Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Pemuda, GPIB, Kamis, 26 Februari 2026, Mazmur 29:1-2 Muliakanlah Allah

Alfianne Lumantow • Selasa, 24 Februari 2026 | 13:00 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Mazmur 29:1–2
Tema: MULIAKANLAH ALLAH – Jadikan Allah sebagai Fokus Utama Hidupmu

“Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan!” (ay. 2)

Sobat muda yang terkasih dalam Tuhan, setiap orang pasti pernah merasakan apa yang namanya keberhasilan. Keberhasilan dalam sekolah, keberhasilan dalam pekerjaan, keberhasilan dalam pelayanan, bahkan keberhasilan kecil seperti lulus ujian, diterima kerja, atau berhasil mencapai target tertentu.

Ketika keberhasilan itu datang, biasanya yang muncul adalah perasaan senang, bangga, dan puas. Kita tersenyum, kita ingin bercerita kepada orang lain, bahkan mungkin kita mem-posting-nya di media sosial supaya semua orang tahu bahwa kita berhasil.

Keberhasilan memang membawa sukacita. Itu wajar. Tuhan pun tidak melarang kita bersukacita atas apa yang kita capai. Namun, pertanyaannya adalah: bagaimana sikap kita ketika keberhasilan itu datang?


Apakah kita menjadi pribadi yang bersyukur kepada Tuhan? Ataukah kita menjadi pribadi yang merasa: “Ini semua karena aku. Karena aku pintar. Karena aku hebat. Karena aku kerja keras.”

Sobat muda, di sinilah firman Tuhan hari ini berbicara dengan sangat tajam kepada kita. Mazmur 29:1–2 mengajak kita untuk mengarahkan kembali fokus hidup kita: “Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya.”


Bukan kepada diri kita. Bukan kepada kepintaran kita. Bukan kepada jabatan kita.
Bukan kepada prestasi kita. Tetapi kepada Tuhan.
Keberhasilan Bisa Menjadi Ujian Iman

Sering kali kita berpikir bahwa ujian iman itu datang ketika kita gagal, ketika kita jatuh, ketika kita susah. Padahal, sobat muda, keberhasilan juga adalah ujian iman. Ketika kita gagal, kita cenderung mencari Tuhan. Ketika kita susah, kita cenderung berdoa. Tetapi ketika kita berhasil, sering kali kita lupa Tuhan.

Di sinilah bahaya tersembunyi dari keberhasilan: keberhasilan bisa membuat manusia lupa siapa sumber keberhasilan itu.

Pemazmur sadar betul bahwa manusia mudah mengalihkan kemuliaan dari Allah kepada dirinya sendiri. Karena itu, ia berkata: “Berilah kepada TUHAN kemuliaan dan kekuatan.”

Artinya apa? Segala kemuliaan yang kita miliki sebenarnya bukan milik kita.
Segala kekuatan yang kita pakai sebenarnya bukan berasal dari kita.

Talenta kita dari Tuhan. Kesempatan kita dari Tuhan. Kesehatan kita dari Tuhan. Pikiran yang cerdas dari Tuhan. Napas hidup pun dari Tuhan.

Sobat muda, tanpa Tuhan, kita tidak akan punya apa-apa. Tanpa Tuhan, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tanpa Tuhan, kita tidak bisa berdiri di tempat kita berada sekarang.

Kalau hari ini kita bisa sekolah, itu karena Tuhan membuka jalan.
Kalau hari ini kita bisa bekerja, itu karena Tuhan memberi kesempatan.
Kalau hari ini kita bisa melayani, itu karena Tuhan mempercayakan kita.

Maka, keberhasilan seharusnya tidak membuat kita sombong, tetapi membuat kita semakin tunduk dan semakin bersyukur.

Siapa yang Menjadi Pusat Hidupmu?

Mazmur ini bukan hanya berbicara tentang pujian, tetapi tentang fokus hidup.
Pemazmur mengajak umat untuk kembali memusatkan hidupnya kepada Allah yang layak dimuliakan.

Sobat muda, tanpa kita sadari, dunia sedang mengajarkan kita untuk memuliakan banyak hal:
• Memuliakan uang
• Memuliakan popularitas
• Memuliakan penampilan
• Memuliakan prestasi
• Memuliakan diri sendiri

Budaya zaman ini berkata: “Buktikan siapa dirimu.” “Bangun namamu sendiri.” “Kejar mimpimu setinggi mungkin.” “Jadikan dirimu pusat.”

Tidak semua itu salah. Bekerja keras itu baik. Berprestasi itu baik. Punya mimpi itu baik.
Tetapi masalahnya adalah ketika semua itu menggantikan posisi Tuhan.

Kalau hidup kita hanya berpusat pada:
• Nilai akademik
• Karier
• Uang
• Relasi
• Pengakuan manusia
maka tanpa sadar, kita sedang menjadikan semua itu sebagai “allah kecil” dalam hidup kita.

Mazmur 29 mengingatkan: Hanya Tuhan yang layak dimuliakan. Bukan hal lain. Bukan siapa pun selain Dia.

Sobat muda, pertanyaannya hari ini: Siapa yang menjadi pusat hidupmu? Tuhan atau dirimu sendiri? Tuhan atau kesuksesanmu? Tuhan atau kenyamananmu?

Memuliakan Allah Bukan Hanya dengan Kata-kata
Pemazmur berkata: “Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan.”

Ini penting sekali. Memuliakan Allah bukan hanya soal menyanyi di gereja. Bukan hanya soal angkat tangan saat ibadah. Bukan hanya soal berdoa di depan umum.

Memuliakan Allah harus terwujud dalam sikap hidup.
Apa artinya “berhiaskan kekudusan”? Artinya hidup yang mencerminkan karakter Allah:
• Jujur
• Rendah hati
• Tidak sombong
• Tidak hidup sembarangan
• Tidak kompromi dengan dosa
• Menghormati Tuhan dalam pilihan hidup

Sobat muda, kita bisa menyanyi “Kemuliaan bagi Tuhan” di gereja, tetapi kalau di luar gereja kita hidup sembarangan, kalau kita mudah berkata kotor, kalau kita curang, kalau kita hidup tidak takut Tuhan, maka pujian kita hanya tinggal kata-kata.

Tuhan tidak hanya mau dipuji oleh mulut kita, Tuhan mau dimuliakan lewat hidup kita.

Cara kita belajar bisa memuliakan Tuhan. Cara kita bekerja bisa memuliakan Tuhan.
Cara kita berpacaran bisa memuliakan Tuhan. Cara kita menggunakan media sosial bisa memuliakan Tuhan. Cara kita berbicara bisa memuliakan Tuhan.

Artinya: seluruh hidup kita adalah altar penyembahan.

Dua Sikap dalam Menyikapi Keberhasilan
Dalam pengantar tadi dikatakan bahwa ada dua tipe manusia ketika berhasil:
Pertama, manusia yang bersyukur dan sadar bahwa semuanya karena anugerah Tuhan.
Kedua, manusia yang sombong karena merasa semua itu hasil kemampuannya sendiri.

Sobat muda, dua sikap ini kelihatannya mirip, tetapi dampaknya sangat berbeda.
Orang yang bersyukur:
• Hatinya tetap rendah
• Tidak mudah meremehkan orang lain
• Tidak lupa Tuhan
• Hidupnya menjadi berkat

Orang yang sombong:
• Mudah merendahkan orang lain
• Mudah lupa Tuhan
• Sulit diajar
• Cepat jatuh ketika gagal

Firman Tuhan hari ini mengajak kita memilih sikap yang pertama: sikap yang memuliakan Tuhan.

Keberhasilan sejati bukan hanya soal apa yang kita capai, tetapi soal siapa yang kita muliakan melalui apa yang kita capai.

Aplikasi bagi Sobat Muda

Sobat muda, bagaimana kita mempraktikkan firman ini?
Pertama, biasakan mengucap syukur dalam setiap keberhasilan.
Bukan hanya dalam kegagalan kita berdoa,
tetapi dalam keberhasilan pun kita datang kepada Tuhan dan berkata:
“Tuhan, terima kasih. Ini karena Engkau.”

Kedua, jangan menjadikan prestasi sebagai identitas utama.
Identitas kita bukan “orang sukses”,
bukan “orang pintar”,
bukan “orang terkenal”,
tetapi anak-anak Allah.

Ketiga, hiduplah dengan sikap hormat kepada Tuhan.
Hormat dalam perkataan.
Hormat dalam pergaulan.
Hormat dalam keputusan hidup.

Keempat, jadikan hidupmu kesaksian.
Biarlah orang lain melihat keberhasilanmu,
tetapi juga melihat kerendahan hatimu,
melihat imanmu,
melihat bahwa Tuhanlah yang dimuliakan lewat hidupmu.

Sobat muda yang terkasih, Mazmur hari ini mengajak kita untuk kembali menata fokus hidup kita. Di tengah dunia yang mengajarkan untuk memuliakan diri sendiri, firman Tuhan mengajak kita untuk memuliakan Allah.

Segala kemuliaan dan kekuatan adalah milik Tuhan.
Tugas kita adalah hidup dalam kekudusan dan hormat kepada-Nya.

Mari kita bertanya pada diri sendiri:
Apakah hidupku sedang memuliakan Tuhan?
Ataukah aku sedang memuliakan diriku sendiri?

Hari ini, Tuhan memanggil kita:
“Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya.”

Bukan hanya lewat pujian,
tetapi lewat seluruh hidup kita.

Kiranya sebagai sobat muda, kita tidak hanya menjadi generasi yang sukses,
tetapi menjadi generasi yang tahu kepada siapa kemuliaan itu harus diberikan.

Mari kita muliakan Allah dalam setiap langkah hidup kita, dalam keberhasilan maupun dalam kegagalan, dalam terang maupun dalam gelap, sebab hanya Dia yang layak dimuliakan. Amin.

Doa : Tuhan yang mulia, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Ajari kami memuliakan Engkau dalam setiap keberhasilan dan kegagalan, hidup dalam kekudusan, dan rendah hati di hadapan-Mu. Kuatkan langkah kami agar hidup kami menjadi kesaksian yang memuliakan nama-Mu. Tuntun kami untuk setia, jujur, dan taat di mana pun kami berada hari demi kemuliaan Engkau selamanya. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB