Pembacaan Alkitab : Efesus 1:19–23
Tema : GEREJA YANG DIPENUHI KRISTUS
“Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” (Ef. 1:23)
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, Gereja telah hadir di tengah dunia selama ribuan tahun. Dalam perjalanan panjang itu, gereja tidak pernah lepas dari tantangan, pergumulan, bahkan kegagalan.
Gereja pernah dianiaya, pernah terpecah, pernah disalahgunakan, dan pernah kehilangan arah. Namun satu hal yang kita imani bersama: gereja tetap berdiri bukan karena kekuatan manusia, melainkan karena kuasa Allah yang memelihara dan menjaga persekutuan umat-ya.
Rasul Paulus dalam surat kepada jemaat di Efesus mengingatkan kita bahwa gereja bukanlah lembaga biasa. Gereja bukan sekadar organisasi keagamaan, bukan hanya bangunan fisik, dan bukan pula sekadar komunitas sosial.
Gereja adalah tubuh Kristus, dan Kristus adalah kepalanya. Lebih dari itu, Paulus mengatakan bahwa gereja adalah “kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” Ini adalah pernyataan iman yang sangat dalam dan menantang.
Apa artinya gereja dipenuhi Kristus? Artinya, kehidupan, gerak, arah, dan tujuan gereja seharusnya mencerminkan Kristus sendiri. Gereja ada bukan untuk memuliakan dirinya, melainkan untuk menghadirkan Kristus di tengah dunia. Gereja dipanggil menjadi perpanjangan tangan kasih dan kuasa Kristus bagi seluruh ciptaan.
Paulus menegaskan bahwa kuasa Allah yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati adalah kuasa yang sama yang bekerja di dalam gereja. Kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi sumber kuasa yang terus bekerja hingga hari ini.
Kuasa itu tidak hanya menyelamatkan secara pribadi, tetapi juga membentuk sebuah komunitas yang hidup—gereja—yang diutus untuk menghadirkan pemulihan.
Saudara-saudari, ini berarti gereja tidak boleh dipahami secara sempit sebagai tempat ibadah semata. Gereja bukan hanya ruang doa, ruang pujian, dan ruang pengajaran. Gereja adalah tubuh yang hidup, yang bergerak, yang merasakan penderitaan dunia, dan yang terpanggil untuk meresponsnya dengan kasih Kristus.
Namun kita harus jujur mengakui bahwa realitas sering kali tidak seindah ideal teologis. Banyak gereja, termasuk kita, lebih sibuk membangun gedung daripada membangun kepedulian.
Kita berfokus pada fasilitas yang nyaman, tetapi lupa pada tanggung jawab yang lebih luas. Kita beribadah di ruang yang sejuk dan bersih, tetapi sering tidak peduli bahwa udara di luar tercemar, sungai di sekitar kita kotor, dan bumi semakin rusak.
Kita menyebut Kristus sebagai Kepala Gereja, tetapi tubuh-Nya sering enggan terlibat dalam penderitaan dunia, termasuk penderitaan alam. Padahal, jika gereja sungguh dipenuhi Kristus, maka apa yang menjadi kepedulian Kristus seharusnya menjadi kepedulian gereja. Apa yang melukai ciptaan-Nya seharusnya juga melukai hati gereja.
Firman Tuhan berkata bahwa Kristus “memenuhi semua dan segala sesuatu.” Ini berarti tidak ada satu bagian pun dari kehidupan yang berada di luar perhatian Kristus.
Alam semesta, bumi, laut, hutan, udara, dan seluruh ciptaan berada dalam cakupan karya Kristus. Karena itu, iman Kristen tidak pernah terpisah dari tanggung jawab terhadap lingkungan.
Saudara-saudari, sering kali kita berpikir bahwa tugas gereja hanyalah menyelamatkan jiwa manusia. Tentu itu penting. Tetapi keselamatan dalam Alkitab tidak pernah berdiri sendiri. Keselamatan selalu membawa pemulihan: pemulihan relasi dengan Allah, dengan sesama, dan dengan seluruh ciptaan. Ketika relasi dengan alam rusak, itu adalah tanda bahwa pemulihan belum sepenuhnya kita hidupi.
Kuasa Kristus yang membangkitkan Yesus dari kematian adalah kuasa kehidupan. Kuasa itu melawan kehancuran, kematian, dan keputusasaan. Jika kuasa itu hidup di dalam gereja, maka gereja seharusnya menjadi agen kehidupan, bukan bagian dari kehancuran.
Gereja seharusnya menjadi suara profetis yang mengingatkan dunia untuk hidup selaras dengan kehendak Pencipta.
Bukan berarti gereja harus bisa menyelesaikan semua masalah lingkungan. Tetapi gereja tidak boleh diam. Diam berarti membiarkan kerusakan terus berlangsung. Diam berarti menyangkal panggilan sebagai tubuh Kristus yang hidup.
Melestarikan alam bukan sekadar isu modern atau tren global. Ini adalah panggilan iman. Ketika kita menjaga bumi, kita sedang menghormati Pencipta. Ketika kita mengurangi sampah, menghemat energi, menanam pohon, dan hidup lebih bijak, kita sedang menyatakan bahwa Kristus sungguh hidup di dalam kita.
Gereja yang dipenuhi Kristus adalah gereja yang peduli. Peduli pada manusia yang terluka, peduli pada keadilan, dan peduli pada ciptaan. Kepedulian itu bukan tambahan, tetapi bagian dari identitas gereja.
Saudara-saudari, bayangkan jika setiap jemaat menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari tubuh Kristus. Tangan Kristus yang mengulurkan pertolongan. Kaki Kristus yang melangkah ke tempat penderitaan. Suara Kristus yang bersuara bagi yang tak bersuara. Termasuk bagi bumi yang terus mengeluh karena eksploitasi.
Jika gereja sungguh dipenuhi Kristus, maka gereja tidak akan hidup egois. Gereja tidak akan hanya memikirkan kenyamanan internal. Gereja akan bertanya: apa dampak kehadiran kami bagi lingkungan sekitar? Apakah gereja kami membawa kehidupan atau justru menambah beban bagi bumi?
Paulus menegaskan bahwa Kristus adalah Kepala atas segala sesuatu. Ini berarti gereja tidak boleh hidup terlepas dari kehendak Sang Kepala. Gereja harus terus-menerus bertanya: apa yang Kristus kehendaki dari kami hari ini?
Dalam konteks dunia yang menghadapi krisis lingkungan, jawaban itu semakin jelas: hidup dengan lebih bertanggung jawab dan penuh kasih terhadap ciptaan.
Saudara-saudari, gereja yang dipenuhi Kristus adalah gereja yang mau berubah. Berubah dari sikap acuh menjadi peduli. Berubah dari konsumsi berlebihan menjadi hidup sederhana. Berubah dari hanya berbicara iman menjadi menghidupi iman.
Perubahan itu mungkin terasa kecil. Tetapi dalam tubuh Kristus, tidak ada bagian yang kecil dan tidak penting. Setiap tindakan kasih, sekecil apa pun, adalah bagian dari karya besar Allah.
Malam ini, marilah kita menyadari bahwa menjadi gereja bukan hanya tentang apa yang kita lakukan di dalam gedung, tetapi bagaimana kita hidup di luar gedung. Melestarikan alam berarti kita sedang menjadi tubuh Kristus yang hidup dan bekerja. Kita sedang menyatakan bahwa Kristus benar-benar memenuhi gereja dan melalui gereja-Nya, Ia menjangkau dunia.
Tidurlah dengan pengharapan ini: bahwa besok, ketika mata kita terbuka, Tuhan memberi kita kesempatan baru. Kesempatan untuk hidup lebih bijak. Kesempatan untuk mengasihi lebih sungguh. Kesempatan untuk menjadi gereja yang hidup, gereja yang dipenuhi Kristus, gereja yang menghadirkan pemulihan, bukan kerusakan.
Kiranya gereja kita menjadi tempat persekutuan yang mencerminkan kepenuhan Kristus. Bukan hanya dalam doa dan pujian, tetapi juga dalam tanggung jawab dan tindakan nyata. Dengan demikian, dunia boleh melihat bahwa Kristus sungguh hidup di tengah umat-Nya. Amin.
Doa : Tuhan Yesus Kristus, terima kasih karena Engkau memenuhi gereja-Mu dengan kuasa dan kasih-Mu. Tolong kami agar sebagai tubuh-Mu, kami hidup setia melayani, mengasihi sesama, dan menjaga ciptaan-Mu. Bentuklah kami menjadi gereja yang hidup, memuliakan nama-Mu, dan membawa pemulihan bagi dunia. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas