MANADOPOST.ID - Di balik gemerlap Kekaisaran Persia—yang membentang dari India hingga Etiopia—tersimpan kisah-kisah kecil yang nyaris tak terdengar. Kisah tentang orang-orang biasa yang hidup di pinggiran sejarah, tersembunyi di antara catatan raja, hukum istana, dan pesta-pesta megah para bangsawan.
Di kota Susan, ibu kota kerajaan, tembok-tembok istana menjulang tinggi, dilapisi batu pucat yang berkilau di bawah matahari. Di balik tembok itulah keputusan besar dibuat—keputusan yang menentukan hidup dan mati jutaan orang.
Namun jauh dari aula takhta dan balai perjamuan, hiduplah seorang gadis muda yang tak pernah membayangkan bahwa namanya kelak akan menggema lintas generasi.
Namanya Hadasa.
Hadasa dan Mordekai
Hadasa bukan putri bangsawan. Ia tidak lahir dari keluarga terpandang. Ayah dan ibunya telah lama meninggal, meninggalkannya dalam kesunyian dunia yang keras bagi seorang anak perempuan tanpa pelindung.
Ia belajar berjalan bukan di lorong marmer, melainkan di jalanan sederhana komunitas Yahudi—orang-orang buangan yang hidup di negeri asing.
Namun Tuhan tidak membiarkannya sendirian.
Ada seorang pria yang mengambilnya dan membesarkannya seperti anak sendiri: Mordekai, sepupu ayahnya. Ia bukan orang kaya, bukan pejabat tinggi, tetapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga—iman yang teguh dan hati seorang ayah.
Di rumah kecil mereka, Mordekai mengajarkan kisah-kisah iman:
-
Abraham yang dipanggil keluar dari negerinya
-
Musa yang membelah laut
-
Daud yang mengalahkan raksasa dengan iman
Di bawah cahaya lampu minyak yang redup, mereka berdoa bersama.
“Meski kita tinggal di Persia,” kata Mordekai, “kita bukan milik Persia. Kita milik Tuhan.”
Hadasa tumbuh menjadi gadis yang anggun—bukan karena pakaian mahal, melainkan karena ketenangan hatinya.
Kejatuhan Ratu Wasti
Pada suatu malam, Raja Ahasweros mengadakan perjamuan besar. Anggur mengalir, musik memenuhi aula, para pembesar tertawa dalam kemewahan.
Di tengah pesta, raja memanggil Ratu Wasti untuk memamerkan kecantikannya.
Wasti menolak.
Penolakan itu dianggap sebagai penghinaan terhadap wibawa kerajaan. Para penasihat bertindak cepat. Wasti dicopot dari kedudukannya. Istana pun kosong dari seorang ratu.
Sebuah maklumat disebarkan:
Semua gadis muda yang cantik akan dikumpulkan untuk dipersembahkan kepada raja. Dari antara mereka, satu akan dipilih menjadi ratu.
Tidak ada pilihan. Tidak ada penolakan.
Dari Hadasa Menjadi Ester
Ketika berita itu sampai kepada Mordekai, hatinya gelisah. Namun ketika para petugas kerajaan datang, ia tidak dapat berbuat apa-apa.
Sebelum Hadasa pergi, ia berbisik:
“Jangan katakan kepada siapa pun bahwa engkau orang Yahudi.
Bukan karena malu, tetapi karena hikmat.”
Di istana, Hadasa diberi nama baru: Ester.
Selama berbulan-bulan ia menjalani masa persiapan. Banyak gadis berlomba-lomba menarik perhatian raja. Namun Ester berbeda. Ia tidak memamerkan diri. Ia bersikap hormat bahkan kepada pelayan.
Ketika tiba gilirannya menghadap raja, ia tidak meminta perhiasan berlebihan. Ia melangkah dengan hati berdebar, tetapi wajah tenang.
Raja menatapnya lebih lama daripada yang lain.
Tidak ada tawa mabuk, tidak ada senyum licik—ada ketertarikan yang tulus.
Mahkota diletakkan di atas kepalanya.
Hadasa, gadis yatim piatu Yahudi, kini menjadi Ratu Ester.
Bayangan Gelap Bernama Haman
Ia cerdas, ambisius, dan licik. Ketika raja mengangkatnya menjadi pejabat tertinggi, semua orang diwajibkan berlutut memberi hormat kepadanya.
Semua orang—kecuali Mordekai.
Mordekai menolak sujud kepada manusia. Bagi dia, hanya Tuhan yang layak disembah.
Penolakan itu membakar hati Haman.
Namun ia tidak bertindak terburu-buru. Ia menyusun rencana lebih kejam: bukan hanya membunuh Mordekai, tetapi memusnahkan seluruh bangsa Yahudi.
Ia membujuk raja dengan kata-kata manis bercampur racun. Raja menyerahkan cincin meterainya.
Maklumat pun keluar:
Pada hari tertentu, semua orang Yahudi—tua, muda, laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak—harus dibinasakan.
Tangisan pecah di seluruh negeri.
“Untuk Masa Seperti Ini”
Mordekai mengenakan kain kabung dan abu. Ester mendengar kabar itu dan akhirnya mengetahui kebenarannya.
Mordekai mengirim pesan:
“Masuklah menghadap raja dan mohonkan belas kasihan bagi bangsamu.”
Namun hukum Persia menyatakan: siapa pun yang masuk tanpa dipanggil dapat dihukum mati—kecuali jika raja mengulurkan tongkat emasnya.
Ester belum dipanggil selama tiga puluh hari.
Ia takut.
Lalu datang pesan yang mengubah segalanya:
“Siapakah tahu, mungkin justru untuk masa seperti inilah engkau mencapai kedudukan sebagai ratu.”
Ester berpuasa tiga hari. Seluruh komunitas Yahudi berpuasa bersamanya.
Dan ia berkata:
“Jika aku mati, biarlah aku mati.”
Tongkat Emas
Dengan tubuh lemah karena puasa, Ester melangkah ke pelataran dalam.
Raja mengangkat kepalanya.
Mereka saling berpandangan.
Tongkat emas itu diulurkan.
Nyawanya selamat.
Namun Ester tidak langsung membuka rahasia. Ia mengundang raja dan Haman ke perjamuan—dua kali.
Sementara itu, Haman membangun tiang gantungan untuk Mordekai.
Malam Tanpa Tidur
Pada malam itu, raja tidak bisa tidur. Ia meminta kitab sejarah kerajaan dibacakan.
Tercatat bahwa Mordekai pernah menyelamatkan nyawanya—dan belum pernah diberi penghargaan.
Keesokan paginya, raja bertanya kepada Haman:
“Apakah yang patut dilakukan kepada orang yang hendak dihormati raja?”
Haman, mengira dirinya yang dimaksud, mengusulkan kehormatan tertinggi.
Raja berkata:
“Lakukanlah itu kepada Mordekai.”
Haman terpaksa mengarak Mordekai keliling kota dengan pakaian kebesaran raja.
Kesombongan mulai runtuh.
Kebenaran Diungkap
Pada perjamuan kedua, Ester akhirnya berbicara:
“Karuniakanlah kepadaku nyawaku dan nyawa bangsaku.
Musuh dan seteru itu adalah Haman.”
Raja murka.
Haman digantung pada tiang yang ia dirikan sendiri untuk Mordekai.
Namun maklumat kematian tidak dapat dibatalkan. Maka raja memberi kuasa kepada Mordekai dan Ester untuk mengeluarkan maklumat baru: bangsa Yahudi diizinkan membela diri.
Pada hari yang ditentukan, musuh-musuh mereka dikalahkan.
Ratapan berubah menjadi sukacita.
Hari Raya Purim
Untuk mengenang pembalikan nasib itu, ditetapkanlah Purim.
Hari ketika undi kematian berubah menjadi hari kehidupan.
Hari ketika Tuhan bekerja di balik layar sejarah.
Hari ketika keberanian satu orang menyelamatkan satu bangsa.
Penutup
Ester tidak mendirikan monumen bagi dirinya. Namun namanya tercatat dalam sejarah iman:
-
Dari yatim piatu menjadi ratu
-
Dari tersembunyi menjadi suara kebenaran
-
Dari ketakutan menjadi keberanian
Kisah ini meninggalkan satu pertanyaan bagi setiap generasi. (FirmanTuhan HariIni)
Editor : Deiby Rotinsulu