Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 17 Februari, Bacaan I Yakobus 1:12-18, Bacaan Injil Markus 8:14-21

Fandy Gerungan • Kamis, 12 Februari 2026 | 14:27 WIB
Photo
Photo

Minggu Biasa ke VI (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Yakobus 1:12-18

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.

Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.

Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat!

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 94:12-13a,14-15,18-19

Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu,

untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka, sampai digali lobang untuk orang fasik.

Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya;

sebab hukum akan kembali kepada keadilan, dan akan diikuti oleh semua orang yang tulus hati.

Ketika aku berpikir: "Kakiku goyang," maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku.

Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.

Bacaan Injil Markus 8:14-21

Kemudian ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu.

Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: "Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes."

Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: "Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti."

Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: "Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu?

Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi,

pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Dua belas bakul."

"Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Tujuh bakul."

Lalu kata-Nya kepada mereka: "Masihkah kamu belum mengerti?"

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara-saudari terkasih, hidup rohani kita sering kali seperti perjalanan di tengah danau. Kadang tenang, kadang berombak. Dalam perjalanan itu, ada dua hal besar yang kerap kita hadapi: pencobaan dari dalam diri dan kekhawatiran akan kebutuhan hidup.

Bacaan pertama mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah hidup tanpa ujian, melainkan kesetiaan di tengah ujian. Ketika seseorang mampu bertahan, ia sedang ditempa menjadi pribadi yang matang. Seperti besi yang dipanaskan untuk menjadi kuat, demikian pula hati manusia dibentuk lewat perjuangan.

Namun ada satu hal penting: jangan buru-buru menyalahkan Tuhan ketika kita jatuh. Godaan tidak berasal dari-Nya. Sering kali akar persoalan justru ada dalam diri kita sendiri keinginan yang tidak terarah.

Ambisi yang tak terkendali, ego yang dibiarkan tumbuh liar. Dari sanalah benih dosa mulai berkembang. Awalnya kecil, tampak sepele, tetapi jika dipelihara, ia bisa berbuah pahit.

Karena itu kita diajak untuk waspada terhadap gerak hati. Pencobaan biasanya tidak datang dengan wajah menakutkan. Ia datang dengan rayuan yang halus, dengan alasan yang terdengar masuk akal. Di sinilah kita perlu kejernihan batin.

Tuhan tidak menjerumuskan kita; justru Ia adalah sumber segala kebaikan. Apa pun yang sungguh membawa terang, damai, dan pertumbuhan berasal dari-Nya. Ia tidak berubah-ubah. Kasih-Nya tetap, setia, dan dapat diandalkan.

Dalam Injil, para murid tampak gelisah karena mereka lupa membawa roti. Pikiran mereka tertuju pada kekurangan yang sedang dihadapi. Mereka lupa bahwa bersama mereka ada Pribadi yang pernah mencukupkan ribuan orang dengan persediaan yang sangat terbatas. Kekhawatiran membuat mereka kehilangan ingatan akan karya Tuhan.

Bukankah kita juga sering begitu? Ketika menghadapi kekurangan, kita panik. Ketika masalah datang, kita fokus pada apa yang tidak kita punya. Kita lupa pada pertolongan Tuhan di masa lalu. Kita lupa bahwa Ia telah berkali-kali mencukupi dan menopang hidup kita.

Yesus memperingatkan tentang “ragi” yang bisa memengaruhi seluruh adonan. Sedikit saja pengaruh yang salah cara berpikir yang keliru, sikap hati yang tertutup dapat merusak keseluruhan hidup rohani kita. Ragi itu bisa berupa ketidakpercayaan, kemunafikan, atau ambisi duniawi. Jika tidak dijaga, ia perlahan-lahan menguasai hati.

Hari ini kita diajak untuk dua hal: menjaga hati dan mengingat karya Tuhan. Menjaga hati berarti jujur melihat keinginan-keinginan kita, menata ulang motivasi, dan tidak membiarkan dosa bertumbuh. Mengingat karya Tuhan berarti melatih diri untuk percaya bahwa Dia yang dulu menolong, akan tetap menolong.

Saudara-saudari, Tuhan telah menjadikan kita anak-anak-Nya, dipanggil untuk hidup dalam terang. Jangan biarkan hati kita menjadi tumpul karena kekhawatiran atau keinginan yang tak terkendali. Mintalah rahmat untuk bertahan dalam pencobaan dan rahmat untuk selalu mengingat kebaikan-Nya.

Semoga kita menjadi pribadi yang tahan uji, berhati jernih, dan penuh kepercayaan tidak mudah panik, tidak mudah tergoda, tetapi teguh dalam terang kasih Tuhan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan