Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Pemuda, GPIB, Sabtu, 7 Februari 2026, Yakobus 4:13-15 Lakukanlah Yang Baik Bila Kita Tahu itu Baik

Alfianne Lumantow • Kamis, 5 Februari 2026 | 18:34 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Yakobus 4:13–15
Tema: LAKUKANLAH YANG BAIK BILA KITA TAHU ITU BAIK

“Jadi sekarang, hai kamu yang berkata : “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung.” (Yakobus 4:13)

Sobat pemuda yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Sebagai anak muda, kita adalah generasi yang penuh dengan rencana.

Kita merencanakan masa depan: mau kuliah di mana, mau kerja apa, mau buka usaha apa, mau menikah dengan siapa, mau sukses di usia berapa.

Hidup pemuda adalah hidup yang penuh target dan mimpi. Tidak salah punya rencana. Tuhan tidak melarang kita merancang masa depan. Yang menjadi masalah adalah: apakah Tuhan dilibatkan dalam semua rencana itu?

Suatu kali, ada seorang pemuda Kristen yang berkata dalam ibadah pemuda, “Mengapa kita harus melakukan hal yang kita tahu itu baik?” Pertanyaan ini kelihatannya sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam.

Karena sering kali kita tahu mana yang baik, mana yang benar, mana yang sesuai kehendak Tuhan, tetapi kita tidak melakukannya. Kita tahu harus jujur, tetapi kita masih berbohong. Kita tahu harus berdoa, tetapi kita malas.

Kita tahu harus mengampuni, tetapi kita memilih menyimpan dendam. Kita tahu harus melibatkan Tuhan, tetapi kita berjalan sendiri. Firman Tuhan hari ini melalui Yakobus 4:13–15 menegur cara hidup seperti itu.

Hidup Manusia Penuh Rencana, Tetapi Terbatas
Yakobus menulis: “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu dan tinggal di sana setahun dan berdagang serta mendapat untung.” (ayat 13)

Ayat ini menggambarkan manusia yang penuh dengan perhitungan:
– sudah tahu mau ke mana,
– sudah tahu mau berapa lama,
– sudah tahu mau kerja apa,
– bahkan sudah membayangkan untungnya.

Bukankah ini sangat mirip dengan kehidupan pemuda zaman sekarang?
Kita menyusun rencana lima tahun ke depan, sepuluh tahun ke depan, bahkan sampai pensiun. Kita membuat target hidup seakan-akan kita memegang kendali penuh atas masa depan.

Namun Yakobus melanjutkan: “Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” (ayat 14)

Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup manusia itu rapuh dan terbatas. Kita tidak tahu apa yang terjadi besok. Kita tidak tahu apakah rencana kita akan berjalan lancar atau tidak.

Kita tidak tahu apakah kita masih hidup tahun depan atau tidak. Hidup ini seperti uap: kelihatan sebentar, lalu hilang.

Ini bukan untuk menakut-nakuti kita, tetapi untuk menyadarkan kita: kita bukan Tuhan. Kita tidak berdaulat atas hidup kita sendiri.

Kesombongan Rohani: Merencanakan Hidup Tanpa Tuhan
Masalah utama yang disorot Yakobus bukan soal merencanakan masa depan, tetapi soal merencanakan masa depan tanpa Tuhan.

Ia berkata: “Sebenarnya kamu harus berkata: Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” (ayat 15)

Ini bukan sekadar kalimat rohani yang diucapkan di mulut. Ini adalah sikap hati. Artinya:
– Tuhan diakui sebagai pemilik hidup,
– Tuhan diakui sebagai penentu masa depan,
– Tuhan diakui sebagai pemimpin arah hidup.

Ketika seseorang membuat rencana tanpa melibatkan Tuhan, ia sedang berkata dalam hatinya: “Aku bisa mengatur hidupku sendiri tanpa Tuhan.” Inilah yang disebut Yakobus sebagai kesombongan.

Sebagai pemuda, kita sering jatuh dalam bentuk kesombongan ini:
– merasa pintar, jadi tidak perlu bertanya pada Tuhan,
– merasa kuat, jadi tidak perlu bergantung pada Tuhan,
– merasa masih muda, jadi menunda taat pada Tuhan.

Padahal, ketika kita tahu bahwa melibatkan Tuhan itu baik, tetapi kita tidak melakukannya, firman Tuhan berkata: itu dosa.

Dosa Bukan Hanya Melakukan yang Jahat, Tapi Tidak Melakukan yang Baik

Yakobus 4:17 berkata dengan sangat jelas: “Jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”

Biasanya kita mengartikan dosa sebagai:
– mencuri,
– berbohong,
– berzina,
– mabuk,
– iri hati,
– membenci.

Semua itu memang dosa. Tetapi firman Tuhan menambahkan satu hal penting:
tidak melakukan yang baik juga adalah dosa.
Misalnya:
– kita tahu harus berdoa, tapi tidak berdoa,
– kita tahu harus minta maaf, tapi gengsi,
– kita tahu harus menolong, tapi cuek,
– kita tahu harus melibatkan Tuhan, tapi memilih jalan sendiri.
Dosa bukan hanya tentang perbuatan jahat, tetapi juga tentang ketaatan yang ditunda.

Banyak pemuda tidak hidup dalam dosa besar, tetapi hidup dalam dosa kelalaian: tahu yang benar, tetapi tidak melakukannya.

Relevansi bagi Pemuda: Masa Depan dan Kehendak Tuhan

Hari ini, firman Tuhan berbicara sangat relevan bagi pemuda, karena pemuda sedang berada dalam masa menentukan arah hidup:
– pendidikan,
– pekerjaan,
– usaha,
– pasangan hidup,
– pelayanan.

Semua ini membutuhkan keputusan. Dan keputusan-keputusan ini tidak boleh dilepaskan dari Tuhan.

Ketika kita memilih jurusan hanya berdasarkan gengsi, tanpa doa, itu berarti kita tahu bahwa melibatkan Tuhan itu baik, tetapi kita tidak melakukannya.
Ketika kita memilih pasangan hanya karena perasaan, tanpa mempertimbangkan iman dan karakter, itu berarti kita tahu yang baik, tetapi tidak melakukannya.
Ketika kita memilih pekerjaan hanya karena gaji, tanpa peduli apakah itu menjauhkan kita dari Tuhan, itu berarti kita tahu yang baik, tetapi tidak melakukannya.

Firman Tuhan hari ini mengajak kita: jangan hanya pintar merencanakan, tetapi bijak melibatkan Tuhan.

Melibatkan Tuhan: Apa Artinya?
Mungkin kita bertanya:
“Bagaimana caranya melibatkan Tuhan dalam rencana hidup?”

Pertama, melalui doa.
Doa bukan formalitas, tetapi penyerahan hidup. Kita berkata:
“Tuhan, ini rencanaku, tetapi kehendak-Mu yang jadi.”

Kedua, melalui firman Tuhan.
Jangan ambil keputusan yang bertentangan dengan firman. Tuhan tidak mungkin membimbing kita ke jalan yang melanggar kehendak-Nya.

Ketiga, melalui sikap rendah hati.
Rendah hati berarti siap dikoreksi, siap diubah, siap diarahkan.

Keempat, melalui komunitas rohani.
Tuhan sering berbicara melalui nasihat orang tua rohani, pendeta, dan sesama orang percaya.

Teladan Yesus: Melakukan yang Baik, Bukan Hanya Tahu yang Baik
Yesus adalah teladan sempurna tentang melakukan yang baik. Ia bukan hanya tahu kehendak Bapa, tetapi Ia melakukannya.
Yesus berkata: “Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku.”
Artinya, kehendak Allah bukan beban, tetapi kebutuhan hidup-Nya.

Yesus tahu jalan salib itu berat, tetapi Ia tetap melakukannya. Ia tahu mengasihi musuh itu sulit, tetapi Ia melakukannya. Ia tahu mengampuni itu mahal, tetapi Ia melakukannya. Karena itu, iman Kristen bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi tentang ketaatan.

Panggilan bagi Pemuda Gereja
Pemuda gereja dipanggil bukan hanya menjadi generasi yang tahu firman Tuhan, tetapi generasi yang hidup menurut firman Tuhan.

Bukan hanya berkata:
“Aku tahu itu baik,”
tetapi berkata:
“Aku mau melakukannya.”

Bukan hanya berkata:
“Aku percaya Tuhan,”
tetapi berkata:
“Aku menyerahkan rencanaku pada Tuhan.”

Ketika pemuda hidup seperti ini, gereja akan kuat. Ketika pemuda hidup seperti ini, dunia akan melihat kesaksian yang nyata. Ketika pemuda hidup seperti ini, masa depan akan diberkati.

Sobat pemuda yang terkasih, Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita dengan jelas:
mengetahui yang baik tetapi tidak melakukannya adalah dosa.

Kita tahu bahwa melibatkan Tuhan dalam hidup itu baik.
Kita tahu bahwa taat pada firman Tuhan itu baik.
Kita tahu bahwa hidup benar itu baik.
Sekarang pertanyaannya: apakah kita mau melakukannya?
Mari kita belajar berkata setiap hari:
“Tuhan, jika Engkau menghendakinya, aku akan hidup dan melakukan ini dan itu.”

Mari kita serahkan rencana studi, pekerjaan, jodoh, dan masa depan kita ke dalam tangan Tuhan. Mari kita memilih taat, bukan hanya tahu. Mari kita memilih melakukan yang baik, bukan hanya memahami yang baik.

Kiranya Roh Kudus menolong kita menjadi pemuda yang bukan hanya cerdas dalam pikiran, tetapi taat dalam tindakan. Pemuda yang tidak berjalan dengan kesombongan, tetapi dengan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Pemuda yang hidupnya memuliakan nama Tuhan. Amin.


Doa : Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Ajarlah kami melakukan yang baik yang sudah kami ketahui. Tundukkan kesombongan kami dan pimpin setiap rencana hidup kami sesuai kehendak-Mu. Beri kami hati taat, iman yang teguh, dan keberanian menyerahkan masa depan kami kepada-Mu. Pakailah kami menjadi berkat bagi keluarga, gereja, dan dunia. Lindungi langkah kami dari pilihan yang salah selalu. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB