Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Minggu 1 Maret 2026, Bacaan I Kejadian 12:1-4a, Bacaan II 2 Timotius 1:8b-10, Bacaan Injil Matius 17:1-9

Fandy Gerungan • Rabu, 25 Februari 2026 | 13:59 WIB

Photo
Photo

Minggu Prapaskah II (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Kejadian 12:1-4a

Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;

Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."

Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.

Mazmur 33:4-5,18-19,20,22

Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.

Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN.

Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya,

untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.

Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita!

Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.

Bacaan II 2 Timotius 1:8b-10

Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.

Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman

dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Matius 17:1-9

Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.

Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.

Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.

Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."

Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."

Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.

Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!"

Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i iman sejati sering kali dimulai dengan satu langkah yang terasa berat: meninggalkan rasa aman. Abram dipanggil untuk keluar dari semua yang sudah dikenal tanah asal, keluarga, dan masa lalu yang memberi kepastian. Ia tidak diberi peta yang lengkap, hanya sebuah janji dan arah.

Namun justru di situlah iman bertumbuh. Abram melangkah bukan karena ia sudah melihat hasilnya, melainkan karena ia percaya kepada Pribadi yang memanggilnya. Dan dari ketaatan itu, hidupnya bukan hanya diberkati, tetapi menjadi berkat bagi banyak orang.

Panggilan yang sama juga bergema dalam hidup kita. Mengikuti Tuhan sering berarti berani keluar dari zona nyaman: meninggalkan kebiasaan lama, pola pikir lama, bahkan ketakutan yang selama ini mengikat.

Panggilan Allah tidak selalu membuat hidup lebih mudah, tetapi selalu memberi hidup makna yang lebih dalam.

Bacaan kedua mengingatkan bahwa panggilan itu tidak lepas dari tantangan. Menjadi pengikut Kristus berarti berani bersaksi, bahkan ketika itu membawa risiko dan penderitaan.

Iman bukan soal gengsi atau kenyamanan, melainkan kesetiaan. Kekuatan untuk bertahan tidak lahir dari kemampuan kita sendiri, tetapi dari rahmat Allah yang lebih dahulu bekerja dalam hidup kita. Dalam Kristus, maut tidak lagi menjadi akhir, dan penderitaan tidak pernah sia-sia.

Injil hari ini menyingkapkan sumber kekuatan itu. Di atas gunung, para murid diperkenankan melihat sekilas kemuliaan Yesus. Pengalaman rohani itu begitu indah hingga mereka ingin tinggal selamanya di sana. Namun iman tidak berhenti di puncak gunung.

Setelah terang dan kekaguman, mereka harus turun kembali, menghadapi kenyataan hidup, salib, dan kebingungan. Yang terpenting, mereka tidak diminta membawa pengalaman itu sebagai cerita sensasional, tetapi sebagai kekuatan batin untuk perjalanan selanjutnya.

Ketika murid-murid diliputi takut, Yesus mendekat, menyentuh, dan meneguhkan mereka. Pesannya sederhana namun mendalam: bangkitlah dan jangan takut. Dalam perjalanan iman, Tuhan tidak menjanjikan hidup tanpa guncangan, tetapi Ia menjanjikan kehadiran-Nya yang setia.

Hari ini kita diundang untuk merenung:
Apakah kita berani melangkah ketika Tuhan memanggil, seperti Abram?.
Apakah kita tetap setia bersaksi, meski iman menuntut pengorbanan?.

Dan apakah kita mau mendengarkan Yesus, bukan hanya saat hati kita berkobar di “gunung”, tetapi juga saat harus turun menghadapi realitas hidup?

Semoga pengalaman akan Tuhan baik yang indah maupun yang penuh tantangan mengubah kita menjadi pribadi yang lebih percaya, lebih berani, dan semakin menjadi berkat bagi sesama. (*)



Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan