Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Pemuda, GPIB, Jumat, 13 Februari 2026, Yesaya 55:6-7 Carilah Tuhan Jangan Yang Lain

Alfianne Lumantow • Kamis, 12 Februari 2026 | 11:39 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab : Yesaya 55:6–7
Tema : CARILAH TUHAN, JANGAN YANG LAIN!

“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.” (Yesaya 55:6–7)

Sobat muda yang dikasihi Tuhan, Firman Tuhan hari ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendesak: “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui.” Kalimat ini mengandung satu pesan besar: ada waktu, ada kesempatan, dan ada urgensi.

Artinya, kesempatan untuk mencari Tuhan tidak boleh disia-siakan. Jangan ditunda. Jangan diganti dengan hal lain.

Di zaman sekarang, kita hidup di tengah dunia yang penuh pilihan. Semua serba cepat, serba instan, serba mudah. Hiburan ada di genggaman. Media sosial tidak pernah tidur. Game, film, musik, konten viral, semua tersedia kapan saja.

Dunia menawarkan banyak hal yang kelihatannya menarik, menyenangkan, dan “tidak berbahaya”. Tetapi justru di situlah bahaya terbesar: ketika sesuatu terlihat manis, kita sering lupa dampaknya dalam jangka panjang.

Doa adalah cara terbaik kita mencari wajah Tuhan. Doa bukan sekadar rutinitas rohani, bukan hanya kewajiban sebelum tidur atau sebelum makan. Doa adalah perjumpaan dengan Allah yang hidup. Di dalam doa, kita membuka hati kita yang paling jujur di hadapan Tuhan.

Kita datang bukan dengan topeng, bukan dengan pencitraan, tetapi dengan kondisi apa adanya. Doa adalah ruang di mana kita berkata, “Tuhan, aku butuh Engkau.”

Namun kenyataannya, banyak anak muda hari ini tidak lagi menjadikan doa sebagai prioritas. Kita lebih cepat membuka HP daripada membuka Alkitab. Kita lebih rajin scroll media sosial daripada masuk ke ruang doa. Kita lebih sibuk membalas chat daripada mendengar suara Tuhan. Akhirnya, tanpa sadar, kita mulai mencari yang lain, bukan Tuhan.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan: “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat.” Ini berarti Tuhan itu dekat, tetapi kita harus merespons. Tuhan menyediakan diri-Nya, tetapi kita harus mencari. Tuhan membuka pintu, tetapi kita harus melangkah.

Dalam khotbah ini, kita diingatkan lewat sebuah kisah metafora: kisah kakek dan lebah. Kisah ini sederhana tetapi sangat dalam maknanya. Kakek itu awalnya melihat lebah di langit-langit rumahnya.
Ia tahu lebah bisa berbahaya, tetapi ia juga tahu lebah menghasilkan madu. Maka ia menunda mengusir lebah-lebah itu. Ia berpikir, “Biarlah dulu, toh ada madu manis yang bisa dinikmati.” Hari demi hari, sarang lebah semakin besar.
Jumlah lebah semakin banyak. Sampai akhirnya, berat sarang itu membuat kayu roboh, jutaan lebah menyerang, dan rumahnya rusak parah. Ia memang selamat, tetapi kerugiannya besar dan traumatis.

Sobat muda, kisah ini adalah gambaran hidup rohani kita. Lebah itu bisa kita ibaratkan sebagai kenikmatan dunia: hal-hal yang kelihatannya kecil, tidak berbahaya, bahkan menyenangkan. Awalnya cuma sedikit.
Awalnya cuma hiburan. Awalnya cuma “sekadar menikmati hidup”. Tetapi karena kita menunda mengendalikan diri, karena kita menunda mencari Tuhan, kenikmatan itu tumbuh menjadi kebiasaan, lalu menjadi ikatan, lalu menjadi beban yang meruntuhkan hidup rohani kita.

Banyak anak muda berkata, “Nanti saja saya serius dengan Tuhan.” “Nanti kalau sudah tua.”
“Nanti kalau sudah mapan.” “Nanti kalau sudah tidak sibuk.”
Masalahnya, hidup tidak pernah benar-benar tidak sibuk. Dunia tidak pernah kehabisan tawaran. Kalau kita menunda hari ini, kita akan menunda lagi besok. Dan lama-lama, kita lupa bagaimana caranya mencari Tuhan.

Sobat muda, kita hidup di zaman yang serba tersedia, seperti madu di rumah si kakek. Dunia menawarkan kenyamanan instan:
– Mau senang? Tinggal buka aplikasi.
– Mau lupa masalah? Tinggal nonton atau main game.
– Mau merasa diterima? Tinggal unggah foto dan tunggu like.

Semua itu tidak salah pada dirinya sendiri. Tetapi ketika semua itu menggantikan posisi Tuhan, di situlah masalah dimulai. Tanpa sadar, kita mempertaruhkan fondasi rohani kita demi kepuasan sesaat. Kita menukar persekutuan dengan Tuhan dengan hiburan dunia. Kita menukar doa dengan distraksi. Kita menukar firman Tuhan dengan opini dunia.

Firman Tuhan berkata: “Carilah TUHAN, jangan yang lain!”
Artinya: Jangan cari damai di dunia, carilah di Tuhan.
Jangan cari identitas di media sosial, carilah di Tuhan.
Jangan cari makna hidup di popularitas, carilah di Tuhan.
Jangan cari pelarian dari masalah di dosa, carilah di Tuhan.

Sering kali kita begitu asyik mengikuti arus dunia, sampai tanpa sadar menjauh dari Tuhan. Kita mulai merasa ibadah itu tidak penting. Kita mulai berpikir persekutuan pemuda itu bisa diganti dengan hal lain. Kita merasa doa itu membosankan. Kita lupa bertanya kepada Tuhan sebelum mengambil keputusan.

Ini persis seperti kakek yang menunda mengusir lebah. Kita menunda menyingkirkan kebiasaan duniawi. Kita berkata, “Tidak apa-apa sedikit.” Padahal sedikit demi sedikit, iman kita terkikis. Hati kita menjadi dingin. Kepekaan rohani kita melemah.

Firman Tuhan datang sebagai peringatan yang keras tetapi penuh kasih: “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui.” Kalimat ini menunjukkan bahwa ada waktu yang terbatas.

Bukan karena Tuhan berubah, tetapi karena hati manusia bisa menjadi keras. Semakin lama kita menunda, semakin sulit kita kembali.

Ayat 7 berkata: “Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya.”
Di sini ada tiga kata penting: meninggalkan, kembali, dan menerima pengampunan.

Pertama, meninggalkan jalan yang salah. Artinya, iman tidak cukup hanya percaya di pikiran. Harus ada perubahan arah hidup. Tidak bisa berkata, “Saya percaya Tuhan,” tetapi tetap hidup dengan pola dunia. Kita dipanggil untuk berani meninggalkan dosa, meninggalkan kebiasaan yang menjauhkan kita dari Tuhan, meninggalkan gaya hidup yang merusak iman.

Kedua, kembali kepada Tuhan. Kembali berarti pernah pergi. Banyak anak muda secara fisik masih ke gereja, tetapi secara hati sudah jauh dari Tuhan. Tuhan memanggil kita pulang. Bukan pulang ke gedung gereja saja, tetapi pulang ke hubungan dengan Dia.

Ketiga, menerima pengampunan. Kabar baiknya: Tuhan tidak menolak orang yang kembali. Ia tidak berkata, “Sudah terlambat.” Firman Tuhan berkata: “Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.” Tuhan bukan hanya mengampuni sedikit, tetapi melimpah. Artinya, sebesar apa pun kegagalan kita, kasih Tuhan lebih besar.

Sobat muda, tema khotbah ini berkata dengan tegas: Carilah Tuhan, jangan yang lain!
Karena hanya Tuhan yang bisa memberi:
– Damai yang tidak tergantung keadaan.
– Sukacita yang tidak bergantung pada like dan pujian.
– Identitas yang tidak goyah oleh penilaian manusia.
– Masa depan yang tidak rapuh oleh perubahan dunia.

Kalau kita terus mencari yang lain, kita akan kecewa. Dunia menjanjikan banyak, tetapi memberi sedikit. Tuhan menjanjikan sedikit, tetapi memberi jauh lebih banyak.

Jangan pernah menunda. Jangan biarkan kenikmatan dunia menjadi “sarang lebah” yang merusak fondasi iman kita. Selagi pintu rahmat Tuhan masih terbuka, segeralah mencari Dia. Selagi suara-Nya masih kita dengar, jawablah. Selagi hati kita masih bisa tersentuh, jangan keraskan hati.

Sobat muda, hidup ini bukan tentang siapa yang paling menikmati dunia, tetapi siapa yang paling dekat dengan Tuhan. Masa muda bukan hanya waktu untuk bersenang-senang, tetapi waktu terbaik untuk membangun fondasi iman.

Mari kita bertanya pada diri kita sendiri:
– Apa yang paling sering saya cari dalam hidup ini?
– Siapa yang paling saya kejar: Tuhan atau dunia?
– Waktu saya habis untuk apa: untuk Tuhan atau untuk yang lain?

Hari ini Tuhan berkata kepada kita: “Carilah Aku.”
Bukan nanti. Bukan kalau sudah siap. Bukan kalau sudah tidak sibuk. Tetapi sekarang.

Karena keselamatan tidak bisa ditunda. Pemulihan tidak bisa ditunda. Pertobatan tidak bisa ditunda. Risiko menunda terlalu besar. Seperti rumah si kakek yang runtuh karena menunda, demikian juga iman kita bisa runtuh kalau kita terus menunda mencari Tuhan.

Mari kita memilih dengan sadar:
Carilah Tuhan, jangan yang lain.
Carilah hadirat-Nya, bukan hanya hiburan.
Carilah kehendak-Nya, bukan hanya kenyamanan.
Carilah kasih-Nya, bukan hanya kesenangan.

Kiranya masa muda kita tidak dihabiskan untuk mencari yang fana, tetapi dipakai untuk mengenal Tuhan yang kekal. Kiranya hidup kita menjadi bukti bahwa mencari Tuhan tidak pernah sia-sia. Amin.


Doa : Ya Tuhan, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Ajari kami mencari Engkau lebih dari apa pun, meninggalkan jalan yang menjauhkan kami dari-Mu. Pulihkan hati kami, kuatkan iman kami, dan pimpin langkah masa muda kami agar hidup kami memuliakan nama-Mu. Tolong kami setia dalam doa dan firman, serta berani menolak godaan dunia setiap hari selamanya. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB