Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Sabtu 28 Februari 2026, Bacaan I Ulangan 26:16-19, Bacaan Injil Matius 5:43-48

Fandy Gerungan • Rabu, 25 Februari 2026 | 13:56 WIB

Photo
Photo

Pekan Prapaskah I (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Ulangan 26:16-19

"Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu.

Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkaupun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya.

Dan TUHAN telah menerima janji dari padamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya,

dan Iapun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya."

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 119:1-2,4-5,7-8

Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN.

Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati,

Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh.

Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu!

Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil.

Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku sama sekali.

Bacaan Injil Matius 5:43-48

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?

Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?

Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i dalam perjalanan iman, kita sering berpikir bahwa menjadi umat Allah berarti sekadar menaati aturan, rajin beribadah, dan hidup “baik” menurut ukuran umum.

Namun bacaan hari ini membawa kita lebih dalam: Allah tidak hanya menghendaki ketaatan lahiriah, melainkan penyerahan diri yang utuh—hati dan jiwa.

Allah memilih umat-Nya bukan secara sepihak. Ada relasi timbal balik. Ketika kita bersedia berjalan di jalan-Nya, mendengarkan kehendak-Nya, dan hidup seturut nilai-nilai-Nya, Allah berjanji menyebut kita sebagai milik kesayangan-Nya.

Identitas ini bukan sekadar status istimewa, melainkan panggilan hidup: menjadi umat yang kudus, berbeda bukan karena merasa lebih tinggi, tetapi karena cara hidup yang memancarkan kasih Allah.

Yesus kemudian membawa panggilan ini ke tingkat yang jauh lebih radikal. Kekudusan tidak lagi diukur hanya dari siapa yang kita taati, tetapi dari siapa yang kita kasihi. Kasih yang ditawarkan-Nya tidak berhenti pada orang-orang yang menyenangkan hati kita, yang sejalan dengan pikiran kita, atau yang berbuat baik kepada kita.

Ia mengajak kita melampaui batas naluri manusia: mengasihi mereka yang melukai, mendoakan mereka yang menyakiti, dan tetap berbuat baik ketika dibalas dengan kebencian.

Di sinilah iman diuji. Mengasihi orang baik itu mudah. Namun mengasihi musuh adalah cermin sejati kedewasaan rohani. Kasih seperti inilah yang membuat kita sungguh mencerminkan wajah Bapa di surga Allah yang tetap memberi kehidupan, berkat, dan kesempatan kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan.

Menjadi “sempurna” bukan berarti tanpa cela, melainkan bertumbuh dalam kasih yang semakin luas, semakin dewasa, dan semakin menyerupai kasih Allah sendiri. Kekudusan bukan soal kesempurnaan moral yang kaku, tetapi kesetiaan untuk terus memilih kasih, bahkan ketika itu terasa berat.

Hari ini kita diundang untuk bertanya pada diri sendiri:
Apakah hidupku sudah mencerminkan identitasku sebagai umat kesayangan Allah?.
Apakah kasihku masih penuh syarat, atau sudah mulai belajar mengasihi seperti Dia mengasihi?.

Semoga kita diberi hati yang setia dan jiwa yang berani berani taat, berani mengasihi, dan berani menjadi terang di tengah dunia yang sering memilih kebencian. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan