Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Pernahkah kita merasa hidup kita seperti berantakan? Rencana tidak berjalan sesuai harapan.
Usaha sudah maksimal, tetapi hasilnya mengecewakan. Hubungan yang kita jaga baik-baik justru retak.
Pelayanan yang kita lakukan tidak dihargai. Bahkan mungkin kita pernah merasa gagal dan hancur.
Dalam keadaan seperti itu, kita sering bertanya:
“Tuhan, mengapa ini terjadi?”
“Tuhan, mengapa hidup saya seperti dibentuk ulang?”
Firman Tuhan dalam Yeremia 18:1–17 memberi kita gambaran yang sangat sederhana tetapi dalam maknanya.
Tuhan menyuruh nabi Yeremia pergi ke rumah tukang periuk. Di sana, Yeremia melihat tanah liat yang sedang dibentuk.
Ketika bentuknya rusak, tukang periuk itu tidak membuangnya. Ia membentuknya kembali.
Lalu Tuhan berkata:
“Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku.”
Artinya jelas: hidup kita ada di tangan Tuhan. Dia yang membentuk. Dia yang mengatur. Dia yang memperbaiki.
Baca Juga: Ini Petunjuk Pengisian Formulir Sensus Anggota Jemaat GMIM Tahun 2025
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Kitab Yeremia ditulis oleh nabi Yeremia. Ia hidup pada masa bangsa Yehuda sedang mengalami kemerosotan rohani.
Mereka menjauh dari Tuhan, menyembah berhala, dan tidak mau mendengar peringatan.
Tuhan mengutus Yeremia untuk menegur dan mengajak mereka kembali. Tetapi bangsa itu keras hati. Mereka merasa tidak membutuhkan Tuhan.
Melalui gambaran tukang periuk dan tanah liat, Tuhan ingin menunjukkan dua hal penting:
-
Tuhan berkuasa atas hidup umat-Nya.
-
Tuhan memberi kesempatan untuk bertobat dan dibentuk ulang.
Tema ini sangat penting bagi kita hari ini. Kita hidup di zaman yang mengajarkan bahwa kita adalah penentu hidup kita sendiri. Tetapi firman Tuhan mengingatkan bahwa sebenarnya hidup kita ada di tangan-Nya.
Pembahasan Ayat per Ayat
Ayat 1–2
Tuhan menyuruh Yeremia pergi ke rumah tukang periuk.
Tuhan tidak langsung memberi penjelasan panjang. Ia menyuruh Yeremia melihat sendiri prosesnya.
Artinya, kadang Tuhan mengajar kita melalui pengalaman hidup, bukan hanya lewat kata-kata.
Rumah tukang periuk itu sederhana. Tetapi di sana ada pelajaran besar: hidup manusia sedang dibentuk.
Ayat 3–4
Tanah liat yang sedang dibentuk itu rusak di tangan tukang periuk, lalu dibentuk kembali.
Tanah liat itu rusak. Bentuknya tidak sesuai. Tetapi tukang periuk tidak membuangnya. Ia tidak berkata, “Sudah rusak, buang saja.” Ia membentuknya kembali menjadi bejana lain yang baik menurut pandangannya.
Saudara-saudara,
Bukankah hidup kita kadang seperti itu?
Kita pernah gagal.
Kita pernah jatuh dalam dosa.
Kita pernah salah mengambil keputusan.
Kita merasa hidup kita rusak.
Tetapi Tuhan tidak membuang kita. Dia tidak menyerah. Dia membentuk kembali.
Kadang proses dibentuk itu tidak nyaman. Tanah liat diremas, ditekan, diputar di atas roda. Tetapi tanpa proses itu, tidak akan ada bentuk yang indah.
Ayat 5–6
“Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku.”
Tuhan menegaskan bahwa Dia adalah Tukang Periuk, dan kita adalah tanah liat.
Tanah liat tidak menentukan bentuknya sendiri. Ia tidak berkata, “Saya mau jadi ini, bukan itu.” Tukang periuklah yang menentukan.
Masalahnya, sering kali kita ingin menentukan sendiri hidup kita tanpa melibatkan Tuhan. Kita marah ketika rencana kita berubah. Kita kecewa ketika jalan kita tidak mulus.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan: kita ada di tangan Tuhan. Dan tangan-Nya adalah tangan yang penuh kasih.
Ayat 7–10
Tuhan menjelaskan bahwa jika suatu bangsa bertobat, Ia bisa membatalkan hukuman. Jika mereka berbuat jahat, Ia bisa membatalkan berkat.
Ini menunjukkan bahwa Tuhan adil tetapi juga penuh kasih. Dia memberi kesempatan. Jika kita mau berubah, Tuhan siap memulihkan.
Artinya, masa depan kita tidak ditentukan oleh masa lalu kita, tetapi oleh sikap hati kita hari ini.
Ayat 11–12
Tuhan mengajak bangsa itu bertobat, tetapi mereka berkata: “Kami mau mengikuti rencana kami sendiri.”
Inilah sikap yang berbahaya: keras hati.
Sering kali kita juga seperti itu. Kita tahu Tuhan menegur kita. Kita tahu ada yang harus diperbaiki. Tetapi kita berkata dalam hati, “Tidak apa-apa. Saya tetap mau jalan sendiri.”
Tanah liat yang keras sulit dibentuk.
Ayat 13–17
Tuhan menunjukkan akibat dari pemberontakan mereka. Jika terus menolak, mereka akan mengalami kehancuran.
Ini bukan karena Tuhan kejam, tetapi karena mereka memilih jalan yang salah.
Ketika kita menolak dibentuk Tuhan, kita sebenarnya sedang menghancurkan diri sendiri.
Baca Juga: Maret-April Pemetaan Kolom, Ini Tahapan Lengkap Pemilihan Penatua dan Diaken di Aras Jemaat GMIM
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Hari ini banyak orang ingin hasil instan. Tidak mau proses. Tidak mau dibentuk. Padahal pembentukan Tuhan sering terjadi lewat:
-
Kegagalan
-
Masalah keluarga
-
Sakit penyakit
-
Teguran
-
Penantian panjang
Semua itu bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk membentuk kita.
Mungkin hari ini ada yang sedang merasa hidupnya seperti diputar-putar dan ditekan. Ingatlah: Tukang Periuk tidak pernah meninggalkan tanah liatnya.
Baca Juga: Pemilihan BPMS GMIM Digelar Maret 2027, Ini Tahapan Lengkap Pemilihan di Aras Sinode
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Kisah Yusuf adalah contoh nyata.
Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya, difitnah, dan dipenjara. Hidupnya seperti hancur. Tetapi sebenarnya Tuhan sedang membentuknya.
Dari seorang anak muda yang dimanja, Tuhan membentuknya menjadi pemimpin yang bijaksana. Prosesnya panjang dan menyakitkan, tetapi hasilnya luar biasa.
Yusuf tidak tahu rencana Tuhan saat itu. Tetapi ia tetap setia.
Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Firman Tuhan hari ini memberikan satu gambaran yang sangat kuat dalam hati kita:
Kita adalah tanah liat, dan Tuhan adalah Tukang Periuk.
Gambaran ini sederhana. Semua orang bisa memahaminya. Tetapi semakin kita renungkan, semakin dalam artinya.
Tanah liat tidak bisa membentuk dirinya sendiri. Ia tidak bisa berkata, “Saya mau jadi seperti ini.”
Ia hanya bisa menyerahkan diri kepada tangan yang membentuknya. Dan hasil akhirnya sepenuhnya tergantung pada siapa yang memegangnya.
Kabar baiknya adalah: hidup kita ada di tangan Tuhan.
Bukan di tangan nasib.
Bukan di tangan keadaan.
Bukan di tangan manusia.
Tetapi di tangan Tuhan yang penuh kasih dan penuh hikmat.
Kadang kita merasa hidup ini seperti sedang diremas. Tekanan datang bertubi-tubi.
Masalah keluarga, pekerjaan, kesehatan, pelayanan, ekonomi, semuanya seperti menekan dari berbagai arah.
Kita merasa tidak nyaman. Kita bertanya-tanya mengapa harus melalui ini semua.
Namun mari kita ingat: tanah liat memang harus diremas sebelum dibentuk. Jika tidak diremas, ia tetap keras dan tidak bisa dibentuk.
Jika tidak diputar di atas roda, ia tidak akan simetris. Jika tidak dimasukkan ke dalam api, ia tidak akan kuat.
Proses itu tidak menyenangkan, tetapi sangat penting.
Mungkin hari ini kita sedang dalam proses itu.
Mungkin Tuhan sedang mengizinkan kita mengalami sesuatu yang berat.
Mungkin ada doa yang belum dijawab.
Mungkin ada rencana yang gagal.
Mungkin ada pintu yang tertutup.
Jangan cepat menyimpulkan bahwa Tuhan meninggalkan kita.
Bisa jadi Tuhan sedang membentuk sesuatu yang lebih baik daripada yang kita bayangkan.
Tema ini mengajarkan kita untuk percaya pada tangan Tuhan. Tangan-Nya tidak pernah salah.
Tangan-Nya tidak pernah ceroboh. Tangan-Nya tidak pernah asal-asalan. Dia membentuk dengan tujuan.
Kadang kita hanya melihat tekanan. Tuhan melihat hasil akhir.
Kadang kita hanya melihat rasa sakit.
Tuhan melihat keindahan yang sedang dibentuk.
Kadang kita hanya melihat kegagalan. Tuhan melihat kesempatan untuk membentuk ulang.
Implikasi
Pertama, kita dipanggil untuk hidup dalam penyerahan diri yang sungguh-sungguh.
Penyerahan bukan sekadar kata, tetapi sikap hati.
Artinya kita berkata, “Tuhan, bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mu yang jadi.” Itu tidak mudah, tetapi itu langkah iman yang dewasa.
Kedua, kita harus menjaga hati tetap lembut.
Hati yang kecewa bisa menjadi keras. Hati yang terluka bisa menjadi pahit. Hati yang marah bisa menolak dibentuk.
Jika hati kita mengeras, kita akan sulit menerima arahan Tuhan. Karena itu, mintalah Tuhan melembutkan hati kita setiap hari.
Ketiga, kita harus sabar dalam proses.
Tanah liat tidak langsung menjadi bejana dalam satu menit. Ada waktu. Ada tahapan. Begitu juga dengan hidup kita.
Jangan terburu-buru. Jangan membandingkan proses kita dengan orang lain. Tuhan punya waktu-Nya sendiri untuk setiap orang.
Keempat, kita harus percaya bahwa Tuhan punya rencana yang baik.
Walaupun kita belum melihat hasilnya, percayalah bahwa Tuhan sedang bekerja. Tidak ada proses yang sia-sia di tangan Tuhan.
Ajakan
Hari ini mari kita bertanya dengan jujur pada diri sendiri:
Apakah saya sedang melawan tangan Tuhan?
Apakah saya sedang mengeraskan hati?
Apakah saya terlalu memaksakan kehendak saya sendiri?
Jika ya, hari ini adalah waktu untuk berubah.
Mari kita datang kepada Tuhan dan berkata:
“Tuhan, aku mau Engkau bentuk.”
“Tuhan, walaupun prosesnya berat, aku percaya Engkau tahu yang terbaik.”
“Tuhan, lembutkan hatiku supaya aku tidak melawan kehendak-Mu.”
Saudara-saudara,
Lebih baik kita dibentuk oleh Tuhan sekarang, daripada hancur karena menolak-Nya.
Lebih baik kita melewati proses bersama Tuhan, daripada berjalan sendiri tanpa arah.
Lebih baik kita menyerahkan hidup pada tangan-Nya, daripada memaksakan rencana yang belum tentu benar.
Ingatlah, Tukang Periuk tidak pernah meninggalkan tanah liat di tengah proses. Ia terus memegangnya sampai selesai.
Demikian juga Tuhan tidak akan meninggalkan kita sampai rencana-Nya tergenapi.
Mungkin hari ini hidup kita belum terlihat indah.
Mungkin bentuknya belum jelas.
Mungkin prosesnya masih berjalan.
Tetapi percayalah, ketika kita tetap lembut di tangan Tuhan, pada waktunya hidup kita akan menjadi bejana yang kuat, berguna, dan memuliakan nama-Nya.
Mari kita pulang hari ini dengan hati yang percaya, hati yang berserah, dan hati yang siap dibentuk.
Karena selama kita ada di tangan Tuhan, kita berada di tempat yang paling aman dan paling tepat.
Amin.
Editor : Clavel Lukas