Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Kamis 5 Maret 2026, Bacaan I Yeremia 17:5-10, Bacaan Injil Lukas 16:19-31

Fandy Gerungan • Selasa, 3 Maret 2026 | 09:48 WIB

Photo
Photo

Pekan Prapaskah II (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Yeremia 17:5-10

Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!

Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?

Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 1:1-2,3,4,6

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.

sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Bacaan Injil Lukas 16:19-31

"Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.

Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,

dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.

Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.

Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.

Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.

Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,

sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.

Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.

Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.

Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i alam bacaan dari Kitab Yeremia, digambarkan dua tipe manusia. Yang pertama adalah orang yang menggantungkan seluruh hidupnya pada kekuatan manusia pada jabatan, relasi, uang, atau kemampuannya sendiri.

Sekilas tampak kokoh, tetapi sesungguhnya rapuh. Ketika musim kering datang, ia mudah layu. Ketika badai menerpa, ia goyah.

Sebaliknya, ada orang yang menaruh harapannya pada Tuhan. Ia diibaratkan seperti pohon yang akarnya menembus hingga ke sumber air. Panas datang, tetapi ia tetap hijau.

Kekeringan terjadi, tetapi ia tetap berbuah. Mengapa? Karena sumber kekuatannya bukan dari luar, melainkan dari kedalaman relasinya dengan Allah.

Nabi itu juga mengingatkan bahwa hati manusia tidak selalu jujur. Kita sering merasa baik-baik saja, padahal batin kita menjauh dari Tuhan. Kita merasa aman karena saldo cukup, usaha lancar, kesehatan stabil. Namun perlahan-lahan, tanpa sadar, kepercayaan kita berpindah: bukan lagi kepada Tuhan, tetapi pada apa yang kita miliki.

Injil dalam Injil Lukas memberikan gambaran yang sangat konkret tentang hal ini. Ada seorang kaya yang hidup dalam kemewahan. Setiap hari ia bersukacita dalam kenyamanan. Di depan pintunya, ada seorang miskin yang menderita dan kelaparan. Mereka begitu dekat secara fisik, tetapi sangat jauh secara hati.

Yang menarik, orang kaya itu tidak digambarkan sebagai penjahat besar. Ia tidak disebut mencuri atau merampok. Dosanya adalah ketidakpekaan. Ia begitu sibuk dengan dunianya sendiri sehingga tidak melihat penderitaan yang tepat di depan matanya.

Di sinilah letak persoalannya: ketika hati terlalu percaya pada kekayaan dan kenyamanan, ia bisa menjadi tumpul. Ketika kita merasa “cukup” tanpa Tuhan, kita perlahan kehilangan belas kasih.

Kisah itu juga menunjukkan bahwa setelah hidup berakhir, tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki pilihan. Jurang yang kecil selama hidup jurang antara peduli dan tidak peduli menjadi jurang yang tak terseberangi.

Renungan hari ini mengajak kita bercermin. Apakah kita seperti semak di padang gurun yang bergantung pada kekuatan sendiri?. Ataukah seperti pohon yang akarnya tertanam dalam Tuhan?.

Apakah ada “Lazarus-Lazarus” kecil di sekitar kita orang-orang yang membutuhkan perhatian, tetapi kita abaikan karena terlalu nyaman dengan hidup kita?.

Tuhan tidak melarang kita memiliki harta. Tetapi Ia mengingatkan agar harta tidak memiliki hati kita. Karena ketika hati sudah terpaut pada hal-hal duniawi, kita bisa kehilangan kepekaan terhadap sesama dan terhadap suara Tuhan sendiri.

Mari hari ini kita periksa kembali arah hati kita. Mungkin bukan soal seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa dalam kita berakar pada Tuhan. Bukan soal seberapa tinggi posisi kita, tetapi seberapa peka kita terhadap mereka yang kecil dan tersingkir.

Semoga kita menjadi pribadi yang akarnya kuat dalam iman, dan cabangnya menaungi sesama. Sehingga dalam musim apa pun, hidup kita tetap hijau, tetap berbuah, dan menjadi berkah. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan