Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Cerita Alkitab, Kisah Nabi Yeremia, Panggilan, Air Mata, dan Pengharapan

Deiby Rotinsulu • Kamis, 5 Maret 2026 | 15:39 WIB

Ilustrasi Kisah Nabi Yeremia
Ilustrasi Kisah Nabi Yeremia

1. Anak Muda dari Anatot

Di sebuah desa kecil bernama Anatot, sekitar lima kilometer dari Yerusalem, hidup seorang anak imam yang kelak memikul beban sejarah bangsanya.

Desa itu sederhana tidak ada tembok megah, tidak ada istana, hanya ladang-ladang kering dan rumah-rumah sederhana. Para imam di sana menjalani kehidupan yang tenang di bayang-bayang Bait Allah di Yerusalem.

Di tempat itulah Yeremia, anak Hilkia, bertumbuh. Ia mendengar kisah tentang Musa di Gunung Sinai, tentang Daud dan mazmurnya, serta tentang kemegahan Bait Allah yang dibangun Salomo.

Namun semua kisah itu terasa seperti kenangan jauh. Bangsa Yehuda masih beribadah, masih mempersembahkan korban, tetapi hati mereka telah terbagi.

Mezbah bagi Tuhan berdiri berdampingan dengan berhala.

Nama Yeremia berarti “Tuhan akan mengangkat” atau “Tuhan menegakkan.” Nama itu menjadi gambaran hidupnya: walau menghadapi penolakan, penderitaan, dan penganiayaan, Allah tetap menegakkan panggilannya.

Namun pada masa itu Yeremia hanyalah seorang muda dengan hati yang lembut. Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan menjadi medan pertempuran antara firman Allah dan kerasnya hati manusia.


2. Panggilan yang Mengubah Hidup

Suatu hari firman Tuhan datang kepadanya.

“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau. Sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau; Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”
(Yeremia 1:5)

Firman itu mengguncang hatinya. Ia merasa belum siap.

“Ah Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.”
(Yeremia 1:6)

Namun Allah menjawab:

“Janganlah katakan: Aku ini masih muda. Kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi.”
(Yeremia 1:7)

Allah tidak mencari orang yang merasa mampu, melainkan orang yang mau taat. Lalu Tuhan memberikan janji penting:

“Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau.”
(Yeremia 1:8)

Kemudian Tuhan menjamah mulutnya:

“Sesungguhnya Aku menaruh perkataan-Ku ke dalam mulutmu.”
(Yeremia 1:9)

Sejak saat itu hidup Yeremia tidak lagi sama. Ia dipanggil untuk merobohkan dan membangun, untuk menyatakan penghakiman sekaligus pengharapan.


3. Bangsa yang Meninggalkan Sumber Air Hidup

Firman pertama yang harus disampaikan Yeremia bukanlah penghiburan, melainkan teguran keras bagi bangsanya.

Allah mengingatkan masa ketika Israel mengasihi-Nya seperti seorang pengantin mengasihi mempelainya. Tetapi sekarang mereka telah meninggalkan Dia.

“Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor.”
(Yeremia 2:13)

Bangsa itu tetap beribadah, tetapi hati mereka jauh dari Tuhan.

Ketika Yeremia menyampaikan pesan itu, banyak orang menertawakannya, mencibirnya, bahkan membencinya. Ia mulai merasakan harga dari ketaatan.


4. Api dalam Tulang

Yeremia pernah mencoba berhenti berbicara. Ia ingin hidup seperti orang lain—tenang dan tanpa konflik.

Namun firman Tuhan seperti api di dalam dirinya.

“Dalam hatiku ada sesuatu seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku. Aku berlelah-lelah menahannya, tetapi aku tidak sanggup.”
(Yeremia 20:9)

Diam justru lebih menyakitkan daripada ditolak.

Yeremia belajar bahwa menjadi nabi bukan soal keberanian alami, tetapi ketidakmungkinan untuk melarikan diri dari firman Allah.


5. Penolakan dan Penganiayaan

Semakin jelas pesan Yeremia, semakin keras penolakan yang ia terima.

Para pemimpin agama tersinggung. Para nabi palsu merasa terancam. Bahkan di kampung halamannya sendiri orang-orang merencanakan kejahatan terhadapnya.

Ia dipukul dan dipasung di pintu gerbang Bait Allah.

Dalam keputusasaan ia berseru:

“Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan.”
(Yeremia 20:14)

Namun di tengah penderitaan itu ia tetap berkata:

“Tuhan menyertai aku seperti pahlawan yang gagah.”
(Yeremia 20:11)


6. Pelajaran dari Tukang Periuk

Suatu hari Tuhan menyuruh Yeremia pergi ke rumah tukang periuk.

Di sana ia melihat sebuah bejana rusak saat dibentuk. Tukang periuk itu tidak membuangnya, tetapi membentuknya kembali.

Lalu Tuhan berkata:

“Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini?”
(Yeremia 18:6)

Pesannya jelas: Allah ingin membentuk ulang umat-Nya jika mereka mau bertobat.

Namun bangsa itu menolak.


7. Sumur Gelap

Karena nubuatnya dianggap berbahaya, para pemimpin memutuskan menyingkirkan Yeremia. Ia dimasukkan ke dalam sebuah sumur kosong yang penuh lumpur.

“Di perigi itu tidak ada air, hanya lumpur; lalu terperosoklah Yeremia ke dalam lumpur itu.”
(Yeremia 38:6)

Hari demi hari ia berada dalam kegelapan.

Namun Allah tidak meninggalkannya. Seorang sida-sida Etiopia bernama Ebed-Melekh berani membela Yeremia dan menyelamatkannya.

Dari sini terlihat bahwa pertolongan Tuhan kadang datang dari arah yang tidak terduga.


8. Firman yang Dibakar Raja

Yeremia kemudian menuliskan semua nubuatnya dalam sebuah gulungan kitab. Gulungan itu dibacakan di hadapan Raja Yoyakim.

Namun raja tidak bertobat. Ia memotong gulungan itu dan membakarnya di perapian.

“Raja mengoyak-ngoyaknya dengan pisau raut dan melemparkannya ke dalam api.”
(Yeremia 36:23)

Tetapi firman Tuhan tidak bisa dihancurkan.

Tuhan memerintahkan Yeremia menulisnya kembali.


9. Kejatuhan Yerusalem

Akhirnya nubuat itu menjadi kenyataan. Pasukan Babel mengepung Yerusalem dan menghancurkannya.

Bait Allah dibakar. Kota suci menjadi puing-puing.

Yeremia tidak bersukacita. Ia menangis.

Dari kehancuran itu lahirlah kitab Ratapan.

“Bagaimana kota yang ramai itu menjadi sunyi?”
(Ratapan 1:1)

Namun di tengah ratapan itu muncul pengharapan:

“Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya.”
(Ratapan 3:22)


10. Janji Perjanjian Baru

Di tengah kehancuran, Tuhan memberi janji besar:

“Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel.”
(Yeremia 31:31)

Perjanjian itu berbeda dari yang lama.

“Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka.”
(Yeremia 31:33)

Ini adalah janji tentang hati yang diperbarui dan dosa yang diampuni.


11. Akhir Hidup yang Sunyi

Setelah Yerusalem jatuh, Yeremia tetap tinggal bersama sisa rakyat. Kemudian ia dipaksa ikut ke Mesir.

Alkitab tidak mencatat bagaimana ia meninggal.

Tidak ada makam yang megah. Tidak ada perayaan besar.

Namun ia meninggalkan warisan yang jauh lebih besar: kesetiaan kepada Allah.


12. Warisan Yeremia

Yeremia dikenal sebagai “nabi air mata.”

Ia menangis bukan karena lemah, tetapi karena ia mengasihi bangsanya seperti Allah mengasihi mereka.

“Sekiranya kepalaku penuh air dan mataku menjadi pancuran air mata.”
(Yeremia 9:1)

Pesan hidupnya sederhana namun kuat:

“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia…
Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan.”
(Yeremia 17:5,7)


Penutup

Kisah Yeremia bukan kisah kemenangan yang gemilang di mata manusia. Ia adalah kisah kesetiaan di tengah penolakan.

Namun dari air mata dan penderitaannya lahirlah pengharapan yang besar:

“Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami.”
(Yeremia 33:3)

Warisan Yeremia bukan kemasyhuran, melainkan pengenalan akan Allah yang setia, adil, dan penuh kasih.

Dan sampai hari ini suaranya masih berbicara. (*)

Editor : Deiby Rotinsulu
#cerita alkitab #Nabi Air Mata #Kisah Nabi yeremia