Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Khotbah Pdt Dr Stefanus Ferli Mawitjere MTh, Yesaya 44:21-28: Kembalilah Kepada-Ku Sebab Aku Telah Menebus Engkau

Tanya Rompas • Jumat, 6 Maret 2026 | 19:05 WIB

Pdt. Dr. Stefanus Mawitjere, M. Th
Pdt. Dr. Stefanus Mawitjere, M. Th

Yesaya 44:21-28

Tema: Kembalilah kepada-Ku sebab Aku telah menebus engkau

Penulis : Pdt. Dr. Stefanus Ferli Mawitjere, M. Th

 

MAP OF THINKING :

  1. Latar belakang situasi politik dan pemerintahan dalam kitab Yesaya (Berkaitan dengan Asyur, Babel, dan Persia)
  2. Pembagian kitab Yesaya menjadi tiga bagian (Proto, Deutro, Trito)
  3. Latar Belakang konteks perikop dan kaitan dengan perikop sebelum/sesudah
  4. Analisis gramatikal bahasa Ibrani beberapa kata kunci
  5. Pokok-pokok pikiran tematis dan Tafsiran
  6. Implikasi / Pesan firman

 

  1. Latar belakang situasi politik dan pemerintahan dalam kitab Yesaya (Berkaitan dengan Asyur, Babel dan Persia)

Latar belakang situasi politik dan pemerintahan dalam

kitab Yesaya berkaitan dengan perubahan kekuasaan besar di kawasan Timur Dekat Kuno, khususnya antara Babel dan Persia. Setelah periode dominasi Asyur, kekaisaran Babel muncul sebagai kekuatan politik yang besar dan pada akhirnya menaklukkan Yehuda serta menghancurkan Yerusalem pada tahun 586 SM, sehingga umat Tuhan dibuang ke Babel (2Raj. 25:8–11). Dalam konteks inilah nubuat-nubuat penghiburan dalam Yesaya 40–55 muncul, yang menegaskan bahwa Allah tetap berdaulat atas sejarah bangsa-bangsa. Yesaya bahkan menubuatkan kebangkitan kekaisaran Persia di bawah raja Koresh (Cyrus), yang akan mengalahkan Babel pada tahun 539 SM dan menjadi alat Allah untuk membebaskan umat-Nya serta memulihkan Yerusalem (Yes. 44:28; 45:1). Dengan demikian, dinamika politik antara Babel dan Persia dalam kitab Yesaya menunjukkan bahwa pemerintahan dunia berada di bawah kedaulatan Allah yang mengarahkan sejarah untuk menghukum sekaligus memulihkan umat perjanjian-Nya.

Kitab Yesaya tidak bisa dipisahkan dalam konteks politik yang terjadi berkaitan dengan bangsa Asyur, bangsa Babel dan juga bangsa Persia. Oleh karena itu penting sekali memahami beberapa momen dan tahapan tahun-tahun yang berkaitan dengan konteks kitab Yesaya yaitu sebagai berikut :

  1. Tahun 740 SM – Panggilan Nabi Yesaya

Raja Uzia adalah salah satu raja Yehuda yang cukup berhasil dan memerintah lama (± 52 tahun; 2Taw. 26:3). Pada masa pemerintahannya Yehuda mengalami kemakmuran dan stabilitas politik. Karena itu kematiannya pada tahun 740 SM menimbulkan ketidakpastian politik bagi Yehuda, terutama karena pada waktu yang sama kekaisaran Asyur mulai bangkit kembali menjadi kekuatan besar di kawasan Timur Dekat.

Pada saat krisis nasional itu, Yesaya menerima penglihatan tentang kemuliaan Tuhan di Bait Suci (Yes. 6:1-8). Penglihatan ini menegaskan bahwa meskipun raja dunia mati, Tuhan tetap memerintah sebagai Raja yang sejati. Dari pengalaman inilah Yesaya dipanggil menjadi nabi untuk menyampaikan pesan penghakiman dan pengharapan kepada Yehuda.

  1. Tahun 734–732 SM – Perang Syro-Efraim

Kerajaan Aram (Damaskus) dan Israel Utara bersekutu untuk menyerang Yehuda dan memaksa raja Ahas bergabung melawan Asyur. Peristiwa ini menjadi konteks Yesaya 7 ketika nabi menasihati Ahas untuk percaya kepada Tuhan, bukan kepada kekuatan politik.

  1. Tahun 722/721 SM – Kejatuhan Kerajaan Israel Utara

Ibu kota Israel Utara, Samaria, ditaklukkan oleh Asyur di bawah raja Sargon II. Banyak orang Israel dibuang. Peristiwa ini menjadi peringatan besar bagi Yehuda

bahwa penghakiman Allah bisa terjadi jika mereka tidak bertobat (bdk. Yes. 10:5–11).

  1. Tahun 701 SM – Serangan Sanherib ke Yehuda

Sanherib raja Asyur menyerang Yehuda pada masa raja Hizkia dan menaklukkan banyak kota, termasuk Lakhis (2Raj. 18:13). Yerusalem hampir jatuh, tetapi Tuhan menyelamatkannya secara ajaib (Yes. 36–37). Ini adalah salah satu peristiwa sejarah terbesar dalam kitab Yesaya.

  1. Tahun 605 SM – Babel mulai berkuasa atas Yehuda

Pada tahun 605 SM, raja Nebukadnezar dari Babel mengalahkan tentara Mesir di Karkemis (bdk. Yer. 46:2). Kemenangan ini membuat Babel menjadi kekuatan dominan di wilayah Timur Dekat, termasuk atas Yehuda. Setelah itu Nebukadnezar datang ke Yerusalem dan mulai membawa sebagian orang Yehuda ke Babel.

  1. Tahun 597 SM – Pembuangan Babel tahap II

Nebukadnezar menaklukkan Yerusalem dan membuang sebagian penduduk Yehuda, termasuk raja Yoyakhin dan para pemimpin bangsa (2Raj. 24:10-16).

2 Raja-raja 24:10–12

“Pada waktu itu majulah pegawai-pegawai Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem dan kota itu dikepung… Lalu keluarlah Yoyakhin, raja Yehuda, kepada raja Babel… maka raja Babel menangkap dia.”

2 Raja-raja 24:14–15

“Ia mengangkut seluruh Yerusalem ke dalam

pembuangan… semua pemuka dan semua orang yang gagah perkasa… juga para tukang dan pandai besi… Raja Yoyakhin diangkutnya ke Babel.”

  1. Tahun 586 SM – Kehancuran Yerusalem

Babel kembali menyerang, menghancurkan Yerusalem dan Bait Suci, serta membawa lebih banyak orang Yehuda ke pembuangan (2Raj. 25:8-10). Peristiwa ini menjadi tragedi terbesar dalam sejarah Israel.

  1. Tahun 539 SM Raja Koresh

Koresh menaklukkan Babel pada tahun 539 SM, dan pada tahun 538 SM ia mengeluarkan dekrit yang mengizinkan orang Yahudi kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Suci (Ezra 1:1–4; 2 Tawarikh 36:22–23)

 

 2. Pembagian kitab Yesaya menjadi tiga bagian (Proto, Deutro, Trito)

  1. Proto-Yesaya (Yesaya 1–39)

Konteks: Pelayanan nabi Yesaya pada abad ke-8 SM. Masa sebelum pembuangan

Isi utama:

Teguran atas dosa Yehuda (Yes. 1:2–4)

Panggilan Yesaya (Yes. 6:1–8)

Nubuat Mesias (Yes. 7:14; 9:5–6; 11:1)

Tema: Penghakiman Allah dan janji keselamatan.

  1. Deutero-Yesaya (Yesaya 40–55)

Konteks: nubuata di masa pembuangan Babel.

Isi utama:

Penghiburan bagi umat (Yes. 40:1)

Allah berdaulat atas sejarah (Yes. 41:10)

Nubuat tentang Koresh sebagai pembebas (Yes. 44:28; 45:1)

Nubuat Hamba Tuhan yang menderita (Yes. 53:4–5)

Tema: Penghiburan dan janji pembebasan.

  1. Trito-Yesaya (Yesaya 56–66)

Konteks: Masa setelah umat kembali dari pembuangan.

Isi utama:

Rumah Tuhan bagi segala bangsa (Yes. 56:7)

Kritik terhadap ibadah yang munafik (Yes. 58:6–7)

Janji langit baru dan bumi baru (Yes. 65:17)

Tema: Pemulihan umat dan harapan eskatologis.

 

 3. Latar Belakang konteks perikop dan kaitan dengan perikop sebelum/sesudah

Yesaya 44:21–28 berada dalam bagian yang sering disebut sebagai Deutero-Yesaya (Yes. 40–55), yang

ditujukan kepada umat Yehuda dalam konteks pembuangan Babel pada abad ke-6 SM. Bagian ini berbicara kepada umat yang mengalami krisis identitas teologis: tanah hilang, bait Allah hancur, dan kerajaan Daud runtuh. Dalam situasi itu muncul pertanyaan besar: apakah TUHAN masih berdaulat? Pasal 44 secara khusus berdiri dalam kontras tajam antara kebodohan penyembahan berhala (44:9–20) dan kemuliaan TUHAN sebagai Pencipta serta Penebus Israel (44:21–28). Perikop ini menjadi klimaks argumentasi: Allah yang sejati bukan hanya Pencipta kosmos, tetapi juga Pengendali sejarah yang akan memulihkan umat-Nya melalui seorang raja kafir bernama Koresh

Secara khusus, Yesaya 44:21–28 merupakan klimaks dari polemik terhadap berhala dan jembatan menuju pengenalan Koresh (Koresy) dalam pasal 45. Setelah menggambarkan ironi dan kesia-siaan penyembahan berhala (44:9–20), nabi kembali menegaskan identitas Israel sebagai hamba yang “dibentuk” (יָצַר, yatsar) oleh TUHAN (ay. 21)—sebuah istilah yang mengingatkan pada tindakan Allah sebagai Pencipta (bdk. Kej. 2:7). Umat yang merasa “terlupakan” dalam pembuangan diteguhkan dengan janji bahwa dosa mereka telah “dihapuskan seperti kabut” (ay. 22), bahasa yang menekankan anugerah pengampunan sebagai dasar

pemulihan. Puncaknya terdapat pada ayat 24–28, di mana TUHAN menyatakan diri sebagai Pencipta kosmos dan Pengatur sejarah, bahkan menyebut nama Koresh jauh sebelum ia berkuasa, sebagai “gembala-Ku” yang akan melaksanakan kehendak-Nya untuk membangun kembali Yerusalem dan Bait Suci. Penegasan ini menunjukkan bahwa pembebasan Israel bukan kebetulan politik, melainkan tindakan providensial Allah yang bekerja melalui raja kafir sekalipun. Dengan demikian, perikop ini memperlihatkan integrasi antara teologi penciptaan, pengampunan, dan kedaulatan Allah atas sejarah sebagai dasar pengharapan eskatologis bagi umat perjanjian.

Koresh (Cyrus II dari Persia, memerintah ±559–530 s.M.) muncul dalam Yesaya 44:28 sebagai tokoh historis yang secara teologis sangat signifikan. Ia disebut secara eksplisit dengan namanya—suatu hal yang jarang dalam nubuat—dan diberi gelar “gembala-Ku” (רֹעִי, ro‘i), istilah yang dalam Perjanjian Lama biasanya dipakai bagi raja Israel ideal atau bagi TUHAN sendiri (bdk. Mzm. 23; Yeh. 34). Secara historis, Koresh menaklukkan Babel pada tahun 539 s.M., dan kebijakannya berbeda dari pendahulunya: ia mengizinkan bangsa-bangsa buangan kembali ke negeri asal serta membangun kembali tempat ibadah mereka.

Kebijakan ini tercatat dalam Cyrus Cylinder dan juga dalam Alkitab (Ezr. 1:1–4; 2Taw. 36:22–23). Bagi umat Yehuda, tindakan Koresh bukan sekadar kebijakan politik yang toleran, melainkan penggenapan firman TUHAN yang telah dinubuatkan sebelumnya. Ia menjadi alat providensi Allah untuk mengakhiri masa pembuangan yang telah dinubuatkan Yeremia (Yer. 25:11–12; 29:10). Dengan demikian, kehadiran Koresh menegaskan bahwa Allah Israel bukan hanya Allah lokal, tetapi Tuhan atas sejarah internasional.

Secara teologis, penyebutan Koresh menunjukkan konsep kedaulatan Allah yang melampaui batas perjanjian etnis. Dalam Yesaya 45:1 bahkan Koresh disebut “orang yang diurapi-Ku” (מְשִׁיחוֹ, meshiḥo), istilah yang biasanya diperuntukkan bagi raja Daud atau imam yang dikuduskan. Ironinya, seorang raja kafir disebut “mesias” dalam arti fungsional—bukan sebagai penyelamat rohani, tetapi sebagai alat pilihan Allah untuk melaksanakan maksud keselamatan historis-Nya. Bagi umat Yehuda yang berada dalam trauma teologis akibat kehancuran Yerusalem, fakta bahwa TUHAN dapat memakai penguasa asing untuk menggenapi janji-Nya menjadi penghiburan sekaligus koreksi: keselamatan mereka tidak tergantung pada kekuatan nasional Israel, melainkan pada kesetiaan Allah terhadap perjanjian-Nya. Koresh menjadi tanda bahwa

Allah tetap bekerja bahkan melalui struktur politik dunia yang tampak sekuler. Dalam perspektif yang lebih luas, hal ini memperlihatkan pola teologis bahwa Allah dapat memakai siapa saja—bahkan yang tidak mengenal-Nya (Yes. 45:4–5)—untuk menggenapi rencana penebusan-Nya, sehingga sejarah dunia menjadi arena pelaksanaan kehendak ilahi demi pemulihan umat perjanjian.

 

 4. Analisis gramatikal bahasa Ibrani beberapa kata kunci

Berikut beberapa kata kunci Ibrani penting dalam perikop Yesaya 44:21–28 dengan analisis gramatikal dan semantik secara singkat:

 

. זְכָר־אֵלֶּה (zᵉkār-ʾēlleh) – “Ingatlah semuanya ini” (Y 44:21). Kata זְכָר (zᵉkār) berasal dari akar זכר (zākar) yang berarti mengingat atau mengingat kembali. Secara gramatikal bentuk ini adalah imperatif maskulin tunggal dalam bentuk qal, yaitu perintah langsung kepada Israel untuk “mengingat.” Secara semantik, kata ini tidak hanya berarti mengingat secara mental, tetapi mengingat dengan kesadaran iman akan tindakan penyelamatan Allah dalam sejarah.

 

. מָחִיתִי (māḥîtî) – “Aku telah menghapuskan” (Yes. 44:22) Kata kerja ini berasal dari akar מחה (māḥāh)

yang berarti menghapus, melenyapkan, atau menghapus tulisan. Secara gramatikal bentuknya adalah qal perfekt orang pertama tunggal, yang berarti “Aku telah menghapus.” Secara semantik, gambaran ini seperti awan yang disapu angin, menekankan bahwa Allah sendiri yang menghapus dosa Israel secara total.

 

. גֹּאֲלֶךָ (gōʾălekā) – “Penebusmu” (Yes. 44:23–24)

Kata ini berasal dari akar גאל (gāʾal) yang berarti menebus atau membebaskan anggota keluarga. Secara gramatikal bentuknya adalah partisipel qal maskulin tunggal dengan sufiks orang kedua maskulin tunggal (“-mu”). Dalam hukum Israel, go'el adalah kerabat penebus yang memulihkan hak keluarga (Im. 25:25). Secara semantik, kata ini menegaskan bahwa Allah bertindak sebagai Penebus perjanjian yang memulihkan umat-Nya dari pembuangan.

 

. מֵפֵר (mēpēr) – “yang menggagalkan” (Yes. 44:25)

Kata ini berasal dari akar פרר (pārar) yang berarti membatalkan, merusakkan, atau menggagalkan. Secara gramatikal bentuknya adalah partisipel hiphil maskulin tunggal, yang menunjukkan tindakan aktif dan terus-menerus: “Dia yang menggagalkan.” Secara semantik, kata ini menunjuk pada Allah yang menggagalkan tanda-tanda para peramal dan tukang tenung Babel, sehingga menegaskan supremasi hikmat Allah atas hikmat manusia.

 

. מֵקִים (mēqîm) – “yang meneguhkan” (Yes. 44:26) Kata ini berasal dari akar קום (qûm) yang berarti bangkit, berdiri, menegakkan. Secara gramatikal bentuknya adalah partisipel hiphil maskulin tunggal, yang berarti “Dia yang menegakkan atau meneguhkan.” Secara semantik, kata ini menunjukkan bahwa Allah memastikan firman para nabi-Nya digenapi, berbeda dengan ramalan palsu yang digagalkan-Nya.

 

. רֹעִי (rōʿî) – “gembala-Ku” (Yes. 44:28) Kata ini berasal dari akar רעה (rāʿāh) yang berarti menggembalakan atau memimpin. Bentuknya adalah nomina maskulin tunggal dengan sufiks pronominal orang pertama tunggal (“-Ku”). Secara semantik, istilah “gembala” adalah metafora kepemimpinan raja dalam Alkitab. Menariknya, gelar ini diberikan kepada Koresh, raja Persia, untuk menunjukkan bahwa Allah memakai dia sebagai alat untuk menuntun pemulihan Yerusalem dan pembangunan kembali Bait Suci.

 

 5. Pokok-pokok pikiran tematis dan Tafsiran

 

  1. Panggilan untuk mengingat identitas sebagai umat Allah (ay. 21)

“Ingatlah semuanya ini, hai Yakub, sebab engkaulah hamba-Ku; Aku telah membentuk engkau, engkau adalah hamba-Ku, hai Israel; engkau tidak akan Kulupakan.”

Tafsiran

Ayat ini dimulai dengan kata “ingatlah” (Ibrani: זָכַר – zakar) yang merupakan panggilan untuk kembali mengingat karya Allah yang telah dijelaskan sebelumnya, terutama kebodohan penyembahan berhala (44:9-20). Israel dipanggil untuk mengingat identitas teologisnya sebagai “hamba Tuhan”.

Istilah “Aku telah membentuk engkau” (yatsar) menggemakan gambaran Allah sebagai pembentuk umat seperti tukang periuk. Artinya, keberadaan Israel sebagai bangsa adalah hasil karya kreatif Allah sendiri. Karena itu mereka tidak boleh kembali kepada berhala.

Pernyataan “engkau tidak akan Kulupakan” adalah jaminan perjanjian. Walaupun Israel telah berdosa dan mengalami pembuangan, Allah tetap mengingat mereka. Dalam teologi Perjanjian Lama, “mengingat” bukan sekadar ingatan mental tetapi tindakan setia Allah untuk menepati perjanjian-Nya.

Secara teologis ayat ini menegaskan bahwa identitas

umat Allah tidak ditentukan oleh keadaan pembuangan, tetapi oleh pilihan dan pembentukan Allah sendiri.

 

  1. Penghapusan dosa dan panggilan untuk kembali kepada Tuhan (ay. 22)

“Aku telah menghapuskan segala pemberontakanmu seperti kabut dan segala dosamu seperti awan; kembalilah kepada-Ku, sebab Aku telah menebus engkau.”

Tafsiran

Di ayat ini muncul gambaran yang sangat indah tentang pengampunan ilahi. Kata “menghapuskan” (machah) berarti menghapus tulisan dari permukaan. Ini menggambarkan bahwa dosa Israel dihapus secara total.

Dosa digambarkan seperti kabut dan awan yang menghalangi terang. Ketika Tuhan menghapusnya, penghalang antara Allah dan umat-Nya lenyap.

Menariknya, pengampunan ini mendahului pertobatan. Tuhan berkata “Aku telah menebus engkau”, baru kemudian memanggil: “kembalilah kepada-Ku.” Ini menunjukkan pola teologi anugerah:

Allah bertindak terlebih dahulu dalam penebusan, lalu umat dipanggil untuk merespons dengan pertobatan.

Istilah “menebus” (ga’al) adalah istilah hukum keluarga dalam Israel. Seorang goel (penebus) adalah kerabat

yang menebus anggota keluarga yang jatuh dalam kesulitan. Dengan kata lain, Allah menyatakan diri sebagai Penebus keluarga Israel.

 

  1. Sukacita kosmis atas karya penebusan Tuhan (ay. 23)

“Bersorak-sorailah, hai langit… bersorak-sorailah, hai gunung-gunung.”

Tafsiran

Ayat ini adalah seruan liturgis kosmis. Seluruh ciptaan dipanggil untuk bersukacita karena tindakan penyelamatan Allah.

Dalam teologi Perjanjian Lama, keselamatan Israel tidak hanya berdampak pada manusia tetapi juga pada seluruh ciptaan. Alam semesta digambarkan ikut merayakan karya penebusan Tuhan.

Hal ini menunjukkan bahwa karya Allah terhadap Israel adalah peristiwa kosmis yang menyatakan kemuliaan-Nya kepada seluruh dunia.

Pusat sukacita itu adalah kalimat:

“Tuhan telah menebus Yakub dan memuliakan diri-Nya di Israel.”

Artinya, pemulihan Israel bukan hanya demi kesejahteraan mereka, tetapi terutama untuk menyatakan kemuliaan Allah.

 

  1. Tuhan sebagai Pencipta dan Penguasa atas realitas

(ay. 24)

“Akulah TUHAN yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit dan menghamparkan bumi.”

Tafsiran

Ayat ini menegaskan monoteisme radikal dalam kitab Yesaya. Tuhan menegaskan bahwa Ia adalah:

Pencipta segala sesuatu

Penguasa segala sesuatu

Tidak membutuhkan bantuan siapa pun

Penegasan ini secara polemis menyerang teologi Babel yang mempercayai banyak dewa pencipta. Dalam mitologi Babel, penciptaan melibatkan konflik antara dewa-dewa. Namun Yesaya menyatakan bahwa YHWH menciptakan dunia sendirian.

Hubungannya dengan konteks pembuangan sangat penting. Jika Tuhan adalah Pencipta alam semesta, maka jelas Ia juga berdaulat atas sejarah politik, termasuk kekaisaran Babel.

 

  1. Tuhan membongkar hikmat palsu dan meneguhkan firman-Nya (ay. 25–26)

Ay.25 – Tuhan menggagalkan para peramal dan orang berhikmat

Ay.26 – Tuhan meneguhkan perkataan hamba-Nya

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan konfrontasi antara wahyu Allah dan sistem pengetahuan Babel.

Babel terkenal dengan praktik divinasi (ramalan) seperti astrologi, tafsir mimpi, dan membaca tanda-tanda alam. Sistem ini dianggap sebagai sumber hikmat dan pengetahuan masa depan.

Namun Tuhan menyatakan bahwa Ia:

meniadakan tanda-tanda peramal pembohong

membuat orang berhikmat menjadi bodoh

menggagalkan pengetahuan mereka

Ini berarti Allah meruntuhkan fondasi epistemologis Babel, yaitu klaim bahwa manusia dapat mengetahui masa depan melalui teknik religius.

Sebaliknya, Tuhan meneguhkan firman para nabi-Nya. Firman Tuhanlah yang menentukan sejarah, bukan ramalan manusia.

Ayat 26 juga memuat nubuat pemulihan:

Yerusalem akan didiami kembali

kota-kota Yehuda akan dibangun kembali

Ini menunjukkan bahwa firman nabi lebih kuat daripada kekuatan kekaisaran.

 

  1. Tuhan mengendalikan alam dan sejarah demi pemulihan Israel (ay. 27)

 

“Yang berfirman kepada laut yang dalam: jadilah kering.”

Tafsiran

Ayat ini kemungkinan mengacu pada dua gambaran teologis besar:

Eksodus – Allah mengeringkan Laut Teberau.

Penaklukan Babel – sungai Efrat dikeringkan sehingga Koresh dapat masuk ke kota Babel.

Dengan kata lain, Tuhan yang dahulu menyelamatkan Israel dari Mesir akan mengulangi tindakan penyelamatan dalam sejarah baru.

Hal ini menegaskan bahwa Allah menguasai alam dan geopolitik sekaligus.

 

 

  1. Koresh sebagai alat Allah untuk pemulihan Israel (ay. 28)

 

“Akulah yang berkata tentang Koresh: Dialah gembala-Ku.”

Tafsiran

Ini adalah salah satu nubuat paling mengejutkan dalam Perjanjian Lama. Nama Koresh (Cyrus) disebut secara langsung.

Koresh adalah raja Persia yang pada tahun 539 SM menaklukkan Babel dan mengizinkan bangsa-bangsa yang ditawan untuk kembali ke negeri mereka.

Tuhan menyebut Koresh sebagai:

“gembala-Ku” – pemimpin yang melaksanakan

kehendak Allah

alat untuk membangun Yerusalem dan Bait Suci

Yang luar biasa adalah bahwa Koresh bukan orang Israel dan bukan penyembah YHWH. Namun Tuhan tetap memakai dia sebagai alat dalam rencana keselamatan.

Ini menunjukkan doktrin penting dalam teologi Yesaya:

Allah berdaulat atas bangsa-bangsa dan bahkan memakai penguasa kafir untuk menggenapi rencana-Nya.

 

Kitab Yesaya menubuatkan tentang Raja Koresh (Cyrus) dari Persia sebagai alat Allah untuk membebaskan umat Israel dari pembuangan Babel. Nubuat ini terdapat dalam Yesaya 44:28 dan Yesaya 45:1, di mana Koresh disebut sebagai “gembala-Ku” dan “orang yang diurapi-Ku,” yang akan membangun kembali Yerusalem dan Bait Suci. Nubuat ini disampaikan dalam konteks pelayanan Yesaya sekitar 740–700 SM, jauh sebelum Koresh muncul dalam sejarah. Secara historis, Koresh menaklukkan Babel pada tahun 539 SM, dan pada tahun 538 SM ia mengeluarkan dekrit yang mengizinkan orang Yahudi kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Suci (Ezra 1:1–4; 2 Tawarikh 36:22–23). Dengan demikian, kitab Yesaya menunjukkan bahwa Allah telah menyatakan rencana-Nya jauh sebelumnya dan kemudian menggenapinya dalam sejarah,

menegaskan kedaulatan-Nya atas bangsa-bangsa dan para raja dunia.

 

6. Implikasi / Pesan firman

 

Berikut 3 pesan firman yang singkat, praktis, tetapi teologis dari Yesaya 44:21–28:

 

Tuhan tidak melupakan umat-Nya

Walaupun Israel jatuh dalam dosa dan mengalami pembuangan, Tuhan tetap berkata, “engkau tidak akan Kulupakan” (ay.21). Ini menunjukkan kesetiaan Allah terhadap perjanjian-Nya, bahwa identitas umat Tuhan tetap berada dalam pemeliharaan-Nya.

 

Penebusan Allah menghapus dosa secara total

Tuhan berkata Ia menghapus pelanggaran seperti kabut (ay.22). Secara teologis ini menunjukkan bahwa penebusan berasal dari inisiatif anugerah Allah, yang menghapus dosa dan memulihkan relasi umat dengan-Nya. Karena itu umat dipanggil untuk kembali kepada Tuhan sebagai respons terhadap anugerah penebusan-Nya.

 

Tuhan berdaulat atas sejarah

Tuhan bahkan memakai Koresh, raja Persia, untuk membangun kembali Yerusalem (ay.28). Ini menegaskan bahwa Allah berkuasa atas bangsa-bangsa dan sejarah dunia untuk menggenapi rencana keselamatan-Nya.

Editor : Tanya Rompas