MANADOPOST.ID - Event tahunan Hari Persatuan Remaja (HPR) GMIM 2026 kian mendekati pelaksanaan.
Tahun ini, wilayah Kalawat Raya dan Airmadidi 2 dipercaya menjadi tuan rumah dengan rangkaian kegiatan yang akan berlangsung selama dua hari, 13 sampai 14 Februari 2026.
Dari total 15 kategori lomba yang dipertandingkan, Busana Gereja Putri menjadi salah satu yang menyedot perhatian dengan jumlah peserta mencapai 264 orang.
Ketua Panitia Busana Gereja Putri Diaken Handryan Christof Kawuwung SSTP MTrIP mengatakan persiapan lomba saat ini sudah hampir rampung.
“Puji Tuhan, persiapan kami sudah di angka 90 persen. Tinggal 10 persen finishing, termasuk pemantapan teknis di lapangan,” ujar Handryan saat diwawancarai.
Menurutnya, tingginya jumlah peserta sudah diprediksi sejak awal karena kategori Busana Gereja selalu mendapat antusiasme besar setiap tahun.
Tantangan utama panitia terletak pada pengaturan waktu dan teknis pelaksanaan.
“Yang paling menantang memang soal waktu. Mulai dari penataan dekorasi dan panggung, sampai distribusi akomodasi peserta. Semua harus tertata baik supaya peserta bisa tampil maksimal, tetap tertib, adil, dan sesuai jadwal,” katanya.
Handryan menegaskan, lomba Busana Gereja Putri tidak hanya menilai penampilan luar semata.
Ada pesan nilai iman yang ingin ditonjolkan lewat setiap penampilan di atas panggung.
“Yang ditampilkan bukan cuma soal cantik atau cara berbusana yang baik. Lewat penampilan itu, para remaja putri menunjukkan peran mereka dalam membangun iman sebagai remaja yang takut akan Tuhan,” tuturnya.
Sebagai tuan rumah, panitia juga menghadirkan pembaruan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Salah satunya dengan menambah jumlah pemenang. “Biasanya juara hanya sampai tiga besar. Tahun ini kami tambah menjadi 10 besar untuk tiap kategori, taruna dan madya. Jadi total ada 20 pemenang, dan semuanya akan mendapatkan hadiah, termasuk bingkisan dari sponsor,” jelas Handryan.
GMIM Diaspora Watutumou III yang dipercaya sebagai pelaksana lomba disebut Handryan memiliki kekompakan tim yang solid.
Ia memastikan setiap panitia sudah memahami tugas masing-masing. “Soal pembagian peran, semua sudah jalan sesuai jobdesk. Kami ingin memberikan pelayanan terbaik, bukan hanya untuk peserta, tapi juga untuk para official yang hadir,” ujarnya.
Melihat antusiasme peserta yang tinggi, Handryan berharap lomba ini memberi dampak lebih dari sekadar kompetisi.
“Tampilkan yang terbaik, karena ini bukan hanya perlombaan. Dari sini akan terlihat karakter remaja yang takut akan Tuhan. Mereka inilah fondasi gereja di masa depan,” katanya.
Secara pribadi, Handryan menargetkan pelaksanaan lomba berjalan lancar, adil, dan berkesan. “Target saya sederhana tapi penting. Semua berjalan baik, adil, dan jujur. Perut kenyang, hati senang, pikiran tenang. Supaya ketika peserta pulang ke jemaat masing-masing, mereka membawa kesan baik tentang GMIM Diaspora Watutumou III sebagai tuan rumah HPR GMIM 2026,” pungkasnya.
Meski waktu persiapan terbilang singkat, dukungan penuh dari panitia dan jemaat menjadi kekuatan utama.
Fokus penataan dekorasi dan panggung terus dimatangkan agar mampu menunjang penampilan busana peserta, sekaligus menyukseskan HPR GMIM 2026 sebagai ajang pemersatu remaja gereja. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos