MANADOPOST.ID - Yerusalem malam itu tampak tenang, tetapi ketenangan itu semu.
Lampu-lampu minyak masih menyala di sudut-sudut istana.
Para pelayan berjalan pelan, berbisik satu sama lain.
Di balik dinding batu yang kokoh, sejarah sedang bergerak.
Raja Daud, pahlawan yang pernah menumbangkan raksasa dan menundukkan bangsa-bangsa, kini terbaring lemah.
Tubuhnya tak lagi kuat. Ia menggigil di bawah selimut tebal.
Waktu, yang tak pernah tunduk pada siapa pun, kini menyentuh sang raja.
Namun bahaya bukan hanya datang dari usia.
Bahaya itu datang dari ambisi.
Adonia Mengangkat Diri
Adonia, putra Daud yang tertua yang masih hidup, merasa takhta itu miliknya.
Sejak kecil ia jarang ditegur. Ia tampan, percaya diri, dan terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan.
Di dalam hatinya ia berkata, "Akulah raja".
Keyakinan itu segera berubah menjadi tindakan.
Ia menyiapkan kereta, mengumpulkan lima puluh orang untuk berlari di depannya sebagai lambang kehormatan.
Baca Juga: Cerita Alkitab, Kisah Raja Daud, Perjalanan Iman yang Ditempa di Padang Gurun dan Air Mata
Ia mengundang tokoh-tokoh penting: Yoab sang panglima dan Imam Abiatar.
Perjamuan diadakan. Sorak-sorai terdengar: "Hidup Raja Adonia."
Namun ada satu nama yang tidak ia undang: Salomo.
Janji yang Hampir Terlupakan
Sementara pesta berlangsung di En-Rogel, Nabi Natan bergerak cepat menuju istana.
Ia menemui Batsyeba dan berkata, "Apakah engkau tahu? Kata Natan dengan suara rendah namun tegas bahwa Adonia telah mengangkat dirinya menjadi raja dan Daud, tuanku tidak mengetahuinya."
Batsyeba teringat janji Daud bahwa Salomo yang akan menggantikannya.
Ia segera menghadap raja dan berkata, "bukankah engkau bersumpah bahwa Salomo akan menjadi raja setelah engkau?"
Lalu ia menambahkan, "Akulah raja?"
Natan masuk menguatkan kesaksiannya.
Daud yang lemah itu bangkit dalam ketegasan.
Ia memerintahkan agar Salomo dipanggil, bersama Imam Zadok dan Nabi Natan.
Salomo Diurapi
Salomo dibawa ke mata air Gihon. Ia menaiki bagal raja — simbol legitimasi yang sah.
Zadok menuangkan minyak urapan ke atas kepalanya.
Sangkakala ditiup. Rakyat bersorak.
Pesta Adonia terdiam.
Gelas-gelas terjatuh. Para tamu bubar dalam ketakutan.
Takhta kini resmi milik Salomo.
Nasihat Terakhir Daud
Menjelang akhir hidupnya, Daud memanggil Salomo dan berkata, "Aku akan menempuh jalan semua orang di bumi."
Lalu ia menasihatinya, "Berpeganglah pada ketetapan Tuhan. Jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri. Jika engkau setia, Tuhan akan meneguhkan kerajaanmu."
Tak lama kemudian Daud wafat. Salomo kini benar-benar sendiri dengan mahkota di kepalanya.
Doa di Gibeon
Merasa belum siap memimpin bangsa besar, Salomo mempersembahkan korban di Gibeon.
Pada malam hari Tuhan datang dalam mimpi dan berkata, "Mintalah suara itu bergema tanpa suara. Apa yang hendak kuberikan kepadamu?"
Salomo menjawab dengan kerendahan hati:
"Engkau telah menunjukkan kasih setia yang besar kepada Daud, ayahku, katanya."
"Tetapi aku masih muda. Aku tidak tahu bagaimana memimpin bangsa yang besar ini."
"Maka berikanlah kepadaku hati yang paham menimbang perkara supaya aku dapat memutuskan dengan benar antara yang baik dan yang jahat."
Tuhan berkenan atas permintaan itu dan berfirman:
"Maka aku memberikan kepadamu hikmat dan pengertian yang belum pernah ada sebelumnya dan tidak akan ada sesudahmu."
Hikmat yang Teruji
Tak lama kemudian dua perempuan datang membawa sengketa bayi. Ketika Salomo berkata, "Belahlah anak yang hidup itu menjadi dua." ruangan membeku.
Seorang perempuan berteriak, "Tidak, anakku hidup. Anak yang mati itu miliknya."
Salomo pun memutuskan:
"Dialah ibunya. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorak-sorai, hanya keheningan yang dipenuhi rasa gentar."
Berita itu menyebar. Orang-orang berkata, "Hikmat Allah ada padanya."
Pembangunan Bait Suci
Salomo membangun rumah bagi Tuhan di Gunung Moria. Selama tujuh tahun batu demi batu dipasang tanpa suara palu di lokasi suci.Saat peresmian, ia berdoa:
"Langit yang tertinggi pun tidak dapat memuat engkau, apalagi rumah yang kubangun ini."
Dan lagi ia berseru:
"Tidak ada Allah seperti Engkau, baik di langit maupun di bumi."
Ketika tabut perjanjian dibawa masuk, awan memenuhi bait itu.
Para imam tidak sanggup berdiri.
Api turun dari langit. Rakyat tersungkur dan berseru, "Dialah Allah. Dialah Allah."
Keemasan dan Retakan
Kerajaan Salomo mencapai puncak kejayaan.
Bangsa hidup dalam damai. Kekayaan melimpah.
Ratu dari negeri jauh datang mengujinya. Setelah mendengar jawabannya ia berkata, "Setengah dari apa yang kudengar pun belum disampaikan kepadaku."
Dan ia mengakui, "Terpujilah Tuhanmu, yang berkenan kep dan menempatkan engkau di atas."
Namun perlahan hati Salomo berubah. Pernikahan demi pernikahan membuka pintu bagi penyembahan asing.
Bukit-bukit pengorbanan berdiri.
Kerajaan tetap megah, tetapi pusatnya mulai bergeser.
Baca Juga: Cerita Alkitab, Kisah Hana, Iman, dan Penyerahan
Senja Seorang Raja
Di akhir hidupnya, Salomo merenung. Ia menulis tentang kefanaan.
Ia bertanya, "Apakah semua ini cukup?"
Ia menyadari bahwa tanpa Tuhan, segala pencapaian hanyalah bayang-bayang.
Dan di ujung kisahnya ia berpesan:
"Takutlah akan Tuhan dan berpeganglah pada perintahnya. Itulah kewajiban setiap manusia."
Demikianlah perjalanan Raja Salomo.
Ia menerima hikmat terbesar, membangun rumah Tuhan, mencapai puncak kejayaan, namun juga belajar bahwa hikmat tanpa kesetiaan akan retak perlahan.
Mahkota dapat bersinar.
Kerajaan dapat makmur.
Namun hanya hati yang sepenuhnya milik Tuhan yang dapat bertahan sampai akhir. (FTHI Ytb)