Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 24 Februari 2026, Bacaan I Yesaya 55:10-11, Bacaan Injil Matius 6:7-15

Fandy Gerungan • Kamis, 19 Februari 2026 | 10:38 WIB
Photo
Photo

Pekan Prapaskah I (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Yesaya 55:10-11

Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,

demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 34:4-5,6-7,16-17,18-19

Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.

Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu.

Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.

Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.

wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi.

Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.

TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.

Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;

Bacaan Injil Matius 6:7-15

Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.

Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.

Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,

datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.

Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i dalam hidup ini, kita sering mengukur segala sesuatu dari hasil yang langsung terlihat. Jika tidak ada perubahan cepat, kita mudah kecewa dan bertanya: apakah ini ada gunanya?.

Namun bacaan hari ini mengajak kita melihat cara kerja Tuhan yang jauh lebih dalam dan setia daripada ukuran manusia.

Firman Tuhan digambarkan seperti hujan yang turun ke bumi. Ia tidak jatuh dengan sia-sia. Mungkin kita tidak langsung melihat hasilnya, tetapi perlahan ia meresap, menyuburkan tanah, menumbuhkan kehidupan, dan pada waktunya menghasilkan buah. Begitulah firman Tuhan bekerja dalam hidup kita.

Kadang kita mendengarnya dalam doa, homili, atau peristiwa hidup, lalu merasa seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal, di dalam hati, firman itu sedang bekerja diam-diam, membentuk cara berpikir, menguatkan iman, dan menuntun langkah kita tanpa kita sadari.

Injil hari ini menegaskan bahwa relasi kita dengan Tuhan bukan soal banyaknya kata, melainkan soal kepercayaan. Tuhan bukan Pribadi yang harus diyakinkan dengan doa panjang dan bertele-tele.

Ia adalah Bapa yang sudah mengenal kebutuhan anak-anak-Nya bahkan sebelum kita menyebutkannya. Maka doa sejati bukanlah upaya memaksa kehendak kita, melainkan keberanian untuk menyerahkan hidup kepada kehendak-Nya.

Doa yang diajarkan Yesus sangat sederhana, namun sarat makna. Kita diajak menempatkan Tuhan sebagai pusat hidup, memohon rezeki secukupnya, bukan berlebihan.

Kita juga diingatkan bahwa doa tidak bisa dipisahkan dari sikap hati, terutama dalam hal pengampunan. Tidak mungkin kita berharap belas kasih Tuhan, jika di saat yang sama kita menutup hati bagi sesama.

Pengampunan memang tidak mudah. Ia sering melukai ego dan menuntut kerendahan hati. Namun justru di situlah doa menjadi nyata. Doa bukan hanya kata-kata yang naik ke surga, tetapi keputusan konkret untuk hidup dengan hati yang bersih, terbuka, dan penuh kasih.

Renungan hari ini mengajak kita untuk percaya: firman Tuhan tidak pernah gagal. Tugas kita bukan memaksanya bekerja sesuai waktu kita, melainkan menyediakan “tanah” hati yang siap menerima, disirami oleh doa yang tulus, sederhana, dan penuh kepercayaan.

Ketika kita berdoa dengan hati yang mau mengampuni dan berserah, firman itu pasti akan berbuah dalam hidup kita, tepat pada waktunya. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan