Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Yeremia 18:1–17 untuk P/KB, Seperti Tanah Liat di Tangan Tukang Periuk, Demikianlah Kamu di Tangan-Ku

Clavel Lukas • Sabtu, 28 Februari 2026 | 19:48 WIB

 

Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Saudara-saudara Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Dalam kehidupan seorang pria dan kepala keluarga, sering muncul pergumulan besar:

Tanggung jawab keluarga, pekerjaan, masa depan anak-anak, tekanan ekonomi, pelayanan gereja, bahkan pergumulan batin yang tidak selalu bisa diceritakan kepada orang lain.

Banyak pria terlihat kuat di luar, tetapi sebenarnya sedang bergumul di dalam.

Ada saatnya hidup tidak berjalan sesuai rencana. Usaha gagal, kesehatan menurun, relasi terganggu, atau pelayanan terasa berat. Dalam situasi seperti itu, sering muncul pertanyaan:

“Tuhan, mengapa hidup saya dibentuk seperti ini?”

Melalui Yeremia 18:1–17, Tuhan memberikan gambaran yang sangat sederhana tetapi sangat dalam: manusia seperti tanah liat, dan Tuhan adalah Tukang Periuk.

Tema ini mengajarkan bahwa hidup orang percaya bukan kebetulan, melainkan hasil pembentukan Allah.

Baca Juga: Materi Khotbah Yeremia 18:1-17, Seperti Tanah Liat di Tangan Tukang Periuk, Demikianlah Kamu di Tangan-Ku

Baca Juga: Renungan Yeremia 18:1–17, Seperti Tanah Liat di Tangan Tukang Periuk, Demikianlah Kamu di Tangan-Ku

Saudara-saudara Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Kitab Yeremia ditulis pada masa yang sangat sulit dalam sejarah Yehuda, sekitar abad ke-7 SM, menjelang kehancuran Yerusalem oleh Babel. Umat Tuhan hidup dalam kemerosotan rohani:

Nabi Yeremia dipanggil untuk menyampaikan teguran dan ajakan pertobatan. Namun umat tidak mau berubah.

Karena itu Tuhan memakai perumpamaan tukang periuk untuk menjelaskan hubungan-Nya dengan umat-Nya.

Tema ini menegaskan tiga kebenaran utama:

  1. Tuhan berdaulat atas hidup manusia.

  2. Tuhan membentuk, bukan menghancurkan tanpa tujuan.

  3. Respons manusia menentukan hasil pembentukan itu.

Bagi P/KB GMIM, tema ini sangat relevan karena pria sering merasa harus mengontrol segalanya, padahal Alkitab mengingatkan: hidup tetap berada dalam tangan Tuhan.

PEMBAHASAN AYAT PER AYAT

Ayat 1–2 — Tuhan Memanggil untuk Belajar

Tuhan menyuruh Yeremia pergi ke rumah tukang periuk.

Artinya: pelajaran rohani sering diberikan melalui kehidupan sehari-hari. Tuhan tidak selalu berbicara lewat hal spektakuler, tetapi lewat pengalaman biasa.

Bagi kaum bapa:

Pertanyaannya: apakah kita mau belajar?

Ayat 3–4 — Tanah Liat yang Rusak Dibentuk Kembali

Bejana itu rusak di tangan tukang periuk, lalu dibuat ulang.

Ini gambaran kasih Tuhan.

Kesalahan manusia tidak langsung membuat Tuhan membuangnya. Ia membentuk ulang.

Secara teologis ini berbicara tentang:

Dalam kehidupan pria:

Tetapi Tuhan berkata: hidup yang rusak masih bisa dibentuk ulang.

Ayat 5–6 — Kedaulatan Allah

“Seperti tanah liat di tangan tukang periuk…”

Ini pernyataan kedaulatan Allah.

Tanah liat tidak menentukan bentuknya. Tukang periuk yang menentukan.

Namun ini bukan berarti manusia tidak berharga. Justru karena berharga, Tuhan membentuk dengan serius.

Banyak pria ingin menjadi pengendali hidup:

Tetapi firman Tuhan mengingatkan:

Kita bukan penguasa hidup — kita adalah milik Tuhan.

Ayat 7–10 — Tuhan Melihat Respons Manusia

Tuhan menyatakan bahwa keputusan-Nya terhadap suatu bangsa bisa berubah sesuai respons mereka.

Jika bertobat → Tuhan memulihkan.
Jika memberontak → konsekuensi datang.

Ini menunjukkan hubungan dinamis antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia.

Bagi kaum bapa:

Seorang ayah yang kembali kepada Tuhan dapat menjadi titik balik generasi.

Ayat 11–13 — Ajakan untuk Berbalik

Tuhan berkata: “Bertobatlah!”

Masalah terbesar umat bukan ketidaktahuan, tetapi keras hati.

Keras hati sering muncul dalam bentuk:

Padahal tanah liat yang keras tidak bisa dibentuk.

Ayat 14–17 — Akibat Menolak Pembentukan

Umat menolak Tuhan, sehingga kehancuran menjadi konsekuensi.

Secara rohani, ini mengingatkan:
Jika manusia terus menolak pembentukan Tuhan, hidupnya kehilangan arah.

Banyak krisis keluarga hari ini terjadi bukan karena kurang kemampuan, tetapi karena hidup tidak lagi dibentuk oleh Tuhan.

Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan,

Kaum bapa menghadapi tekanan zaman modern:

Firman ini mengingatkan:

Tuhan sedang membentuk karakter, bukan sekadar keberhasilan.
Tuhan lebih peduli siapa kita daripada apa yang kita miliki.
Proses hidup adalah alat pembentukan iman.


Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan,

Kita melihat contoh dalam kehidupan Rasul Petrus.

Petrus pernah:

Secara manusia, ia seperti bejana rusak.

Namun Yesus tidak membuangnya. Setelah kebangkitan, Yesus memulihkan Petrus (Yohanes 21).

Petrus yang dahulu gagal akhirnya menjadi pemimpin gereja mula-mula.

Ia dibentuk ulang oleh Tuhan.

Itulah pekerjaan Tukang Periuk ilahi.

PENUTUP

Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan,

Tema hari ini bukan sekadar gambaran indah. Ini adalah panggilan hidup.

Kita adalah tanah liat. Tuhan adalah Tukang Periuk.

Artinya hidup kita sedang diproses setiap hari.

Mungkin saat ini ada yang merasa:

Tetapi ingatlah: tekanan di tangan Tukang Periuk bukan untuk menghancurkan, melainkan membentuk.

Tanah liat harus diputar agar seimbang.
Harus ditekan agar kuat.
Harus dibentuk agar indah.

Begitu juga hidup kita.

Implikasi

  1. Jadilah P/KB yang mau dibentuk Tuhan

    • Rendah hati menerima koreksi.

    • Mau bertobat.

    • Mau belajar firman.

  2. Bangun keluarga yang dibentuk oleh Tuhan

    • Ayah adalah pembentuk arah rohani keluarga.

    • Anak belajar iman dari teladan ayah.

  3. Percaya pada proses Tuhan

    • Tidak semua kesulitan adalah hukuman.

    • Banyak kesulitan adalah pembentukan.

  4. Jangan mengeraskan hati

    • Hati keras menghentikan pembentukan.

    • Hati lembut menghasilkan pertumbuhan.

Ajakan

Hari ini Tuhan tidak bertanya apakah hidup kita sempurna. Tuhan hanya bertanya:

Apakah engkau mau tetap berada di tangan-Ku?

Mari kaum bapa:

Katakan dalam hati:

“Tuhan, bentuklah aku menjadi ayah yang Engkau kehendaki.”

“Bentuklah aku menjadi suami yang setia.”

“Bentuklah aku menjadi pelayan yang rendah hati.”

Karena ketika seorang pria dibentuk Tuhan, satu keluarga diselamatkan.

Ketika seorang ayah berubah, satu generasi diberkati.

Ketika kaum bapa hidup di tangan Tuhan, gereja menjadi kuat.

Jangan takut pada proses Tuhan.
Jangan lari dari tangan-Nya.
Tetaplah lembut, tetaplah percaya.

Sebab di tangan Tukang Periuk Ilahi, hidup kita tidak pernah sia-sia — tetapi sedang dipersiapkan menjadi bejana yang mulia bagi kemuliaan Tuhan.

Amin.

Editor : Clavel Lukas
#PKB GMIM #MTPJ #khotbah #P/KB #Renungan GMIM