak persekutuan.

Paulus tidak menutup mata terhadap konflik. Ia mengajarkan bahwa kasih tidak berarti membiarkan dosa, termasuk dosa perpecahan. Konflik yang dibiarkan akan:

Banyak gereja enggan membicarakan konflik demi “damai semu”. Padahal damai tanpa kebenaran bukan damai sejati.

Firman ini mengajar kita untuk menyelesaikan masalah secara rohani, bukan menyimpannya dalam hati.

Ayat 12

“Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus, aku dari golongan Apolos, aku dari golongan Kefas, dan aku dari golongan Kristus.”

Ayat ini mengungkap akar terdalam perpecahan: identitas yang salah. Jemaat membangun jati diri bukan pada Kristus, melainkan pada tokoh rohani.

Paulus dan Apolos adalah pelayan Tuhan. Kefas (Petrus) adalah rasul utama. Tetapi ketika pelayan Tuhan dijadikan pusat, gereja kehilangan arah.

Ironisnya, kelompok yang berkata “aku dari golongan Kristus” pun ditegur.

Kemungkinan mereka merasa paling rohani, paling benar, dan merendahkan yang lain. Bahkan klaim rohani pun bisa menjadi sumber kesombongan.

Ketika Kristus dipakai sebagai slogan untuk meninggikan diri, itu bukan iman sejati, melainkan kesombongan rohani.

Denominasi, kelompok pelayanan, bahkan gaya ibadah bisa menjadi identitas yang memecah.

Firman ini mengingatkan: kita bukan milik tokoh, aliran, atau kelompok—kita milik Kristus.

Ayat 13

“Adakah Kristus terbagi-bagi? Apakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?”

Paulus mengajukan tiga pertanyaan retoris yang sangat tajam. Jawabannya jelas: tidak!

Salib menjadi pusat argumentasi Paulus. Hanya Kristus yang mati bagi jemaat. Karena itu, tidak ada manusia yang layak menggantikan posisi-Nya.

Secara teologis, ayat ini menegaskan:

Ketika gereja terpecah, sesungguhnya kita sedang bertindak seolah-olah Kristus bisa dibagi-bagi. Padahal tubuh Kristus adalah satu.

Ayat 14–16

“Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku tidak membaptis seorang pun di antara kamu selain Krispus dan Gayus…”

Paulus tidak merendahkan baptisan, tetapi menolak penyalahgunaan baptisan sebagai alat kebanggaan rohani.

Ia bersyukur bukan karena baptisan tidak penting, melainkan karena:

Paulus menunjukkan sikap pemimpin sejati: rela berada di belakang agar Kristus dimuliakan.

Pelayanan gereja akan sehat jika para pelayan tidak mencari pengikut, pujian, atau pengaruh, melainkan mengarahkan jemaat kepada Kristus.

Ayat 17

“Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil, dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.”

Ini adalah klimaks teologis dari perikop ini. Paulus menegaskan kembali panggilannya: memberitakan Injil salib.

Hikmat manusia—retorika, filsafat, kepandaian—bisa mengesankan, tetapi tidak menyelamatkan. Jika Injil dikaburkan oleh kehebatan manusia, maka kuasa salib menjadi hilang.

Perpecahan dalam gereja adalah tanda bahwa salib tidak lagi menjadi pusat.

Gereja dipanggil bukan untuk tampil paling hebat, tetapi paling setia kepada Injil. Kesatuan jemaat adalah bukti bahwa salib masih berkuasa di tengah gereja.

PENUTUP

Saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan,
melalui bacaan 1 Korintus 1:10–17 kita diingatkan bahwa kesatuan bukan pilihan tambahan dalam hidup bergereja, tetapi inti dari iman Kristen itu sendiri.

Paulus tidak berbicara tentang kesatuan yang dibuat-buat, bukan pula kesatuan karena takut konflik, melainkan kesatuan yang lahir dari pengenalan yang benar akan Kristus dan karya salib-Nya.

Tema “Seia Sekata, Erat Bersatu, dan Sehati Sepikir” mengajak kita untuk melihat kembali: apa yang menjadi pusat hidup dan persekutuan kita?

Apakah Kristus sungguh menjadi pusat, ataukah kepentingan pribadi, kelompok, jabatan, ego, dan perasaan kita yang diam-diam mengambil alih posisi itu?

Paulus dengan tegas mengatakan bahwa Kristus tidak terbagi-bagi. Jika Kristus satu, maka tubuh-Nya pun harus satu.

Perpecahan dalam gereja bukan hanya persoalan hubungan antar manusia, tetapi persoalan rohani yang serius, karena perpecahan berarti kita sedang menggeser salib dari pusat kehidupan bersama.

Kesatuan yang dimaksud Alkitab bukan berarti semua orang harus sama pendapat, sama selera, atau sama latar belakang.

Kesatuan Kristen adalah kesatuan dalam perbedaan, tetapi memiliki iman yang sama, Injil yang sama, dan tujuan yang sama, yaitu memuliakan Kristus.

Makna Seia Sekata

Seia sekata berarti satu suara dalam iman. Kita boleh berbeda pandangan dalam hal-hal teknis, tetapi tidak berbeda dalam pengakuan iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Ketika Injil menjadi dasar, maka perbedaan tidak lagi menjadi alasan perpecahan.

Makna Erat Bersatu

Erat bersatu berarti terikat satu sama lain dalam kasih. Ikatan ini bukan karena kepentingan, bukan karena kesamaan suku atau kelompok, melainkan karena kita semua telah ditebus oleh darah Kristus yang sama.

Orang yang sungguh mengerti salib tidak akan mudah memutuskan persekutuan.

Makna Sehati Sepikir

Sehati sepikir berarti memiliki kerendahan hati untuk mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Ini menuntut kedewasaan rohani: rela mengalah, mau mendengar, dan siap dikoreksi demi kebaikan tubuh Kristus.

IMPLIKASI 

Firman Tuhan ini menantang kita untuk bercermin dan bertanya dengan jujur:

  1. Apakah saya menjadi pembawa damai atau pembawa perpecahan?
    Lewat kata-kata, sikap, dan tindakan, apakah saya membangun atau justru merusak persekutuan?

  2. Apakah saya lebih setia kepada Kristus atau kepada kelompok tertentu?
    Ketika kepentingan kelompok bertentangan dengan kebenaran Injil, di pihak mana saya berdiri?

  3. Apakah saya bersedia merendahkan hati demi kesatuan?
    Atau saya merasa selalu benar dan sulit meminta maaf?

Firman Tuhan mengingatkan bahwa kesatuan tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi harus diperjuangkan dengan kasih, doa, dan kerendahan hati.

AJAKAN 

Karena itu, melalui renungan ini, kita diajak:

Marilah kita mengingat bahwa dunia di sekitar kita sedang haus akan teladan kesatuan.

Gereja yang terpecah kehilangan kesaksiannya, tetapi gereja yang bersatu menjadi terang dan garam bagi dunia.

Saudara-saudara,
kesatuan bukanlah hasil kekuatan manusia, tetapi buah dari hidup yang terus melekat pada salib Kristus.

Ketika kita hidup di bawah bayang-bayang salib, tidak ada lagi alasan untuk meninggikan diri, karena semua kita sama-sama penerima anugerah.

Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk:

sehingga melalui kehidupan dan persekutuan kita, nama Kristus dimuliakan dan Injil diberitakan dengan nyata.

Amin.

Editor : Clavel Lukas
#korintus #MTPJ #khotbah #GMIM #Renungan GMIM #Renungan