Pembacaan Alkitab: Mazmur 73:21–22
Tema: “TUHAN ADA DALAM SEGALA KEADAANKU”
“Ketika hatiku pedih dan buah pinggangku seperti tertusuk-tusuk…” (ayat 21)
Sobat muda yang terkasih dalam Tuhan, Setiap orang pasti pernah mengalami dua sisi kehidupan: saat hidup terasa indah dan saat hidup terasa berat. Ada hari-hari ketika semuanya berjalan lancar: studi berjalan baik, pekerjaan terasa ringan, relasi harmonis, doa terasa dijawab.
Pada saat seperti itu, kita dengan mudah berkata, “Tuhan baik. Tuhan menyertai hidupku.” Bahkan sering kali kita mengadakan ibadah pengucapan syukur, bernyanyi dengan penuh semangat, dan bersaksi tentang kebaikan Tuhan.
Tetapi bagaimana jika yang kita alami justru sebaliknya? Bagaimana jika kita gagal?
Bagaimana jika kita kecewa? Bagaimana jika kita sedih? Bagaimana jika kita merasa menderita?
Apakah kita masih mau bersyukur? Atau justru kita mulai menjauh dari Tuhan?
Apakah kita masih percaya bahwa Tuhan menyertai kita? Atau kita mulai berpikir bahwa Tuhan sudah meninggalkan kita?
Mazmur 73 menolong kita memahami pergumulan ini. Mazmur ini dikenal sebagai Mazmur Asaf. Asaf adalah seorang Lewi, seorang pemimpin pujian, seorang pemusik di zaman Raja Daud. Ia bukan orang sembarangan.
Ia adalah orang yang dekat dengan ibadah, dekat dengan pelayanan, dekat dengan rumah Tuhan. Tetapi justru orang seperti inilah yang mengalami pergumulan iman yang sangat dalam.
Asaf melihat sesuatu yang mengganggu hatinya: orang-orang fasik, orang-orang yang tidak takut Tuhan, justru hidup makmur. Mereka tidak kelihatan susah. Mereka tampak sehat. Mereka berhasil. Mereka seolah-olah tidak mengalami masalah besar. Sementara Asaf sendiri, yang setia melayani Tuhan, justru mengalami penderitaan.
Ini menimbulkan pertanyaan besar di dalam hatinya: “Untuk apa aku hidup benar?”
“Untuk apa aku setia?” “Untuk apa aku takut Tuhan, kalau orang yang tidak takut Tuhan justru hidupnya lebih enak?”
Pergumulan ini sangat relevan bagi pemuda masa kini. Banyak pemuda bergumul dengan pertanyaan serupa: “Mengapa orang yang curang bisa sukses?” “Mengapa orang yang tidak peduli Tuhan bisa hidup nyaman?” “Mengapa aku yang berusaha hidup benar justru sering gagal?”
Ketika kita melihat media sosial, kita melihat orang lain tampak bahagia, sukses, jalan-jalan, punya ini dan itu. Lalu kita membandingkan diri kita. Kita mulai iri. Kita mulai bertanya-tanya: “Tuhan, di mana Engkau dalam hidupku?”
Ayat 21 berkata:
“Ketika hatiku pedih dan buah pinggangku seperti tertusuk-tusuk.”
Ini bukan bahasa yang ringan. Ini bahasa orang yang sangat terluka.
Hatinya pedih. Perasaannya sakit. Jiwanya tertekan.
Artinya, Asaf tidak berpura-pura kuat. Ia jujur di hadapan Tuhan. Ia tidak menutup-nutupi rasa iri, kecewa, dan bingungnya. Ia mengakui bahwa ia terluka karena membandingkan hidupnya dengan hidup orang fasik.
Sobat muda, sering kali kita diajarkan untuk selalu kelihatan kuat.
Kalau sedih, disimpan sendiri. Kalau kecewa, dipendam. Kalau terluka, ditutup dengan senyum.
Tetapi Mazmur 73 mengajarkan sesuatu yang penting: Tuhan tidak menuntut kita berpura-pura baik-baik saja. Tuhan mau kita jujur di hadapan-Nya.
Asaf tidak berkata, “Aku baik-baik saja.” Ia berkata, “Hatiku pedih.” Ia tidak berkata, “Aku kuat.” Ia berkata, “Aku seperti tertusuk-tusuk.”
Kejujuran ini adalah langkah pertama untuk mengalami penyertaan Tuhan. Karena Tuhan tidak bekerja di balik topeng kepura-puraan, tetapi di dalam hati yang jujur dan terbuka.
Namun Mazmur ini tidak berhenti pada keluhan. Asaf akhirnya sampai pada kesadaran penting: Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Meskipun ia tidak selalu merasakan kebahagiaan, Tuhan tetap ada di dalam hidupnya
.
Tema kita hari ini adalah: “Tuhan ada dalam segala keadaanku.”
Ini berarti: Tuhan ada saat aku senang. Tuhan ada saat aku sedih. Tuhan ada saat aku berhasil. Tuhan ada saat aku gagal. Tuhan ada saat aku kuat. Tuhan ada saat aku lemah.
Penyertaan Tuhan tidak selalu berbentuk kenyamanan. Penyertaan Tuhan tidak selalu berarti hidup tanpa masalah. Kadang justru penyertaan Tuhan hadir dalam proses yang menyakitkan.
Sobat muda, dunia sering mengajarkan bahwa tanda keberhasilan adalah kenyamanan:
kalau hidup mudah, berarti Tuhan memberkati.
kalau hidup sulit, berarti Tuhan tidak peduli.
Tetapi firman Tuhan mengajarkan sesuatu yang berbeda:
Tuhan menyertai kita bukan hanya di puncak gunung, tetapi juga di lembah.
Bukan hanya di saat terang, tetapi juga di saat gelap.
Asaf akhirnya mengerti bahwa yang penting bukan apakah orang fasik makmur atau tidak, tetapi apakah Tuhan ada di dalam hidupnya. Kekayaan tanpa Tuhan tidak ada artinya. Kenyamanan tanpa Tuhan kosong. Keberhasilan tanpa Tuhan rapuh.
Sebaliknya, hidup bersama Tuhan, meskipun sulit, tetap punya arti. Hidup bersama Tuhan, meskipun sakit, tetap punya tujuan. Hidup bersama Tuhan, meskipun penuh air mata, tetap ada harapan.
Sebagai pemuda, kita sedang berada dalam masa pembentukan. Tuhan sedang membentuk karakter kita. Tuhan sedang membentuk iman kita. Tuhan sedang membentuk ketekunan kita.
Proses pembentukan tidak selalu menyenangkan. Kadang kita harus gagal supaya belajar rendah hati. Kadang kita harus kecewa supaya belajar bersandar pada Tuhan. Kadang kita harus menangis supaya belajar berdoa.
Penyertaan Tuhan tidak selalu berarti Ia menghindarkan kita dari masalah. Kadang penyertaan Tuhan berarti Ia menemani kita di dalam masalah.
Seperti seorang ayah yang tidak selalu mengangkat anaknya agar tidak jatuh, tetapi berdiri di samping anaknya ketika ia belajar berjalan.
Sobat muda, kita sering mengukur kasih Tuhan dari keadaan luar: Kalau doaku dijawab cepat, Tuhan sayang aku. Kalau doaku tidak dijawab, Tuhan jauh dariku.
Tetapi Mazmur 73 mengajar kita untuk melihat lebih dalam: Kasih Tuhan tidak diukur dari situasi, tetapi dari kehadiran-Nya dalam situasi itu.
Tuhan ada dalam kegagalan kita. Tuhan ada dalam air mata kita. Tuhan ada dalam pergumulan kita.
Walaupun kita tidak selalu mengerti “mengapa”, kita bisa percaya “siapa” yang menyertai kita.
Asaf akhirnya sadar bahwa ia hampir tergelincir karena iri hati. Ia hampir kehilangan iman karena membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Tetapi Tuhan memegang tangannya dan membawanya kembali pada pengertian yang benar.
Ini juga peringatan bagi kita sebagai pemuda: Jangan membangun iman di atas perbandingan.
Jangan mengukur hidup dari hidup orang lain. Jangan iri pada kesuksesan orang fasik.
Karena yang terlihat indah di luar, belum tentu benar di dalam. Yang tampak bahagia, belum tentu sungguh damai. Yang kelihatan sukses, belum tentu hidupnya berarti.
Hidup bersama Tuhan mungkin tidak selalu mudah, tetapi pasti tidak sia-sia.
Mazmur 73 mengajarkan bahwa iman bukan berarti tidak pernah goyah, tetapi berarti tetap bertahan meskipun goyah. Asaf goyah. Ia iri. Ia kecewa. Tetapi ia tidak meninggalkan Tuhan. Ia membawa kekecewaannya kepada Tuhan.
Inilah yang perlu kita lakukan juga: ketika kecewa → datang kepada Tuhan.
ketika sedih → datang kepada Tuhan. ketika bingung → datang kepada Tuhan. Jangan menjauh dari Tuhan saat terluka. Justru datanglah kepada Tuhan saat terluka.
Sobat muda, mungkin hari ini ada di antara kita yang: merasa gagal dalam studi,
kecewa dalam keluarga, tersakiti dalam pertemanan, lelah dalam pelayanan,
bingung tentang masa depan.
Firman Tuhan hari ini berkata: Tuhan ada dalam segala keadaanmu.
Ia tidak hanya Tuhan di hari Minggu. Ia juga Tuhan di hari Senin sampai Sabtu.
Ia tidak hanya Tuhan di saat kita tersenyum. Ia juga Tuhan di saat kita menangis.
Kekuatan kita bukan berasal dari diri kita sendiri, tetapi dari penyertaan Tuhan. Kalau hari ini kita masih bisa berdiri, itu karena Tuhan menopang. Kalau hari ini kita masih bisa berharap, itu karena Tuhan menyertai.
Kesetiaan kita kepada Tuhan bukan berarti hidup kita selalu bahagia, tetapi berarti kita tetap berjalan bersama Tuhan dalam keadaan apa pun.
Tema kita hari ini: “Tuhan ada dalam segala keadaanku.”
Bukan: Tuhan ada hanya saat aku senang. Bukan: Tuhan ada hanya saat aku berhasil.
Tetapi: Tuhan ada juga saat aku menderita.
Kiranya firman ini menguatkan setiap pemuda yang sedang bergumul. Kiranya firman ini meneguhkan setiap pemuda yang hampir menyerah. Kiranya firman ini menolong kita untuk tetap setia berjalan bersama Tuhan.
Karena pada akhirnya, bukan situasi yang menentukan iman kita, tetapi iman yang menentukan bagaimana kita menjalani situasi.
Tuhan tidak menjanjikan hidup tanpa air mata, tetapi Ia menjanjikan kehadiran-Nya dalam setiap air mata. Dan itu sudah cukup. Amin.
Doa : Tuhan yang setia, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Saat kami sedih, kecewa, dan merasa lemah, ingatkan kami bahwa Engkau tetap hadir dan menyertai. Kuatkan iman kami untuk tetap percaya dalam segala keadaan. Bentuk hidup kami melalui setiap proses, agar kami setia berjalan di jalan-Mu dan memuliakan nama-Mu selalu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas