Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Pemuda, GPIB, Selasa, 3 Maret 2026, Markus 9:19 Pay Attention Please

Alfianne Lumantow • Senin, 2 Maret 2026 | 21:08 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab : Markus 9:19
Tema : “PAY ATTENTION, PLEASE!”
“Perhatikanlah jalan-jalan Tuhan dalam kasih dan ketaatan!”

“Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” (Markus 9:19)

Saudara-saudari terkasih, khususnya kita semua kaum muda, mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan sederhana: Apa yang seharusnya kita lakukan ketika seseorang sedang berbicara kepada kita?

Jawabannya jelas: mendengarkan dengan penuh perhatian.
Bukan sekadar mendengar, tetapi benar-benar memperhatikan—dengan mata, telinga, pikiran, dan hati.

Namun pertanyaannya sekarang: masihkah mudah menemukan orang-orang yang benar-benar bisa pay attention saat orang lain berbicara?

Hari-hari ini, kita hidup dalam dunia yang penuh distraksi. Saat orang tua bicara, kita sibuk dengan ponsel. Saat guru menjelaskan, kita buka media sosial.

Bahkan saat teman curhat, kita setengah mendengar karena pikiran kita sudah melayang ke hal lain. Kita hidup di zaman serba cepat, serba instan, tetapi ironisnya kita kehilangan satu hal penting: kemampuan untuk fokus dan memberi perhatian.

Padahal, tanpa perhatian, kita kehilangan makna.
Tanpa perhatian, kita kehilangan arah.
Tanpa perhatian, kita bisa kehilangan Tuhan di tengah kesibukan kita.
Itulah yang juga terjadi dalam kisah Markus pasal 9 ini.

Murid-murid Kehilangan Fokus
Dalam peristiwa penyembuhan anak yang kerasukan roh jahat, murid-murid Yesus mengalami kegagalan. Mereka sudah pernah diutus, sudah pernah menyembuhkan orang sakit, sudah pernah mengusir setan. Tetapi kali ini mereka tidak mampu melakukannya.

Mengapa?
Bukan karena kuasa Tuhan berkurang.
Bukan karena Yesus tidak menyertai mereka.
Tetapi karena mereka kehilangan fokus dan kepercayaan.

Mereka lebih sibuk menghadapi perdebatan dengan ahli Taurat daripada mengandalkan Tuhan. Mereka lebih takut pada tekanan luar daripada percaya kepada Yesus. Mereka lupa pada teladan yang sudah Yesus ajarkan selama ini.

Dengan kata lain, mereka tidak lagi pay attention kepada Tuhan, melainkan kepada masalah, tekanan, dan penilaian manusia.

Bukankah ini sangat mirip dengan kita?
Sebagai pemuda Kristen, kita sering tahu firman Tuhan. Kita sering dengar khotbah. Kita tahu Tuhan itu baik, Tuhan itu berkuasa, Tuhan itu setia. Tetapi ketika masalah datang—gagal kuliah, patah hati, konflik keluarga, tekanan ekonomi—kita mulai panik, ragu, dan takut.

Kita mulai lebih fokus pada masalah daripada pada Tuhan.
Kita lebih mendengar suara dunia daripada suara firman.
Kita lebih percaya pada logika kita sendiri daripada kuasa Tuhan.

Akibatnya, iman kita menjadi lemah. Pelayanan kita menjadi kering. Hidup rohani kita menjadi rutinitas tanpa kuasa.

Teguran Yesus: Bukan Marah, Tapi Mengasihi
Perkataan Yesus terdengar keras:
“Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu?”

Sekilas, Yesus tampak marah dan kecewa. Tetapi jika kita melihat lebih dalam, teguran ini lahir dari kasih dan kepedulian.
Yesus tahu waktu-Nya di dunia tidak lama lagi. Ia tahu para murid harus belajar mandiri. Mereka harus melayani tanpa kehadiran fisik Yesus. Maka iman mereka harus kuat, bukan bergantung pada mujizat semata, tetapi pada hubungan yang benar dengan Tuhan.

Teguran Yesus adalah panggilan untuk bangun.
Panggilan untuk sadar.
Panggilan untuk kembali fokus.

Yesus seperti berkata: “Perhatikan Aku. Jangan hanya melihat masalah. Jangan hanya takut pada manusia. Lihatlah siapa yang menyertai kamu.”

Ini juga pesan Tuhan bagi kita hari ini:
Pay attention to God.
Tuhan bukan hanya mau kita rajin ke gereja.
Tuhan bukan hanya mau kita aktif pelayanan.
Tuhan mau kita sungguh-sungguh percaya dan taat.

Bukan setengah-setengah.
Bukan sekadar formalitas.
Bukan hanya saat butuh.

Distraksi Iman Zaman Sekarang
Kaum muda, kita hidup di zaman yang penuh distraksi rohani.
Media sosial bisa mencuri waktu doa.
Hiburan bisa menggantikan firman Tuhan.
Ambisi dunia bisa menggeser panggilan Tuhan.

Tanpa sadar, kita masih ke gereja, tetapi hati kita jauh dari Tuhan. Kita masih menyebut nama Yesus, tetapi hidup kita dikendalikan oleh dunia.

Kita tahu ayat Alkitab, tetapi kita jarang merenungkannya.
Kita tahu lagu rohani, tetapi kita jarang berdoa.
Kita tahu Tuhan itu penting, tetapi kita memberi-Nya sisa waktu.
Inilah iman yang tidak fokus.
Inilah iman yang tidak pay attention.

Akibatnya, saat krisis datang, kita tidak siap. Saat pelayanan menantang, kita mudah menyerah. Saat iman diuji, kita goyah.

Yesus tidak mau murid-murid-Nya hidup seperti ini. Dan Yesus juga tidak mau kita hidup seperti ini.

Fokus yang Benar Menghasilkan Kuasa yang Benar
Yesus mengalihkan kembali perhatian murid-murid pada inti persoalan: penyembuhan anak itu. Ia tidak larut dalam debat. Ia tidak sibuk membela diri. Ia langsung membawa anak itu kepada-Nya.

Ini mengajarkan kita satu hal penting:
Ketika kita fokus kepada Tuhan, kuasa Tuhan dinyatakan.
Masalah tidak selalu langsung hilang.
Pergumulan tidak selalu langsung selesai.
Tetapi ketika perhatian kita tertuju kepada Tuhan, iman kita dikuatkan.

Pelayanan yang berhasil bukan karena kita hebat, tetapi karena kita percaya.
Doa yang berkuasa bukan karena kata-katanya indah, tetapi karena hatinya sungguh-sungguh.
Iman yang dewasa bukan karena pengalaman banyak, tetapi karena relasi yang dekat dengan Tuhan.

Yesus mau murid-murid-Nya belajar bahwa pelayanan tanpa iman hanyalah aktivitas kosong. Dan iman tanpa perhatian kepada Tuhan hanyalah teori tanpa kuasa.

Aplikasi untuk Kaum Muda
Sekarang pertanyaannya untuk kita: Apakah kita sungguh-sungguh memperhatikan Tuhan dalam hidup kita?

Saat firman disampaikan, apakah kita mendengarkan dengan hati terbuka?
Saat Tuhan menegur lewat orang lain, apakah kita mau berubah?
Saat Tuhan memanggil kita melayani, apakah kita siap taat?

Atau kita seperti murid-murid itu: sibuk, bingung, takut, dan lupa pada siapa yang kita layani?

Tema kita hari ini sederhana tapi dalam:
“PAY ATTENTION, PLEASE!”
Artinya:
Perhatikan Tuhan dalam keputusanmu.
Perhatikan firman-Nya dalam langkahmu.
Perhatikan kehendak-Nya dalam hidupmu.

Jangan hanya memperhatikan:
– pendapat teman
– tekanan lingkungan
– standar dunia
– ketakutan pribadi

Tetapi perhatikan:
– suara Tuhan
– kebenaran firman
– panggilan hidup
– kehendak-Nya

Percaya dan Memberi Diri Sepenuh Hati
Yesus tidak mau murid-murid-Nya setengah-setengah. Ia mau mereka percaya sepenuh hati dan melayani dengan totalitas.

Tuhan juga tidak mau kita mempermainkan iman.
Tidak mau kita datang kepada-Nya hanya saat butuh.
Tidak mau kita menyebut nama-Nya tetapi hidup menurut kehendak sendiri.

Percaya kepada Tuhan berarti:
– mengandalkan Dia saat susah
– bersyukur kepada Dia saat senang
– taat kepada-Nya saat sulit
– setia kepada-Nya saat diuji

Inilah iman yang pay attention.
Inilah iman yang hidup.
Inilah iman yang berkenan kepada Tuhan.

Saudara-saudari terkasih, teguran Yesus kepada murid-murid bukan untuk menjatuhkan mereka, tetapi untuk mempersiapkan mereka menjadi pelayan yang matang.

Demikian juga hari ini, firman Tuhan menegur kita bukan untuk membuat kita takut, tetapi supaya kita sadar: iman kita perlu fokus kembali kepada Tuhan.

Jangan biarkan dunia mencuri perhatian kita dari Tuhan.
Jangan biarkan masalah mengaburkan iman kita kepada Tuhan.
Jangan biarkan kesibukan membuat kita lupa kepada Tuhan.

Mari kita belajar berkata:
“Tuhan, aku mau memperhatikan Engkau.”
Dalam doa.
Dalam firman.
Dalam pelayanan.
Dalam hidup sehari-hari.
Pay attention to God. Please! Amin.

Doa : Ya Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Tolong kami belajar memperhatikan suara-Mu, percaya dalam setiap keadaan, dan taat dalam langkah hidup kami. Jauhkan kami dari distraksi dunia, kuatkan iman kami, dan pakailah kami menjadi saksi kasih-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin. Pimpin kami melayani dengan rendah hati setiap hari. Biarlah hidup kami memuliakan Engkau. Selamanya bersama-Mu, Tuhan.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB