Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Sabtu 21 Februari, Bacaan I Yesaya 58:9b-14, Bacaan Injil Lukas 5:27-32

Fandy Gerungan • Senin, 16 Februari 2026 | 10:54 WIB
Photo
Photo

Hari Sabtu Sesudah Rabu Abu (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Yesaya 58:9b-14

Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,

apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.

TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.

Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan "yang memperbaiki tembok yang tembus", "yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni".

Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat "hari kenikmatan", dan hari kudus TUHAN "hari yang mulia"; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong,

maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 86:1-2, 3-4,5-6

Doa Daud. Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku.

Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu.

Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari.

Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.

Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.

Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara permohonanku.

Bacaan Injil Lukas 5:27-32

Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!"

Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.

Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia.

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"

Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;

Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i renungan hari ini mengajak kita melihat wajah iman yang sangat manusiawi, dekat, dan penuh belas kasih. Tuhan tidak hanya menunggu kita berseru dalam doa, tetapi Ia rindu hadir dalam hidup yang sungguh berubah.

Ketika relasi dengan sesama dipulihkan, ketika lidah berhenti melukai dan tangan berhenti menindas, di situlah jalan bagi Tuhan untuk menjawab seruan kita.

Melalui bacaan pertama, kita disadarkan bahwa terang hidup tidak lahir dari kesalehan yang sibuk memikirkan diri sendiri. Terang justru muncul ketika kita berani memberi apa yang sebenarnya ingin kita nikmati sendiri, ketika kita peka terhadap mereka yang lelah, lapar, dan tertekan.

Saat itulah kegelapan batin perlahan memudar. Hidup yang semula kering dan rapuh mulai dialiri kekuatan baru, seperti tanah tandus yang kembali subur karena air yang setia mengalir.

Tuhan menjanjikan tuntunan bagi mereka yang memilih jalan ini. Bukan hidup tanpa masalah, tetapi hidup yang memiliki arah. Orang yang mau menghidupi kasih akan menjadi pribadi yang membangun, bukan meruntuhkan.

Ia hadir sebagai penyambung yang retak, pemulih harapan, dan penopang bagi lingkungan di sekitarnya. Tanpa banyak kata, hidupnya menjadi kesaksian.

Injil hari ini memperlihatkan bagaimana kasih Tuhan bekerja secara nyata. Yesus tidak menjauh dari mereka yang dicap buruk oleh masyarakat. Ia justru menghampiri, mengajak, dan makan bersama. Lewi, seorang yang dianggap berdosa, tidak dihakimi, tetapi diberi kepercayaan.

Undangan sederhana itu mengubah seluruh arah hidupnya. Dari seorang yang terpinggirkan, ia menjadi murid yang bersukacita dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

Sikap Yesus ini menantang kita. Iman sering kali tergoda untuk merasa lebih suci, lebih benar, dan lebih layak. Padahal Tuhan justru hadir di tempat-tempat yang kita hindari, pada orang-orang yang sering kita nilai sebelah mata.

Ia datang bukan untuk mereka yang merasa sudah sempurna, melainkan bagi mereka yang menyadari kelemahan dan mau berubah.

Renungan ini mengajak kita untuk jujur: apakah hidup beriman kita sudah menghadirkan terang bagi orang lain?. Apakah kehadiran kita memulihkan, atau justru menambah luka?.

Ketika kita berani melangkah keluar dari kenyamanan, menghormati Tuhan bukan hanya lewat ibadah, tetapi juga lewat sikap hidup sehari-hari, maka iman kita menjadi hidup.

Di sanalah janji Tuhan digenapi: hidup yang dipimpin, dikuatkan, dan dipenuhi sukacita sejati. Sebab saat kita membuka ruang bagi kasih-Nya bekerja melalui diri kita, Tuhan tidak tinggal jauh. Ia hadir, berjalan bersama, dan mengubah hidup bukan hanya hidup kita, tetapi juga hidup mereka yang kita sentuh dengan kasih. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan