Pembacaan Alkitab : Efesus 2:6-10
Tema : MELAKUKAN PEKERJAAN BAIK
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (ay. 10)
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, Suatu kali, seorang pemuda menemukan sebuah foto lama di antara tumpukan barang di rumahnya. Foto itu memperlihatkan dirinya waktu kecil, tersenyum lebar sambil memeluk seekor kucing jalanan yang kurus dan kotor.
Ia menatap foto itu lama sekali. Di dalam hatinya muncul pertanyaan yang jujur namun menyentak: “Kapan terakhir kali aku melakukan sesuatu tanpa pamrih?”
Ia sadar bahwa seiring bertambahnya usia, dunia telah membentuknya menjadi pribadi yang sibuk mengejar target, uang, prestasi, dan pengakuan.
Kepekaan yang dulu sederhana—menolong tanpa perhitungan, mengasihi tanpa alasan—perlahan terkikis. Hati yang dulu mudah tergerak kini lebih sering bertanya: “Apa untungnya bagiku?”
Kisah kecil ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Waktu dan tekanan hidup sering kali membuat hati kita mengeras. Kita menjadi lebih perhitungan, lebih waspada, bahkan lebih acuh.
Padahal firman Tuhan malam ini mengingatkan kita akan identitas sejati kita: kita diciptakan bukan hanya untuk diselamatkan, tetapi untuk melakukan pekerjaan baik.
Rasul Paulus berkata dengan sangat jelas bahwa keselamatan adalah anugerah, bukan hasil usaha manusia. Namun ia tidak berhenti di situ.
Ia menegaskan bahwa kita adalah “buatan Allah”, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya.
Artinya, sejak semula Allah sudah merancang hidup kita bukan hanya sebagai penerima rahmat, tetapi sebagai pelaku kasih.
Ini adalah kebenaran yang penting: kita tidak melakukan pekerjaan baik supaya diselamatkan, tetapi karena kita telah diselamatkan. Pekerjaan baik bukan syarat keselamatan, melainkan buah keselamatan. Iman yang sejati akan selalu menghasilkan tindakan nyata. Kasih karunia yang hidup akan selalu tampak dalam perbuatan.
Dengan kata lain, hidup orang percaya tidak pernah dimaksudkan hanya berhenti pada ibadah dan doa, tetapi harus mengalir menjadi tindakan kasih dalam dunia nyata. Gereja bukan hanya tempat orang berkumpul, tetapi tempat orang diperlengkapi untuk diutus.
Kita bukan hanya umat yang diselamatkan, tetapi umat yang diutus untuk membawa pemulihan. Lalu, apa makna “pekerjaan baik” bagi dunia hari ini?
Sering kali kita membayangkan pekerjaan baik sebagai hal-hal besar dan heroik: membangun rumah sakit, membuka sekolah gratis, atau melakukan pelayanan besar-besaran. Semua itu tentu baik dan mulia.
Namun firman Tuhan tidak membatasi pekerjaan baik hanya pada tindakan spektakuler. Pekerjaan baik juga hadir dalam tindakan sederhana yang dilakukan dengan kasih dan kesadaran.
Di zaman ini, salah satu ladang pekerjaan baik yang Tuhan percayakan kepada manusia adalah bumi dan ciptaan-Nya. Dunia sedang terluka. Hutan rusak, air tercemar, udara kotor, dan iklim tidak lagi bersahabat.
Semua ini bukan terjadi begitu saja, tetapi akibat keserakahan dan ketidakpedulian manusia. Kita menikmati hasil bumi, tetapi sering lupa merawatnya.
Padahal sejak awal, Allah menciptakan manusia bukan sebagai perusak ciptaan, melainkan sebagai penjaga taman-Nya. Dalam Kejadian, manusia ditempatkan di taman Eden untuk mengusahakan dan memeliharanya.
Itu berarti pekerjaan baik juga mencakup tanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Merawat bumi bukan isu tambahan, tetapi bagian dari panggilan iman.
Ketika Paulus berkata bahwa kita diciptakan untuk pekerjaan baik, itu berarti seluruh hidup kita diarahkan untuk menjadi saluran kebaikan Allah bagi dunia. Kita dipanggil menjadi alat pemulihan, bukan alat perusakan. Kita dipanggil membawa kehidupan, bukan kehancuran.
Namun sering kali kita merasa tidak mampu. Kita berkata, “Aku hanya orang biasa.” “Apa yang bisa kulakukan?” “Masalah dunia terlalu besar untuk diatasi oleh satu orang.” Pikiran seperti ini membuat kita berhenti sebelum mulai. Kita merasa terlalu kecil untuk membuat perubahan.
Tetapi firman Tuhan justru berkata sebaliknya: bukan soal siapa kita, tetapi siapa yang menciptakan kita. Kita adalah buatan Allah. Artinya, hidup kita bukan produk kebetulan.
Kita dirancang dengan maksud ilahi. Allah tidak pernah menciptakan hidup tanpa tujuan. Bahkan orang yang merasa paling sederhana sekalipun diciptakan untuk pekerjaan yang bermakna.
Sejarah iman penuh dengan kisah “orang biasa” yang dipakai Allah untuk hal luar biasa. Musa hanya seorang gembala. Daud hanya seorang anak bungsu.
Petrus hanya nelayan. Namun Allah memakai mereka untuk karya besar karena mereka mau dipakai. Yang penting bukan kemampuan kita, tetapi kesediaan kita.
Demikian pula dalam hal menjaga dan memulihkan bumi. Kita tidak harus memulai dengan proyek besar. Kita bisa memulai dari hal-hal kecil: menghemat air, mengurangi sampah, tidak membuang plastik sembarangan, menggunakan listrik dengan bijak, menanam pohon, atau mengedukasi anak-anak untuk mencintai alam.
Tindakan-tindakan kecil ini mungkin tampak sepele, tetapi jika dilakukan dalam kasih dan konsistensi, dampaknya melampaui satu generasi.
Pekerjaan baik selalu dimulai dari kesadaran bahwa hidup kita bukan milik kita sendiri. Hidup kita adalah anugerah yang dipercayakan Allah. Karena itu, cara kita hidup harus mencerminkan kehendak Sang Pencipta.
Ketika kita hidup sembarangan, kita bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga merusak kesaksian iman kita.
Efesus 2:10 menegaskan bahwa pekerjaan baik itu telah dipersiapkan Allah sebelumnya. Artinya, Allah sudah lebih dulu menyediakan jalan. Kita hanya diminta untuk berjalan di dalamnya.
Ini memberi kita pengharapan: kita tidak sendirian. Allah menyertai kita dalam setiap tindakan kasih. Setiap perbuatan baik yang kita lakukan adalah bagian dari karya-Nya yang lebih besar.
Saudara-saudari, dunia hari ini tidak kekurangan teori, tetapi kekurangan teladan. Dunia tidak terlalu membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi orang yang mau melakukan kebaikan. Dunia tidak butuh orang sempurna, tetapi orang yang mau dipakai Tuhan.
Maka pertanyaannya bagi kita malam ini bukan hanya: “Apakah aku sudah diselamatkan?” tetapi juga: “Untuk apa aku diselamatkan?” Jawabannya jelas: supaya kita hidup dalam pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah. Supaya hidup kita menjadi berkat. Supaya kehadiran kita membawa pemulihan, bukan kerusakan.
Bayangkan jika setiap orang percaya hidup dengan kesadaran ini. Bayangkan jika gereja menjadi komunitas yang sungguh-sungguh mempraktikkan kasih, bukan hanya membicarakannya.
Bayangkan jika iman kita terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama dan alam sekitar. Dunia akan melihat Kristus bukan hanya melalui khotbah, tetapi melalui kehidupan kita.
Malam ini kita diajak merenung: sudahkah hidup kita dipakai untuk pekerjaan baik yang memuliakan Tuhan? Sudahkah iman kita berbuah dalam tindakan nyata? Ataukah kita hanya puas menjadi penonton dalam dunia yang terluka?
Ingatlah foto pemuda kecil yang memeluk kucing jalanan itu. Di dalam dirinya ada hati yang pernah tulus dan penuh kasih. Tuhan rindu membangkitkan kembali hati seperti itu dalam diri kita. Hati yang mau peduli. Hati yang mau melayani. Hati yang mau dipakai Tuhan.
Karena kita ini buatan Allah. Kita diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik. Itu bukan beban, tetapi kehormatan. Itu bukan kewajiban yang berat, tetapi panggilan yang mulia.
Kiranya malam ini kita pulang dengan tekad baru: bukan hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi hidup sebagai alat kasih Tuhan. Dari pekerjaan baik akan lahir kebaikan.
Dari kasih akan lahir pemulihan. Dan melalui hidup kita, dunia akan melihat bahwa Kristus sungguh hidup dan bekerja di tengah ciptaan-Nya. Amin.
Doa : Tuhan Allah sumber kehidupan, terima kasih karena Engkau menciptakan kami untuk melakukan pekerjaan baik. Ajarlah kami hidup sebagai alat kasih-Mu, peka terhadap sesama dan peduli pada ciptaan-Mu. Pakailah hidup kami untuk membawa pemulihan dan pengharapan di dunia ini. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas