Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Minggu 8 Maret 2026, Bacaan I Keluaran 17:3-7, Bacaan II Roma 5:1-2,5-8, Bacaan Injil Yohanes 4:5-15,19b-26,39a,40-4

Fandy Gerungan • Kamis, 5 Maret 2026 | 09:47 WIB

Photo
Photo

Hari Minggu Prapaskah III (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Keluaran 17:3-7

Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: "Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?"

Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: "Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!"

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah.

Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum." Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel.

Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?"

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 95:1-2,6-7,8-9

Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita.

Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.

Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.

Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!

Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun,

pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.

Bacaan II Roma 5:1-2,5-8

Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.

Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.

Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar?tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati?.

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Yohanes 4;5-15,19b-26,39a,40-42

Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf.

Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.

Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum."

Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.

Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)

Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."

Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?

Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?"

Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,

tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."

Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."

Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.

Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah."

Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.

Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.

Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."

Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami."

Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."

Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat."

Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Iapun tinggal di situ dua hari lamanya.

Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya,

dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara-saudari terkasih, ada satu pengalaman yang sangat manusiawi: haus. Ketika haus datang, kita menjadi gelisah. Pikiran menjadi pendek. Hati mudah marah. Dalam keadaan terdesak, kita bahkan bisa meragukan orang yang selama ini menuntun kita.

Dalam Kitab Keluaran, bangsa Israel mengalami kehausan di padang gurun. Mereka baru saja dibebaskan dari perbudakan, tetapi perjalanan menuju kebebasan ternyata tidak mudah.

Ketika air tidak tersedia, mereka mulai bersungut-sungut. Mereka lupa akan pertolongan yang sudah mereka alami. Mereka mulai mempertanyakan: apakah Tuhan sungguh hadir di tengah mereka?.

Menariknya, Tuhan tidak menjawab keluhan itu dengan kemarahan. Ia justru menghadirkan air dari tempat yang tidak terduga: dari batu yang keras dan kering. Dari sesuatu yang tampaknya mustahil, Tuhan mengalirkan kehidupan.

Bukankah ini gambaran hidup kita juga?. Ada masa-masa di mana kita merasa seperti berada di padang gurun. Kita haus akan kepastian, haus akan cinta, haus akan pengakuan, haus akan damai.

Kita bekerja keras, berusaha ini dan itu, tetapi tetap merasa kosong. Lalu pelan-pelan muncul pertanyaan dalam hati: apakah Tuhan sungguh ada dalam hidupku?.

Di sinilah Injil menurut Injil Yohanes membawa kita pada sebuah perjumpaan yang sangat menyentuh. Seorang perempuan datang ke sumur pada tengah hari, saat matahari paling terik.

Ia datang sendiri, mungkin karena menghindari orang lain. Ia membawa timba untuk mengambil air, tetapi sesungguhnya ia membawa hati yang juga haus.

Yesus memulai percakapan dengan sangat sederhana: meminta minum. Permintaan kecil itu membuka dialog yang dalam. Perempuan itu awalnya berpikir tentang air biasa, tentang sumur yang dalam, tentang kebutuhan fisik.

Namun Yesus perlahan mengarahkan percakapan pada sesuatu yang lebih dalam: ada jenis kehausan yang tidak bisa dipuaskan oleh air biasa.

Perempuan itu akhirnya menyadari bahwa yang berdiri di hadapannya bukan sekadar orang asing. Ia berhadapan dengan Dia yang mengetahui seluruh hidupnya masa lalunya, luka-lukanya, relasi-relasinya.

Namun tetap berbicara kepadanya dengan hormat dan kasih. Ia tidak dihakimi. Ia tidak dipermalukan. Ia justru diangkat martabatnya.

Air yang dijanjikan Yesus bukan sekadar penghilang dahaga sesaat. Itu adalah kehidupan baru, hubungan yang dipulihkan dengan Allah, sumber sukacita yang memancar dari dalam. Ketika hati disentuh oleh kasih seperti itu, seseorang tidak lagi hidup dari rasa bersalah, melainkan dari harapan.

Rasul Paulus dalam Surat Roma menegaskan bahwa dasar harapan kita bukan kekuatan kita sendiri. Kita diselamatkan bukan karena kita sudah baik atau layak. Justru ketika kita lemah dan berdosa, Kristus menyerahkan diri-Nya bagi kita. Kasih Allah lebih dahulu datang sebelum kita sempat memperbaiki diri.

Inilah jawaban atas pertanyaan bangsa Israel di padang gurun: apakah Tuhan ada di tengah kita?. Jawabannya bukan hanya ya. Jawabannya adalah: Ia begitu dekat, sampai-sampai Ia masuk ke dalam sejarah manusia, berbicara dengan yang tersingkir, dan memberikan hidup-Nya bagi yang berdosa.

Hari ini kita diajak jujur: apa yang sebenarnya sedang kita cari?. Air apa yang selama ini kita timba?. Mungkin kita mengejar kesuksesan, relasi, pengakuan, atau kenyamanan. Semua itu baik, tetapi tidak pernah cukup untuk mengisi hati sepenuhnya.

Tuhan tidak marah ketika kita mengeluh. Ia tahu kita haus. Namun Ia ingin membawa kita lebih dalam, dari sekadar kebutuhan lahiriah menuju perjumpaan pribadi dengan-Nya. Dari sumur yang terbatas menuju sumber yang tak pernah kering.

Semoga kita berani datang kepada-Nya dengan kehausan kita yang paling jujur. Karena hanya Dia yang mampu mengubah padang gurun menjadi tempat kehidupan, dan hati yang kering menjadi mata air yang mengalir bagi sesama. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan