Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Pemuda, GPIB, Kamis, 19 Februari 2026, Kolose 19-20 Pemulihan Yang Memulihkan

Alfianne Lumantow • Kamis, 19 Februari 2026 | 10:20 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Kolose 1:19–20
Tema: PEMULIHAN YANG MEMULIHKAN
“Dan melalui Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surga…” (ay. 20).

Sobat muda yang dikasihi Tuhan, Kita hidup di zaman ketika kata pemulihan sering kita dengar. Pemulihan ekonomi, pemulihan mental, pemulihan pascabencana, bahkan pemulihan relasi.

Salah satu contoh nyata datang dari peristiwa tahun 2025, ketika Badan Nasional Penanggulangan memberikan 5.880 bibit kepada Pemerintah Kabupaten Purworejo untuk pemulihan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan yang telah terjadi.

Upaya ini dilakukan bukan sekadar untuk menanam pohon, tetapi untuk membangkitkan kesadaran masyarakat agar mau terlibat dalam proses pemulihan lingkungan setelah bencana dan kerusakan alam.

Bibit-bibit itu kecil. Tidak langsung menjadi hutan. Tidak langsung menghentikan banjir. Tetapi bibit itu adalah tanda pengharapan. Ia berkata: kerusakan tidak harus menjadi akhir cerita. Ada masa depan yang bisa diperbaiki. Ada kehidupan baru yang bisa ditumbuhkan.

Firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat pemulihan dari sudut pandang yang lebih dalam. Rasul Paulus berkata bahwa melalui Kristus,

Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya baik yang di bumi maupun yang di surga. Ini adalah pernyataan yang sangat besar. Artinya, karya Kristus di salib bukan hanya untuk menyelamatkan jiwa manusia, tetapi juga untuk memulihkan seluruh ciptaan.

Paulus menegaskan bahwa melalui kematian Kristus di kayu salib, telah terjadi rekonsiliasi antara manusia dan Allah. Darah-Nya yang tercurah menyucikan manusia yang berdosa, sehingga relasi yang rusak karena dosa dipulihkan kembali.

Pemulihan ini membawa damai dan sukacita, sebab manusia tidak lagi hidup terpisah dari Allah, melainkan hidup dalam persekutuan dengan-Nya.

Tetapi Paulus tidak berhenti di situ. Ia berkata bahwa melalui Kristus, Allah memperdamaikan “segala sesuatu”. Itu berarti pemulihan yang dikerjakan Kristus bersifat menyeluruh: mencakup manusia dan seluruh ciptaan.

Alam juga termasuk dalam rencana pemulihan Allah. Hutan, sungai, tanah, laut, udara—semuanya berada dalam cakupan karya pendamaian Kristus.

Ini penting untuk kita pahami, sobat muda. Iman Kristen bukan hanya tentang masuk surga nanti, tetapi juga tentang bagaimana kita hidup di dunia sekarang. Jika Allah memulihkan relasi manusia dengan diri-Nya.

Maka Ia juga rindu memulihkan relasi manusia dengan ciptaan. Ia menghendaki kehidupan yang harmonis: manusia berdamai dengan Allah, manusia berdamai dengan sesama, dan manusia berdamai dengan alam.

Dosa membuat relasi-relasi ini rusak. Manusia yang seharusnya menjadi penjaga ciptaan berubah menjadi perusak. Alam yang seharusnya menjadi rumah yang aman berubah menjadi tempat bencana.

Kita melihat banjir, longsor, kebakaran hutan, dan polusi sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Itu bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah rohani: manusia lupa bahwa ia adalah penatalayan, bukan pemilik.

Kolose 1:19–20 menegaskan bahwa Allah tidak membiarkan kerusakan itu berlangsung selamanya. Melalui Kristus, Ia memulai pemulihan. Salib bukan hanya simbol pengampunan dosa, tetapi juga simbol dimulainya pembaruan dunia.

Kristus tidak hanya mendamaikan manusia dengan Allah, tetapi juga mendamaikan ciptaan dengan Penciptanya.

Sobat muda, Pemulihan yang dikerjakan Kristus tidak berhenti pada salib. Pemulihan itu diteruskan melalui umat-Nya. Kita yang telah dipulihkan dipanggil untuk menjadi agen pemulihan.

Kita yang telah mengalami kasih Allah dipanggil untuk menyalurkan kasih itu kepada dunia—termasuk kepada alam yang rusak.

Tema kita hari ini, Pemulihan yang Memulihkan, mengandung dua makna. Pertama, kita menerima pemulihan dari Allah. Kedua, kita meneruskan pemulihan itu kepada ciptaan. Kita bukan hanya objek pemulihan, tetapi juga alat pemulihan.

Sebagai pemuda-pemudi yang telah menerima pemulihan dari Allah, kita dipanggil untuk peka terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi. Kita tidak bisa berkata, “Itu bukan urusan saya.”

Kita tidak bisa berkata, “Itu tugas pemerintah.” Kita tidak bisa berkata, “Saya masih muda, tidak punya pengaruh.” Firman Tuhan memanggil kita untuk terlibat aktif, sesuai dengan kemampuan kita.

Contoh dari Purworejo tadi mengajarkan kita satu hal: pemulihan dimulai dari tindakan nyata. Bibit-bibit itu ditanam oleh manusia. Kalau tidak ada yang mau menanam, pemulihan hanya menjadi wacana.

Demikian juga dengan iman kita. Jika iman kita hanya berhenti di doa dan tidak menjadi tindakan, maka pemulihan hanya menjadi teori.

Sebagai pemuda, kita mungkin tidak punya kekuasaan besar, tetapi kita punya pilihan sehari-hari. Kita bisa memilih untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kita bisa memilih untuk mengurangi plastik sekali pakai.

Kita bisa memilih untuk menanam pohon. Kita bisa memilih untuk hemat air dan listrik. Kita bisa memilih untuk mengedukasi teman-teman kita tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Pilihan-pilihan ini terlihat kecil. Tetapi dalam terang firman Tuhan, itu adalah bagian dari karya pemulihan. Itu adalah cara kita berkata: “Tuhan, kami mau ikut ambil bagian dalam pekerjaan-Mu.”

Pemulihan yang dikerjakan Kristus juga mengubah cara kita memandang alam. Alam bukan hanya sumber daya, tetapi saudara dalam ciptaan.

Alam bukan hanya alat untuk memenuhi kebutuhan kita, tetapi bagian dari dunia yang dikasihi Allah. Jika Allah berdamai dengan “segala sesuatu”, maka kita juga dipanggil untuk hidup berdamai dengan “segala sesuatu”.

Hidup berdamai dengan alam berarti kita tidak hidup dalam pola eksploitasi, tetapi dalam pola relasi. Kita tidak hanya mengambil, tetapi juga merawat. Kita tidak hanya menikmati, tetapi juga melindungi. Kita tidak hanya memakai, tetapi juga memulihkan.

Sobat muda, Pemulihan juga berbicara tentang harapan. Bibit yang ditanam hari ini mungkin baru akan terasa manfaatnya bertahun-tahun kemudian. Orang yang menanamnya mungkin tidak sempat menikmati hasilnya. Tetapi ia tetap menanam, karena ia percaya pada masa depan.

Demikian juga iman kita. Kita mungkin tidak langsung melihat hasil dari tindakan kecil kita. Kita mungkin tidak langsung melihat perubahan besar. Tetapi kita percaya bahwa Allah bekerja melalui kesetiaan kecil untuk membawa pemulihan besar.

Yesus sendiri memulai pemulihan dunia bukan dengan pasukan besar, tetapi dengan dua belas murid. Ia memulai bukan dengan kekuatan politik, tetapi dengan kasih dan pengorbanan. Ia memulai bukan dengan kemegahan, tetapi dengan salib. Dan dari salib itulah lahir kehidupan baru.

Pemulihan sejati selalu lahir dari pengorbanan. Kita mungkin harus mengorbankan kenyamanan untuk hidup lebih ramah lingkungan. Kita mungkin harus mengorbankan kebiasaan lama untuk membangun kebiasaan baru.

Kita mungkin harus mengorbankan sikap acuh tak acuh untuk menjadi peduli. Tetapi pengorbanan itu tidak sia-sia, karena kita mengerjakannya bersama Kristus.

Firman Tuhan berkata bahwa melalui Kristus, Allah memperdamaikan segala sesuatu. Itu berarti arah sejarah dunia adalah pemulihan, bukan kehancuran.

Dunia tidak sedang berjalan menuju kehancuran tanpa harapan, tetapi menuju pembaruan dalam rencana Allah. Dan kita dipanggil untuk hidup sesuai dengan arah itu.

Sebagai pemuda, kita berada pada fase hidup yang penuh energi, kreativitas, dan potensi. Tuhan tidak memanggil kita hanya untuk menikmati masa muda, tetapi juga untuk menggunakan masa muda sebagai alat pemulihan.

Kita bisa menjadi generasi yang tidak hanya mengeluh tentang kerusakan dunia, tetapi juga berani bertindak untuk memperbaikinya.

Mari kita bayangkan: bagaimana jika gereja-gereja muda menjadi pusat kepedulian lingkungan? Bagaimana jika kelompok pemuda menjadi teladan dalam menjaga kebersihan?

Bagaimana jika anak-anak muda Kristen dikenal sebagai generasi yang peduli pada bumi? Itu bukan mimpi kosong. Itu bisa menjadi kenyataan jika kita mau hidup dipimpin oleh firman Tuhan.

Sobat muda, Pemulihan yang kita terima dari Kristus bukan hanya untuk disimpan, tetapi untuk dibagikan. Kita dipulihkan supaya kita bisa memulihkan. Kita dikasihi supaya kita bisa mengasihi. Kita didamaikan supaya kita bisa mendamaikan.

Akhirnya, firman hari ini mengajak kita untuk melihat salib bukan hanya sebagai simbol keselamatan pribadi, tetapi juga sebagai titik awal pembaruan dunia. Dari salib, mengalir pengampunan. Dari salib, mengalir damai. Dari salib, mengalir pemulihan bagi manusia dan bagi ciptaan.

Marilah kita, sebagai pemuda-pemudi yang telah menerima pemulihan dari Allah, meneruskan pekerjaan itu dengan sikap peka dan peduli terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi. Marilah kita terlibat aktif dalam proses pemulihan bagi lingkungan yang telah rusak, baik karena bencana alam maupun karena ulah manusia.

Dengan demikian, kita bukan hanya menunggu dunia yang baru, tetapi mulai hidup seperti warga dunia yang sedang dipulihkan. Kita bukan hanya berbicara tentang iman, tetapi mewujudkannya dalam tindakan nyata. Dan pada akhirnya, kita bisa hidup berdampingan dalam damai dan sukacita bersama ciptaan lainnya, sesuai dengan kehendak Allah.

Kiranya hidup kita menjadi alat pemulihan di tangan Tuhan. Kiranya melalui langkah-langkah kecil kita, dunia melihat tanda-tanda pemulihan Allah. Dan kiranya melalui kesetiaan kita, Kristus dimuliakan sebagai Pendamai segala sesuatu. Amin.


Doa : Ya Tuhan, kami bersyukur atas pemulihan yang Engkau kerjakan melalui Kristus. Pulihkanlah hati kami agar peduli pada ciptaan-Mu. Tuntun kami bertindak nyata menjaga bumi, menanam harapan, dan menghidupi damai-Mu. Pakailah kaum muda sebagai alat pendamaian-Mu bagi dunia yang terluka. Biarlah setiap langkah kecil kami memuliakan-Mu dan membawa pemulihan hari ini dan seterusnya selalu setia. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB