Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Minggu 22 Februari, Bacaan I Kejadian 2:7-9;3:1-7, Bacaan II Roma 5:12-19, Bacaan Injil Matius 4:1-11

Fandy Gerungan • Rabu, 18 Februari 2026 | 13:56 WIB
Photo
Photo

Hari Minggu Prapaskah I (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Kejadian 2:7-9;3:1-7

ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.

Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"

Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,

tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."

Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati,

tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."

Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 51:3-4,5-6a,12-13,14,17

Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.

Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.

Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.

Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.

Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!

Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu!

Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Bacaan II Roma 5:12-19

Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.

Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.

Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.

Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.

Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran.

Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.

Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.

Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Matius 4:1-11

Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.

Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.

Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."

Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."

Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah,

lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."

Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"

Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,

dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku."

Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"

Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i manusia diciptakan bukan secara kebetulan. Ia dibentuk dari sesuatu yang rapuh debu namun dihidupkan oleh hembusan ilahi. Di situlah letak martabat manusia: tubuhnya lemah, tetapi jiwanya menyimpan nafas Tuhan.

Manusia ditempatkan di taman yang penuh keindahan, kelimpahan, dan keteraturan. Semua yang dibutuhkan sudah tersedia. Namun di tengah kelimpahan itu, manusia diberi satu hal yang sangat menentukan: kebebasan untuk memilih.

Masalah tidak bermula dari kekurangan, melainkan dari godaan untuk merasa “kurang”. Ketika suara licik muncul, ia tidak langsung memerintahkan, tetapi menabur keraguan. Allah mulai tampak seperti pihak yang menahan, bukan yang mengasihi.

Manusia lalu memandang apa yang dilarang bukan lagi sebagai batas perlindungan, melainkan sebagai peluang untuk menjadi lebih “hebat”. Keinginan untuk setara dengan Tuhan mengalahkan kepercayaan kepada Tuhan.

Saat pilihan itu diambil, yang berubah bukan hanya relasi manusia dengan Allah, tetapi juga dengan dirinya sendiri. Kesadaran yang terbuka tidak membawa kebebasan, melainkan rasa malu dan ketakutan.

Manusia yang semula hidup dalam keterbukaan kini bersembunyi, menutupi diri, dan menjaga jarak. Dosa selalu bekerja seperti itu: menjanjikan kuasa, tetapi meninggalkan kehampaan.

Dalam bacaan kedua, kita diajak melihat bahwa pilihan satu manusia membawa dampak luas. Ketidaktaatan membuka pintu bagi penderitaan dan kematian yang menjalar ke seluruh umat manusia. Namun kisah ini tidak berhenti pada kejatuhan.

Justru di tengah sejarah dosa, Allah menyiapkan jalan pemulihan. Jika melalui satu ketidaktaatan manusia jatuh, maka melalui satu ketaatan, manusia ditarik kembali ke dalam kehidupan.

Di sinilah kita berjumpa dengan Yesus Kristus dalam Injil. Ia juga menghadapi pencobaan, namun dalam kondisi yang sangat berbeda. Bukan di taman yang subur, melainkan di padang gurun yang kering.

Bukan dalam kenyang, tetapi dalam lapar. Pencobaan yang dihadapi-Nya menyentuh kebutuhan dasar, keinginan akan pengakuan, dan hasrat akan kuasa tiga hal yang sering menjatuhkan manusia.

Namun yang membedakan-Nya adalah cara Ia memilih. Ia tidak membiarkan kebutuhan mengalahkan ketaatan. Ia tidak menjadikan Allah sebagai alat untuk pamer kuasa. Ia tidak menukar kesetiaan dengan kemegahan dunia.

Di saat manusia pertama memilih dirinya sendiri, Yesus memilih kehendak Bapa. Di saat manusia jatuh karena ingin menjadi seperti Allah, Yesus justru menunjukkan ketaatan sebagai jalan sejati menuju kemuliaan.

Renungan ini mengajak kita bercermin. Dalam hidup sehari-hari, kita pun berada di antara “taman” dan “padang gurun”. Ada saat kita hidup dalam kelimpahan, ada saat kita berada dalam kekosongan.

Godaan tidak selalu datang dalam bentuk dosa besar, tetapi sering hadir sebagai bisikan halus yang membuat kita meragukan kasih Tuhan dan mengutamakan kehendak sendiri.

Masa tobat terutama dalam perjalanan iman adalah undangan untuk belajar memilih dengan benar. Bukan mengandalkan kekuatan diri, melainkan kembali percaya bahwa hidup sejati hanya ditemukan ketika kita taat, setia, dan bersandar penuh kepada Allah.

Dari kegagalan manusia pertama, kita belajar kerendahan hati. Dari ketaatan Kristus, kita menerima harapan.

Semoga kita berani jujur melihat kelemahan diri, namun juga penuh keyakinan bahwa kasih karunia Allah selalu lebih besar daripada dosa manusia. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan