Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Rabu 25 Februari 2026, Bacaan I Yunus 3:1-10, Bacaan Injil Lukas 11:29-32

Fandy Gerungan • Kamis, 19 Februari 2026 | 10:40 WIB
Photo
Photo

Pekan Prapaskah I (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Yunus 3:1-10

Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian:

"Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu."

Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya.

Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan."

Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.

Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu.

Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: "Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.

Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya.

Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa."

Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 51:3-4,12-13,18-19

Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.

Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.

Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!

Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

Lakukanlah kebaikan kepada Sion menurut kerelaan hati-Mu bangunkanlah tembok-tembok Yerusalem!

Maka Engkau akan berkenan kepada korban yang benar, korban bakaran dan korban yang terbakar seluruhnya; maka orang akan mengorbankan lembu jantan di atas mezbah-Mu.

Bacaan Injil Lukas 11:29-32

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.

Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini.

Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!

Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!"

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Bacaan hari ini membawa kita pada kisah yang sederhana, namun sangat menggugah: sebuah kota besar yang penuh kejahatan justru menjadi contoh pertobatan yang sejati.

Niniwe bukan kota kecil yang mudah diarahkan, melainkan kota besar dengan kebiasaan hidup yang jauh dari kehendak Tuhan. Namun justru di sanalah kita melihat betapa besar kuasa pertobatan ketika hati manusia sungguh terbuka.

Tuhan memberi kesempatan kedua kepada Yunus. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak cepat menyerah, baik terhadap utusan-Nya maupun terhadap umat yang hendak diselamatkan. Ketika Yunus akhirnya melangkah dan menyampaikan pesan Tuhan, yang terjadi sungguh di luar dugaan.

Orang-orang Niniwe tidak membantah, tidak mencari alasan, tidak menunda. Mereka percaya, lalu bertindak. Pertobatan mereka tidak berhenti pada kata-kata, tetapi nyata dalam sikap hidup, kerendahan hati, dan perubahan perilaku.

Yang menarik, pertobatan itu tidak hanya terjadi pada orang kecil, tetapi juga pada pemimpin tertinggi. Raja turun dari tahtanya, menanggalkan simbol kekuasaan, dan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ini menunjukkan bahwa di hadapan Tuhan, semua manusia sama: sama-sama membutuhkan belas kasih dan pengampunan.

Injil hari ini menantang kita dengan pertanyaan yang tajam: mengapa kita sering menuntut tanda, padahal Tuhan sudah berbicara begitu jelas?. Orang-orang Niniwe bertobat hanya karena satu peringatan sederhana. Mereka tidak menunggu mukjizat, tidak meminta bukti tambahan.

Sementara itu, banyak orang di zaman Yesus dan juga di zaman kita justru sulit percaya meski sudah melihat, mendengar, dan mengalami begitu banyak karya Tuhan.

Sering kali kita ingin Tuhan bekerja sesuai keinginan kita: memberi tanda yang spektakuler, jawaban yang instan, atau perubahan yang cepat. Padahal Tuhan lebih menghendaki perubahan hati. Tanda terbesar yang Tuhan berikan adalah ajakan untuk bertobat, untuk berbalik arah, dan untuk hidup dalam kebenaran.

Renungan ini mengajak kita bercermin: apakah kita seperti orang Niniwe yang segera berbenah ketika diingatkan, atau justru seperti orang-orang yang terus menunda sambil menuntut tanda demi tanda?. Masa rahmat selalu tersedia, tetapi tidak selamanya terbuka tanpa batas.

Hari ini Tuhan kembali mengajak kita untuk berani jujur pada diri sendiri, meninggalkan kebiasaan yang merusak, dan sungguh-sungguh kembali kepada-Nya. Pertobatan yang tulus selalu menyentuh hati Tuhan, dan belas kasih-Nya selalu lebih besar daripada kesalahan kita. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan