Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Sabtu, 7 Maret 2026, Markus 14:6-9 Penghormatan Terakhir Maria Untuk Yesus

Alfianne Lumantow • Kamis, 5 Maret 2026 | 09:48 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Markus 14:6–9
Tema: PENGHORMATAN TERAKHIR MARIA UNTUK YESUS

“Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku.” (ayat 8)

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, Ada sebuah kisah sederhana yang menyentuh hati. Seorang anak perempuan kecil setiap sore datang ke rumah sakit menjenguk ibunya yang sakit keras.

Setiap kali ia datang, ia membawa satu bunga mawar yang dipetik dari taman kecil di rumah mereka. Ia tidak membawa hadiah mahal, tidak membawa makanan istimewa, hanya satu bunga mawar.

Suatu hari, ibunya meninggal dunia. Beberapa orang berkata kepadanya: “Sayang, mengapa kamu tidak menyimpan bunga itu saja untuk dikirim saat pemakaman nanti?” Anak itu menjawab dengan polos: “Mama tidak bisa melihat bunga yang dikirim saat sudah dikuburkan. Aku ingin Mama melihat dan mencium wangi bunga itu saat dia masih hidup.”

Jawaban anak kecil itu mengandung hikmat yang dalam: penghormatan yang sejati diberikan bukan setelah semuanya terlambat, tetapi saat orang yang kita kasihi masih ada bersama kita. Kasih perlu dinyatakan selagi ada kesempatan.

Inilah yang kita temukan dalam kisah Maria yang meminyaki Yesus. Maria melakukan sesuatu yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam maknanya. Ia meminyaki Yesus bukan sekadar dengan minyak, melainkan dengan iman, dengan kasih, dan dengan keberanian untuk bertindak di saat orang lain belum mengerti.

Peristiwa ini terjadi menjelang penderitaan Yesus. Ia sudah berulang kali memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan menderita, diserahkan, dibunuh, dan pada hari ketiga akan bangkit.

Namun, murid-murid sukar memahami hal itu. Mereka masih terikat pada gambaran Mesias sebagai tokoh politik: Mesias yang akan memulihkan kejayaan Israel, mengusir penjajah Roma, dan membawa kemenangan duniawi.

Yesus justru memperkenalkan diri-Nya sebagai Mesias-Hamba. Ia adalah Mesias yang datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya. Ia bukan datang untuk merebut kekuasaan, melainkan untuk memikul salib. Inilah jalan yang sulit diterima oleh banyak orang, termasuk murid-murid-Nya sendiri.

Maria tampaknya adalah salah satu dari sedikit orang yang sungguh mendengar dan percaya pada perkataan Yesus. Ia tidak hanya mendengar dengan telinga, tetapi dengan hati. Ia tidak hanya memahami secara intelektual, tetapi secara rohani.

Karena itu, tindakannya meminyaki Yesus menjadi sebuah tindakan profetis: sebuah tindakan yang mengakui bahwa Yesus akan mati dan bahwa kematian-Nya bukan kegagalan, melainkan bagian dari rencana keselamatan Allah.

Yesus berkata: “Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku.” Kalimat ini sangat menyentuh. Yesus tidak berkata: “Ia telah melakukan apa yang spektakuler,” tetapi “apa yang dapat dilakukannya.” Maria tidak diminta melakukan hal di luar kemampuannya. Ia hanya diminta memberikan yang terbaik dari apa yang ia miliki.

Minyak narwastu yang dipakainya adalah minyak yang sangat mahal. Nilainya setara dengan upah kerja setahun. Bagi banyak orang, tindakan ini tampak tidak masuk akal. Tidak ekonomis. Tidak efisien. Tidak praktis. Maka muncul suara protes: “Untuk apa pemborosan ini? Bukankah minyak itu bisa dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin?”

Secara logika, alasan itu terdengar masuk akal. Dunia yang kita hidupi juga penuh dengan logika seperti ini: segala sesuatu harus dihitung, diukur, dan diinvestasikan. Segala sesuatu harus menghasilkan keuntungan yang bisa dilihat. Kasih pun sering kali diukur dengan manfaat ekonominya.

Tetapi Yesus membela Maria. Ia berkata: “Biarkanlah dia. Ia telah melakukan perbuatan yang baik pada-Ku.” Yesus tidak menolak perhatian kepada orang miskin, tetapi Ia menegaskan bahwa tindakan Maria memiliki makna yang tidak bisa diukur dengan uang.

Maria memberi bukan karena ia ingin pamer. Ia memberi bukan untuk dilihat orang. Ia memberi karena ia mengasihi Yesus dan percaya kepada-Nya. Ia memberi bukan untuk masa depan, tetapi untuk saat ini—saat Yesus masih ada di hadapannya.

Di sinilah kita belajar bahwa penghormatan sejati kepada Tuhan bukan soal perhitungan untung rugi, tetapi soal relasi kasih. Maria mengajarkan bahwa kasih kepada Tuhan harus nyata, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan. Kasih kepada Tuhan harus berani melampaui logika dunia.

Ilustrasi anak kecil dengan bunga mawar menolong kita memahami ini. Anak itu tidak menyimpan bunganya untuk hari pemakaman. Ia tidak menunggu sampai ibunya tidak bisa melihat lagi. Ia memberikan bunganya ketika ibunya masih hidup, ketika ibunya masih bisa merasakan kasih anaknya.

Begitu pula Maria. Ia tidak menunggu sampai Yesus mati. Ia tidak menunggu sampai penguburan. Ia memberi saat Yesus masih hidup, saat Yesus masih bisa menerima ungkapan kasihnya. Ia memberi sebelum semuanya terlambat.

Saudara-saudari, sering kali kita baru menyadari nilai seseorang setelah orang itu tidak ada. Kita baru berkata, “Seandainya dulu aku lebih banyak memberi waktu,” atau “Seandainya dulu aku lebih banyak menunjukkan kasih.” Tetapi Maria mengajarkan kita untuk tidak menunda kasih. Ia mengajarkan kita untuk menghormati Tuhan sekarang, bukan nanti.

Dalam dunia yang diwarnai hedonisme dan materialisme, tindakan Maria terasa asing. Dunia mengajarkan: simpanlah, amankanlah, kumpulkanlah.

Dunia mengajarkan: jangan buang-buang, jangan rugi. Tetapi kasih tidak pernah hanya soal efisiensi. Kasih selalu mengandung pengorbanan.

Penghormatan kepada Tuhan sering terhalang oleh perhitungan:
Apakah ini tidak terlalu berlebihan?
Apakah ini tidak mubazir?
Apakah ini tidak bisa dipakai untuk hal lain yang lebih berguna?


Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu salah, tetapi bisa menjadi penghalang jika kita lupa bahwa Tuhan layak menerima yang terbaik. Tuhan tidak membutuhkan minyak mahal, tetapi Tuhan melihat hati yang memberi.

Yesus berkata: “Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya.” Kalimat ini juga mengandung penghiburan bagi kita. Tuhan tidak menuntut kita memberi seperti orang lain. Ia tidak membandingkan kita dengan orang yang lebih kaya, lebih kuat, atau lebih mampu.

Ia hanya meminta kita memberi sesuai dengan apa yang dapat kita lakukan, tetapi dengan hati yang penuh kasih.

Penghormatan kepada Tuhan tidak selalu berbentuk persembahan materi. Ia bisa berbentuk waktu yang kita luangkan untuk berdoa. Ia bisa berbentuk kesetiaan kita dalam melayani. Ia bisa berbentuk kesabaran kita dalam menghadapi sesama. Ia bisa berbentuk hidup yang jujur dan benar di tengah dunia yang penuh kompromi.

Apa yang dapat kita lakukan sebagai penghormatan kepada Tuhan yang mau mati bagi kita?
Kita bisa menghormati-Nya dengan hidup yang tidak lagi dikuasai dosa.
Kita bisa menghormati-Nya dengan hidup yang mau bertobat setiap hari.
Kita bisa menghormati-Nya dengan mengasihi sesama seperti Ia mengasihi kita.
Kita bisa menghormati-Nya dengan menggunakan hidup kita sebagai alat kasih-Nya di dunia.

Maria memberi minyak yang mahal. Yesus memberi hidup-Nya yang tak ternilai. Pengorbanan Maria adalah bayangan kecil dari pengorbanan Yesus yang sempurna. Maria meminyaki tubuh Yesus. Yesus menyerahkan tubuh-Nya di kayu salib.

Yesus mati supaya kita hidup. Ia dikuburkan supaya kita dibangkitkan dalam hidup yang baru. Ia menanggung dosa supaya kita menerima pengampunan. Jika demikian, apakah penghormatan kita kepada-Nya hanya sebatas kata-kata?

Tema kita hari ini adalah: Penghormatan Terakhir Maria untuk Yesus.
Tetapi sesungguhnya ini juga menjadi pertanyaan bagi kita:
Apakah kita sudah memberikan penghormatan kita kepada Yesus selagi ada kesempatan?
Apakah kasih kita kepada Tuhan masih hidup dan nyata?
Atau sudah menjadi kebiasaan tanpa hati?

Maria mengajarkan iman yang berani, kasih yang tulus, dan pengorbanan yang tidak dihitung-hitung. Ia tidak tahu secara rinci bagaimana peristiwa salib akan terjadi, tetapi ia percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang harus menderita. Ia mempersiapkan tubuh Yesus dengan caranya sendiri, dengan apa yang ia miliki.

Saudara-saudari, marilah kita belajar dari Maria dan dari anak kecil dengan bunga mawarnya. Jangan menunda kasih. Jangan menunggu sampai terlambat. Hormatilah Tuhan sekarang, dengan hidup yang diserahkan kepada-Nya.

Kiranya hidup kita menjadi minyak yang harum di hadapan Tuhan: hidup yang dipersembahkan, bukan disimpan untuk diri sendiri; hidup yang mengasihi, bukan menghitung rugi; hidup yang percaya, bukan hanya mengerti.

Semoga melalui firman ini, kita diingatkan bahwa Tuhan layak menerima yang terbaik dari hidup kita, bukan karena Ia membutuhkan, tetapi karena Ia telah lebih dahulu mengasihi kita sampai menyerahkan diri-Nya bagi kita. Amin.

Doa : Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Ajari kami menghormati-Mu dengan kasih yang nyata seperti Maria, memberi yang terbaik tanpa perhitungan. Ubah hati kami dari egoisme dan ketakutan, supaya hidup kami menjadi persembahan yang harum bagi-Mu. Pakailah kami untuk melayani sesama dengan setia sampai akhir, dan memuliakan Engkau setiap hari dalam segala hal. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB