Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Rabu 4 Maret 2026, Bacaan I Yeremia 18:18-20, Bacaan Injil Matius 20:17-28

Fandy Gerungan • Selasa, 3 Maret 2026 | 09:45 WIB

Photo
Photo

Pekan Prapaskah II (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Yeremia 18:18-20

Berkatalah mereka: "Marilah kita mengadakan persepakatan terhadap Yeremia, sebab imam tidak akan kehabisan pengajaran, orang bijaksana tidak akan kehabisan nasihat dan nabi tidak akan kehabisan firman. Marilah kita memukul dia dengan bahasanya sendiri dan jangan memperhatikan setiap perkataannya!"

Perhatikanlah aku, ya TUHAN, dan dengarkanlah suara pengaduanku!

Akan dibalaskah kebaikan dengan kejahatan? Namun mereka telah menggali pelubang untuk aku! Ingatlah bahwa aku telah berdiri di hadapan-Mu, dan telah berbicara membela mereka, supaya amarah-Mu disurutkan dari mereka.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 31:5-6,14,15-16

Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia.

Engkau benci kepada orang-orang yang memuja berhala yang sia-sia, tetapi aku percaya kepada TUHAN.

Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: "Engkaulah Allahku!"

Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!

Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu!

Bacaan Injil Matius 20:17-28

Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan:

"Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.

Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan."

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.

Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu."

Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat."

Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya."

Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.

Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;

sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i hari ini kita diajak masuk ke dalam dua kisah yang terasa begitu manusiawi: tentang pengkhianatan dan tentang ambisi.

Dalam bacaan dari Kitab Kitab Yeremia, kita melihat seorang nabi yang justru dilawan oleh orang-orang yang pernah ia bela. Ia berdiri di hadapan Tuhan, memohonkan pengampunan bagi bangsanya. Namun kebaikan itu dibalas dengan rencana jahat. Ia difitnah, dijatuhkan, bahkan ingin disingkirkan.

Betapa pahit rasanya ketika niat baik tidak dihargai. Ketika ketulusan justru dianggap ancaman. Mungkin kita pun pernah mengalaminya—di tempat kerja, dalam pelayanan, bahkan dalam keluarga. Kita sudah berusaha tulus, tetapi tetap disalahpahami. Hati kita bertanya, “Mengapa kebaikan dibalas dengan kejahatan?”

Yeremia mengajarkan satu hal penting: saat manusia menutup telinga, ia tetap membuka hatinya kepada Tuhan. Ia tidak membalas dengan dendam. Ia memilih membawa luka itu ke hadapan Allah.

Lalu dalam Injil menurut Injil Matius, kita melihat gambaran yang tak kalah nyata. Yesus sedang berjalan menuju Yerusalem. Ia tahu penderitaan menanti-Nya. Ia tahu pengkhianatan, ejekan, dan kematian ada di depan mata. Namun di tengah suasana serius itu, para murid justru sibuk memikirkan posisi dan jabatan.

Mereka ingin duduk di tempat terhormat. Mereka membayangkan kemuliaan tanpa sungguh memahami jalan salib. Ambisi manusiawi muncul bahkan ketika Sang Guru sedang berbicara tentang pengorbanan.

Yesus tidak memarahi dengan kemarahan meledak-ledak. Ia mengajar dengan sabar bahwa kebesaran dalam Kerajaan Allah berbeda dengan kebesaran dunia. Dunia mengukur keagungan dari kuasa dan kedudukan. Tuhan mengukur dari kerendahan hati dan kesediaan melayani.

Di sini kita melihat kontras yang tajam. Yeremia difitnah karena kebaikannya. Yesus ditolak meski datang untuk menyelamatkan. Namun keduanya menunjukkan jalan yang sama: kesetiaan pada kehendak Bapa, meski harus melewati penderitaan.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya pada diri sendiri:

Apakah kita mudah kecewa ketika tidak dihargai?
Apakah kita melayani karena cinta, atau karena ingin diakui?
Apakah kita mencari salib, atau justru menghindarinya sambil tetap ingin kemuliaan?

Mengikuti Kristus berarti siap “meminum cawan” yang sama—cawan pengorbanan, kesetiaan, dan pelayanan tanpa pamrih. Itu bukan jalan populer. Itu bukan jalan cepat menuju pujian. Tetapi itulah jalan menuju kebangkitan.

Kadang Tuhan mengizinkan kita mengalami ketidakadilan supaya hati kita dimurnikan. Kadang Tuhan membiarkan ambisi kita diguncang supaya kita belajar rendah hati. Karena dalam rencana-Nya, yang terbesar bukanlah yang paling dipuji, melainkan yang paling setia mengasihi.

Semoga hari ini kita belajar menjadi murid yang tidak hanya ingin duduk dekat dengan Tuhan dalam kemuliaan, tetapi juga setia berjalan bersama-Nya dalam penderitaan. Dan ketika kebaikan kita tidak dihargai, kita tetap memilih untuk mengasihi.

Sebab pada akhirnya, bukan posisi yang menyelamatkan kita, melainkan hati yang rela melayani. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan