Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Pemuda, GPIB, Kamis, 5 Maret 2026, Markus 12:1-5 Kacang Lupa Kulitnya

Alfianne Lumantow • Kamis, 5 Maret 2026 | 09:45 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Markus 12:1–5
Tema: “KACANG LUPA KULITNYA…?”

“Tahu diri dan ingatlah Tuhan dalam susah-senang hidupmu”

“Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka.” (ayat 2)

Pemuda yang dikasihi Tuhan, dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal sebuah peribahasa lama yang berbunyi: “Bagai kacang lupa kulitnya.” Peribahasa ini dipakai untuk menggambarkan seseorang yang melupakan kebaikan orang lain setelah ia berhasil atau berada di posisi yang lebih baik. Singkatnya, orang seperti ini lupa diri dan tidak tahu berterima kasih.

Mungkin kita pernah mengalami dua-duanya: pernah merasa dilupakan setelah menolong seseorang, atau tanpa sadar kita sendiri yang melupakan orang-orang yang pernah berjasa dalam hidup kita.

Contohnya sederhana: ada orang yang dulu ditolong, didukung, bahkan dibiayai sekolahnya, tetapi setelah sukses, ia tidak lagi peduli. Ada anak yang sejak kecil dirawat orang tuanya dengan penuh pengorbanan, tetapi setelah dewasa, ia merasa semua keberhasilannya murni karena usahanya sendiri.

Peribahasa ini sangat cocok menggambarkan kisah yang Yesus ceritakan dalam Markus 12:1–5, yaitu perumpamaan tentang penggarap kebun anggur.

Yesus bercerita tentang seorang pemilik kebun anggur yang menanam kebun, memasang pagar, menggali lubang pemerasan anggur, dan mendirikan menara jaga.

Semua disiapkan dengan sangat serius. Setelah itu, kebun itu dipercayakan kepada para penggarap, lalu sang pemilik pergi ke negeri lain.

Ketika tiba musim panen, pemilik kebun mengirim seorang hamba untuk mengambil sebagian hasil kebun itu. Tetapi apa yang dilakukan para penggarap?

Mereka justru menangkap hamba itu, memukulnya, dan menyuruhnya pulang dengan tangan kosong. Lalu pemilik kebun mengirim hamba yang lain, dan mereka mempermalukannya. Bahkan hamba berikutnya dibunuh.

Mengapa mereka bertindak sejahat itu? Karena mereka lupa satu hal penting: mereka bukan pemilik kebun. Mereka hanya penggarap.

Inilah gambaran orang yang “kacang lupa kulitnya”. Mereka menikmati hasil kebun, tetapi melupakan siapa yang memiliki kebun itu. Mereka mengelola, tetapi merasa memiliki. Mereka menerima kepercayaan, tetapi mengabaikan sang pemberi kepercayaan.

Pemuda yang dikasihi Tuhan, Yesus sebenarnya sedang berbicara tentang sikap manusia terhadap Allah. Allah adalah pemilik kebun. Kita adalah penggarap. Hidup kita, keluarga kita, pendidikan kita, talenta kita, dan kesempatan kita bukan milik kita sepenuhnya. Semua itu adalah titipan Tuhan.

Namun sering kali manusia lupa diri. Saat susah, kita ingat Tuhan. Saat gagal, kita berdoa sungguh-sungguh. Saat sakit, kita berharap mukjizat.

Tetapi saat berhasil, saat sehat, saat hidup terasa nyaman, kita mulai belajar berkata, “Ini karena kerja kerasku.” “Ini karena kemampuanku.” “Ini karena kepintaranku.”

Tanpa sadar, kita mulai bertingkah seperti penggarap kebun yang merasa kebun itu miliknya sendiri.

Padahal firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: hidup ini bukan milik kita sepenuhnya, melainkan milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita.

Sebagai pemuda, kita sering merasa hidup masih panjang dan semua masih di tangan kita. Kita punya tenaga, ide, semangat, dan mimpi. Itu semua baik. Tuhan tidak melarang kita bercita-cita tinggi. Tetapi Tuhan ingin kita ingat satu hal: semua itu berasal dari Dia.

Kisah penggarap kebun anggur ini menegur kita dengan keras: jangan sampai kita menikmati berkat Tuhan, tetapi melupakan Tuhan. jangan sampai kita memakai talenta Tuhan, tetapi menolak kehendak Tuhan. jangan sampai kita hidup dari anugerah Tuhan, tetapi tidak mau hidup bagi Tuhan.

Para penggarap dalam cerita ini tidak menanam kebun itu. Mereka tidak menggali lubang pemerasan anggur. Mereka tidak membangun menara jaga. Semua sudah disiapkan oleh pemilik kebun. Mereka hanya menerima dan mengelola. Tetapi mereka bertindak seolah-olah merekalah pemiliknya.

Bukankah ini sering terjadi dalam hidup kita? Kita lahir dalam keluarga tertentu,
kita mendapat kesempatan sekolah, kita diberi kesehatan, kita diberi kemampuan berpikir,
kita diberi komunitas gereja.

Semua itu kita terima, bukan kita ciptakan sendiri. Tetapi sering kali kita lupa bahwa semuanya adalah pemberian Tuhan.

Pemuda yang dikasihi Tuhan, Tuhan tidak melarang kita menikmati hidup. Tuhan tidak melarang kita berhasil. Tuhan tidak melarang kita senang. Yang Tuhan inginkan adalah: kita tetap tahu diri dan ingat kepada-Nya.

Tema khotbah hari ini berkata: “Tahu diri, dan ingatlah Tuhan dalam susah-senang hidupmu.”
Tahu diri berarti sadar bahwa kita bukan pusat segalanya.
Tahu diri berarti mengakui bahwa kita adalah penerima kasih karunia.
Tahu diri berarti rendah hati saat berhasil dan bersandar kepada Tuhan saat gagal.

Masalahnya, banyak orang hanya ingat Tuhan saat susah.
Saat dompet kosong, doa panjang.
Saat nilai jelek, ibadah rajin.
Saat patah hati, ayat Alkitab dicari.

Tetapi saat sukses datang, Tuhan sering dilupakan.
Waktu diambil oleh kesibukan.
Doa menjadi singkat atau bahkan hilang.
Pelayanan mulai dianggap beban.
Inilah sikap “kacang lupa kulitnya” dalam kehidupan rohani.

Pemuda yang dikasihi Tuhan, perumpamaan ini mengajarkan kita bahwa Tuhan berhak atas hasil dari hidup kita. Pemilik kebun datang untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu.

Artinya, Tuhan mengharapkan buah dari hidup kita:
buah iman,
buah ketaatan,
buah kasih,
buah kerendahan hati,
buah pelayanan.

Tuhan tidak meminta seluruh kebun, tetapi Tuhan meminta hasilnya. Artinya, Tuhan ingin hidup kita memuliakan Dia. Bukan hanya berkata “aku percaya”, tetapi hidup yang mencerminkan bahwa kita tahu kepada siapa kita berutang hidup.

Pertanyaannya bagi kita hari ini: apakah hidup kita sudah menghasilkan buah bagi Tuhan?
atau kita hanya menikmati kebun tanpa peduli kepada pemiliknya?

Sebagai pemuda, kita sedang berada pada fase membangun masa depan. Kita belajar, bekerja, merencanakan banyak hal. Semua itu baik. Tetapi firman Tuhan mengingatkan: jangan membangun hidup tanpa Tuhan.

Jangan sampai suatu hari kita berdiri di puncak keberhasilan tetapi lupa kepada Tuhan yang memberi kita nafas. Jangan sampai kita punya banyak harta tetapi miskin iman. Jangan sampai kita terlihat hebat di mata manusia tetapi kosong di hadapan Tuhan.

Tuhan tidak mau kita menjadi seperti para penggarap yang jahat. Tuhan mau kita menjadi penggarap yang setia. Penggarap yang sadar bahwa kebun itu titipan. Penggarap yang mau menyerahkan hasilnya kepada pemilik kebun.

Artinya, kita mau menyerahkan hidup kita kepada Tuhan: waktu kita untuk Tuhan, tenaga kita untuk Tuhan, pikiran kita untuk Tuhan, kesuksesan kita untuk Tuhan.

Bukan berarti kita harus menjadi pendeta atau rohaniawan. Tetapi apa pun yang kita lakukan, kita lakukan untuk memuliakan Tuhan. Di sekolah, kita jujur. Di pekerjaan, kita bertanggung jawab. Di pergaulan, kita menjaga diri. Dalam pelayanan, kita tidak mencari pujian, tetapi setia.

Pemuda yang dikasihi Tuhan, kisah ini juga mengingatkan bahwa Tuhan panjang sabar. Ia berkali-kali mengirim hamba-hamba-Nya. Artinya, Tuhan memberi kesempatan untuk bertobat. Tuhan tidak langsung menghukum. Tuhan menegur, mengingatkan, dan menunggu respons manusia.

Hari ini, melalui firman ini, Tuhan sedang mengirim “hamba” kepada kita: firman-Nya sendiri. Tuhan bertanya kepada kita:
Apakah engkau masih ingat Aku?
Apakah engkau masih tahu bahwa hidupmu adalah titipan?
Apakah engkau masih mau memberikan hasil hidupmu kepada-Ku?

Jangan sampai kita menjadi pemuda yang menikmati berkat Tuhan tetapi melupakan Tuhan. Jangan sampai kita menjadi generasi yang pintar tetapi tidak tahu diri. Jangan sampai kita menjadi orang percaya yang rajin ibadah tetapi hidupnya tidak mencerminkan syukur kepada Tuhan.

Mari kita belajar dari perumpamaan ini: bahwa hidup adalah kebun titipan, bahwa kita hanyalah penggarap, bahwa Tuhan adalah pemilik sejati.

Karena itu, saat kita berhasil, kita tetap merendahkan diri. Saat kita diberkati, kita tetap mengucap syukur. Saat kita senang, kita tetap ingat Tuhan. Saat kita susah, kita tetap percaya Tuhan.

Inilah makna sejati dari tema kita: “Kacang lupa kulitnya…?” Jangan sampai itu menjadi gambaran hidup kita. Sebaliknya, jadilah pemuda yang tahu diri dan ingat Tuhan dalam susah dan senang.

Kiranya firman Tuhan hari ini menolong kita untuk hidup bukan bagi diri sendiri, tetapi bagi Dia yang telah mempercayakan “kebun” kehidupan ini kepada kita. Amin.

Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih untuk firman-Mu hari ini yang mengingatkan kami agar tidak menjadi “kacang lupa kulitnya”, tetapi hidup dengan tahu diri dan selalu ingat kepada-Mu. Tolong kami supaya setia mengelola hidup sebagai titipan-Mu dan menghasilkan buah yang memuliakan nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB