Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Minggu 8 Februari 2026, Bacaan I Yesaya 58:7-10, Bacaan II 1 Korintus 2:1-5, Bacaan Injil Matius 5:13-16

Fandy Gerungan • Kamis, 5 Februari 2026 | 09:07 WIB
Photo
Photo

Hari Minggu Biasa ke V (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Yesaya 58:7-10

supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.

Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,

apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 112:4-5,6-7,8a,9

Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil.

Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya.

Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya.

Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN.

Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya.

Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan.

Bacaan II 1 Korintus 2:1-5

Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu.

Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.

Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.

Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh,

supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Matius 5:13-16

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Sering kali kita membayangkan iman sebagai sesuatu yang luhur, indah, dan penuh kata-kata rohani. Namun bacaan hari ini dengan lembut menampar kesalahpahaman itu.

Iman ternyata bukan pertama-tama soal seberapa fasih kita berbicara tentang Tuhan, melainkan seberapa nyata kehadiran Tuhan terasa lewat hidup kita.

Melalui Yesaya, kita diajak melihat bahwa relasi dengan Allah tidak bisa dipisahkan dari relasi dengan sesama. Ibadah yang sejati tidak berhenti di altar atau doa panjang, tetapi berlanjut di meja makan orang lapar, di rumah mereka yang tersisih, dan dalam sikap kita terhadap saudara sendiri.

Ketika kepedulian menjadi nyata, saat itulah hidup seseorang mulai memancarkan terang. Terang itu bukan dibuat-buat, melainkan muncul secara alami karena kasih dijalankan, bukan sekadar dibicarakan.

Menariknya, bacaan kedua menegaskan bahwa kekuatan iman tidak bersumber dari kehebatan manusia. Paulus justru datang dalam keterbatasan, tanpa kemegahan kata-kata. Ia sadar bahwa iman yang kokoh bukan dibangun di atas kecerdasan retorika, tetapi pada daya Allah yang bekerja diam-diam.

Ini menjadi pengingat bahwa kita tidak perlu menunggu sempurna, kuat, atau hebat untuk menjadi saksi Kristus. Justru dalam kelemahan dan kejujuran, kuasa Tuhan bisa bekerja lebih jelas.

Injil kemudian memberi identitas yang sangat berani: kita dipanggil menjadi garam dan terang. Garam tidak terlihat mencolok, namun tanpanya makanan hambar. Terang tidak berisik, tetapi sanggup mengusir gelap.

Artinya, kesaksian iman bukan tentang tampil menonjol, melainkan tentang memberi rasa dan arah bagi dunia sekitar. Ketika hidup kita kehilangan kepedulian, kejujuran, dan kasih, iman pun kehilangan daya gunanya.

Renungan hari ini mengajak kita bercermin: apakah iman kita masih hidup dan memberi rasa?. Apakah kehadiran kita membawa terang, atau justru menambah gelap melalui sikap menghakimi, acuh tak acuh, dan egoisme?.

Tuhan tidak meminta kita menjadi sempurna, tetapi menjadi nyata—nyata dalam kasih, dalam kepedulian, dan dalam perbuatan baik yang lahir dari hati yang tulus.

Semoga hari ini kita berani menjadi terang yang sederhana namun setia, garam yang mungkin tak terlihat, tetapi sungguh memberi makna bagi sesama dan memuliakan Allah melalui hidup kita. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan