Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Jumat, 13 Februari 2026, Yesaya 55:8-9 Kehendak Tuhan VS Kehendak Manusia

Alfianne Lumantow • Selasa, 10 Februari 2026 | 17:10 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Yesaya 55:8–9
Tema: KEHENDAK TUHAN VS KEHENDAK MANUSIA

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” (Yesaya 55:8)

Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, Ayat firman Tuhan hari ini adalah salah satu ayat yang paling sering dikutip, tetapi juga sering disalahpahami. Banyak orang mengutipnya saat menghadapi masalah besar: ketika sakit berat, ketika mengalami kegagalan, ketika usaha bangkrut, atau ketika rencana hidup tidak berjalan sesuai harapan.

Kalimat ini sering terdengar seperti kalimat penghiburan, tetapi di balik itu ada makna rohani yang sangat dalam: kehendak Tuhan tidak pernah sama dengan kehendak manusia, karena Tuhan melihat jauh melampaui apa yang bisa kita lihat.

Cara Manusia Melihat Hidup
Sebagai manusia, kita cenderung menilai hidup dari apa yang tampak di depan mata.
Jika sehat, kita berkata: Tuhan baik. Jika sakit, kita berkata: Tuhan tidak adil. Jika berhasil, kita berkata: Tuhan memberkati. Jika gagal, kita berkata: Tuhan meninggalkan.

Banyak orang, ketika menghadapi penderitaan berat—penyakit, kekalahan, kerugian besar—akhirnya menyerah. Mereka berkata, “Sudah nasib. Mau bagaimana lagi? Terima saja. Tinggal menunggu akhir hidup.” Sikap seperti ini membuat seseorang berhenti berharap, berhenti berjuang, dan berhenti percaya bahwa Tuhan masih bekerja.

Padahal firman Tuhan mengajarkan bahwa di dalam Tuhan selalu ada jalan keluar dan pengharapan yang baru. Bukan berarti masalah langsung hilang, tetapi cara Tuhan bekerja sering kali tidak sama dengan cara kita membayangkan solusi.

Manusia melihat masalah sebagai akhir cerita. Tuhan melihat masalah sebagai bagian dari proses.

Latar Belakang Firman Ini
Firman Yesaya 55:8–9 disampaikan kepada umat Israel yang hidup dalam pembuangan. Mereka kehilangan tanah, kehilangan kemerdekaan, kehilangan masa depan yang mereka bayangkan. Bagi mereka, hidup di pembuangan adalah tanda bahwa Tuhan sudah meninggalkan mereka.

Dalam pikiran mereka, jalan hidup mereka sudah buntu. Tidak ada lagi kemungkinan bangkit. Mereka merasa bahwa penderitaan ini adalah akhir segalanya.

Namun Tuhan datang melalui nabi Yesaya dan berkata: “Rancangan-Ku bukan rancanganmu, dan jalanmu bukan jalan-Ku.”

Artinya: Apa yang kamu anggap sebagai akhir, bagi Tuhan bisa menjadi awal.
Apa yang kamu anggap sebagai kegagalan, bagi Tuhan bisa menjadi proses pemulihan.
Apa yang kamu anggap sebagai hukuman, bagi Tuhan bisa menjadi jalan pertobatan dan pembaruan.

Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Justru umat-Nya yang sering meninggalkan Tuhan. Tetapi ketika umat itu mau kembali mencari Tuhan, mereka akan menemukan bahwa Tuhan tetap setia dan penuh kasih.

Perbedaan Kehendak Tuhan dan Kehendak Manusia
Firman Tuhan berkata: “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu.”

Ini menunjukkan jarak yang sangat jauh antara cara berpikir Tuhan dan cara berpikir manusia.

Kehendak manusia:
– ingin cepat
– ingin mudah
– ingin nyaman
– ingin sesuai keinginan sendiri

Kehendak Tuhan:
– membentuk karakter
– mendewasakan iman
– mengajar ketergantungan
– memulihkan hubungan dengan-Nya

Manusia ingin masalah segera selesai. Tuhan ingin iman kita bertumbuh.
Manusia ingin hidup tanpa penderitaan Tuhan ingin kita belajar berharap hanya kepada-Nya.
Bukan berarti Tuhan senang melihat kita menderita. Tetapi Tuhan lebih peduli pada keselamatan dan kehidupan kekal kita daripada kenyamanan sementara.

Bahaya Menyerah pada Cara Pandang Manusia
Jika kita hanya memakai cara pandang manusia, kita mudah jatuh pada dua sikap yang salah:
Pertama, putus asa.
Kita berkata: “Sudah tidak ada jalan. Tuhan tidak menolong.”
Padahal Tuhan sedang bekerja dengan cara yang belum kita pahami.

Kedua, menyalahkan Tuhan.
Kita berkata: “Tuhan tidak adil.”
Padahal sering kali kita sendiri yang menjauh dari kehendak-Nya.

Umat Israel dalam pembuangan merasa bahwa Tuhan sudah tidak peduli. Padahal kenyataannya, Tuhan tetap merencanakan masa depan mereka. Bahkan Tuhan menjanjikan pemulihan dan pengharapan baru.

Ini mengajarkan kita bahwa perasaan kita bukan ukuran kesetiaan Tuhan.
Keadaan kita bukan ukuran kasih Tuhan.
Tuhan tetap Tuhan, sekalipun hidup kita sedang gelap.

Ajakan untuk Meninggalkan Jalan Kita Sendiri
Firman Tuhan bukan hanya memberi penghiburan, tetapi juga memberi peringatan:
“Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya dan orang jahat meninggalkan rancangannya.”

Artinya: Jika kita ingin hidup dalam kehendak Tuhan, kita harus berani meninggalkan cara hidup yang lama. Kita harus berani melepaskan rancangan kita sendiri dan menyerahkan hidup kepada Tuhan.

Sering kali kita berkata: “Tuhan, ikutlah rencanaku.”
Padahal seharusnya kita berkata: “Tuhan, ajarlah aku mengikuti rencana-Mu.”

Hidup dalam kehendak Tuhan bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi hidup dalam ketaatan. Dan di dalam ketaatan itulah kita menemukan damai sejahtera.

Tuhan Tidak Pernah Kehilangan Kendali
Saudara-saudari, ayat ini menegaskan bahwa Tuhan tetap berdaulat atas hidup kita.
Sekalipun kita tidak mengerti, Tuhan mengerti. Sekalipun kita bingung, Tuhan tahu arah.
Sekalipun kita lemah, Tuhan tetap bekerja.

Apa yang kita anggap sebagai kekacauan, bagi Tuhan ada dalam rancangan. Apa yang kita anggap sebagai kegagalan, bagi Tuhan bisa menjadi kesaksian.

Karena itu, kita dipanggil bukan untuk mengerti semua rencana Tuhan, tetapi untuk percaya kepada-Nya.

Aplikasi bagi Hidup Kita
Apa arti firman ini bagi hidup kita hari ini?
1. Jangan cepat menyimpulkan bahwa Tuhan meninggalkan kita.
Kesulitan bukan tanda Tuhan tidak peduli.

2. Serahkan rencana hidup kita kepada Tuhan.
Pekerjaan, keluarga, masa depan, dan pelayanan kita ada dalam tangan-Nya.

3. Tetap berharap meskipun belum melihat jalan keluar.
Pengharapan bukan berdasarkan situasi, tetapi berdasarkan janji Tuhan.


4. Belajar taat, bukan hanya minta dimengerti.
Tuhan ingin kita percaya, bukan hanya memahami.

5. Datang dan cari Tuhan dalam pergumulan.
Bukan menjauh, tetapi mendekat.

Saudara-saudari yang terkasih, Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang bergumul berat: sakit, masalah keluarga, ekonomi, atau masa depan yang tidak jelas. Mungkin kita bertanya: “Tuhan, di mana Engkau?”

Firman Tuhan hari ini menjawab: “Rancangan-Ku bukan rancanganmu, dan jalanmu bukan jalan-Ku.”

Artinya: Apa yang sedang kita alami tidak pernah di luar kendali Tuhan. Apa yang kita tidak mengerti hari ini, suatu hari akan kita pahami dalam terang kasih-Nya.

Jangan menyerah pada cara pandang manusia. Jangan berhenti berharap. Jangan berhenti percaya.

Datanglah kepada Tuhan dan serahkan seluruh hidup kita kepada-Nya. Ia tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Ia tetap mengasihi dan merencanakan yang terbaik bagi masa depan kita.

Kiranya kita belajar berkata: “Tuhan, bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mulah yang jadi.”
Sebab di dalam kehendak Tuhan selalu ada hidup, pengharapan, dan keselamatan. Amin.

Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu yang mengingatkan kami bahwa kehendak-Mu lebih tinggi dari kehendak kami. Ajarlah kami untuk tidak menyerah pada keadaan, tetapi tetap percaya kepada rancangan-Mu yang terbaik. Kuatkan iman kami agar setia berjalan dalam kehendak-Mu dan hidup dalam pengharapan. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB