Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Sabtu 14 Februari, Bacaan I 1 Raja-Raja 12:26-32;13:33-34, Bacaan Injil Markus 8:1-10

Fandy Gerungan • Senin, 9 Februari 2026 | 10:28 WIB
Photo
Photo

Perayaan Wajib St. Sirilius, St. Metodius (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I 1 Raja-Raja 12:26-32;13:33-34

Maka berkatalah Yerobeam dalam hatinya: "Kini mungkin kerajaan itu kembali kepada keluarga Daud.

Jika bangsa itu pergi mempersembahkan korban sembelihan di rumah TUHAN di Yerusalem, maka tentulah hati bangsa ini akan berbalik kepada tuan mereka, yaitu Rehabeam, raja Yehuda, kemudian mereka akan membunuh aku dan akan kembali kepada Rehabeam, raja Yehuda."

Sesudah menimbang-nimbang, maka raja membuat dua anak lembu jantan dari emas dan ia berkata kepada mereka: "Sudah cukup lamanya kamu pergi ke Yerusalem. Hai Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir."

Lalu ia menaruh lembu yang satu di Betel dan yang lain ditempatkannya di Dan.

Maka hal itu menyebabkan orang berdosa, sebab rakyat pergi ke Betel menyembah patung yang satu dan ke Dan menyembah patung yang lain.

Ia membuat juga kuil-kuil di atas bukit-bukit pengorbanan, dan mengangkat imam-imam dari kalangan rakyat yang bukan dari bani Lewi.

Kemudian Yerobeam menentukan suatu hari raya pada hari yang kelima belas bulan kedelapan, sama seperti hari raya yang di Yehuda, dan ia sendiri naik tangga mezbah itu. Begitulah dibuatnya di Betel, yakni ia mempersembahkan korban kepada anak-anak lembu yang telah dibuatnya itu, dan ia menugaskan di Betel imam-imam bukit pengorbanan yang telah diangkatnya.

Sesudah peristiwa inipun Yerobeam tidak berbalik dari kelakuannya yang jahat itu, tetapi mengangkat pula imam-imam dari kalangan rakyat untuk bukit-bukit pengorbanan. Siapa yang mau saja, ditahbiskannya menjadi imam untuk bukit-bukit pengorbanan.

Dan tindakan itu menjadi dosa bagi keluarga Yerobeam, sehingga mereka dilenyapkan dan dipunahkan dari muka bumi.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 106:6-7a,19-20,21-22

Kami dan nenek moyang kami telah berbuat dosa, kami telah bersalah, telah berbuat fasik.

Nenek moyang kami di Mesir tidak mengerti perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib, tidak ingat besarnya kasih setia-Mu, tetapi mereka memberontak terhadap Yang Mahatinggi di tepi Laut Teberau.

Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan;

mereka menukar Kemuliaan mereka dengan bangunan sapi jantan yang makan rumput.

Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal yang besar di Mesir:

perbuatan-perbuatan ajaib di tanah Ham, perbuatan-perbuatan dahsyat di tepi Laut Teberau.

Bacaan Injil Markus 8:1-10

Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata:

"Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.

Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh."

Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?"

Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh."

Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak.

Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan.

Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul.

Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang.

Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ada satu godaan yang sangat manusiawi: rasa takut kehilangan. Takut kehilangan jabatan, pengaruh, rasa aman, atau pengakuan. Dari rasa takut itulah sering lahir keputusan-keputusan yang tampak masuk akal, tetapi pelan-pelan menjauhkan hati dari Tuhan.

Yerobeam adalah gambaran jelas dari hati yang dikuasai ketakutan. Ia tidak kehilangan Tuhan karena tidak mengenal-Nya, tetapi karena terlalu sibuk menjaga kekuasaannya. Demi mempertahankan posisi, ia memilih jalan pintas: menciptakan ibadah yang lebih mudah, lebih dekat, dan lebih sesuai dengan kepentingannya sendiri.

Iman yang seharusnya mempersatukan justru dimanipulasi agar orang tetap setia kepadanya, bukan kepada Tuhan. Perlahan, yang sakral menjadi alat politik, dan yang kudus berubah menjadi formalitas kosong.

Ironisnya, semua itu dibungkus dengan alasan “demi rakyat”. Namun ketika ibadah tidak lagi mengarah pada Tuhan, melainkan pada rasa aman palsu, di situlah kehancuran mulai bekerja secara diam-diam.

Dosa tidak selalu muncul dalam bentuk pemberontakan besar; kadang ia hadir sebagai kompromi kecil yang terus diulang.

Berbeda jauh dengan sikap Yesus dalam Injil. Ia tidak digerakkan oleh rasa takut kehilangan pengikut, melainkan oleh belas kasih. Ia melihat kebutuhan terdalam manusia, bukan hanya secara rohani, tetapi juga jasmani.

Orang banyak tidak dimanfaatkan untuk membesarkan nama-Nya; sebaliknya, merekalah yang diperhatikan dengan penuh kepedulian. Di tengah keterbatasan, Yesus tidak menciptakan ilusi atau jalan pintas.

Ia mengajak para murid untuk terlibat, mempersembahkan apa yang ada, sekecil apa pun itu, dan mempercayakan sisanya kepada karya Allah.

Di sini kita belajar satu hal penting: iman yang sejati tidak lahir dari manipulasi ketakutan, tetapi dari kepercayaan. Yerobeam mengandalkan rekayasa manusia untuk mengamankan masa depannya. Yesus justru mempercayakan segalanya pada kasih Bapa dan mengubah keterbatasan menjadi berkat yang berlimpah.

Renungan ini mengajak kita bercermin. Dalam hidup sehari-hari, berapa kali kita “menciptakan anak lembu emas” versi kita sendiri?. Mungkin bukan patung, tetapi ambisi, kenyamanan, gengsi, atau kontrol berlebihan.

Kita tetap berbicara tentang Tuhan, tetapi keputusan kita lebih digerakkan oleh rasa takut daripada iman. Kita memilih jalan yang mudah, asal aman, meski hati tahu bahwa itu menjauhkan kita dari kebenaran.

Yesus mengundang kita untuk percaya: bahwa ketika kita setia, Tuhan tidak akan membiarkan kita kekurangan. Ketika kita berani menyerahkan apa yang kita punya, Tuhan sanggup melipatgandakannya. Dan ketika kita memilih belas kasih daripada kepentingan diri, di situlah Kerajaan Allah sungguh hadir.

Semoga kita diberi keberanian untuk tidak memanipulasi iman demi rasa aman, tetapi memercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan yang selalu mencukupkan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan