Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 10 Maret 2026, Bacaan I Daniel 3:25,34-43, Bacaan Injil Matius18:21-35

Fandy Gerungan • Selasa, 10 Maret 2026 | 09:46 WIB

Photo
Photo


Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 10 Maret 2026, Bacaan I Daniel 3:25,34-43, Bacaan Injil Matius18:21-35

Pekan Prapaskah III (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Daniel 3:25,34-43

Maka Azarya berdiri dan berdoa sebagai berikut. Ia membuka mulutnya di tengah-tengah api itu, katanya:

Janganlah kami Kautolak selamanya demi namaMu, dan janganlah Kaubatalkan perjanjianMu;

janganlah Kautarik kembali dari pada kami belas kasihanMu demi Abraham, kekasihMu, demi Ishak, hambaMu dan demi Israel, orang suciMu,

yang kepadanya telah Kaujanjikan untuk memperbanyak keturunan mereka laksana bintang-bintang di langit dan seperti pasir di tepi taut.

Ya Tuhan, jumlah kami telah menjadi lebih kecil dari jumlah sekalian bangsa, dan sekarang kamipun dianggap rendah di seluruh bumi oleh karena segala dosa kami.

Dewasa inipun tidak ada pemuka, nabi atau penguasa, tiada korban bakaran atau korban sembelihan, korban sajian atau ukupan; tidak pula ada tempat untuk mempersembahkan buah bungaran kepadaMu dan mendapat belas kasihan.

Tetapi semoga kami diterima baik, karena jiwa yang remuk redam dan roh yang rendah, seolah-olah kami datang membawa korban-korban bakaran domba dan lembu serta ribuan anak domba tambun.

Demikianlah hendaknya korban kami di hadapanMu pada hari ini berkenan seluruhnya kepadaMu. Sebab tidak dikecewakanlah mereka yang percaya padaMu.

Kini kami mengikuti Engkau dengan segenap jiwa dan dengan takut kepadaMu, dan wajahMu kami cari. Janganlah kami Kaupermalukan,

melainkan perlakukankanlah kami sesuai dengan kemurahanMu dan menurut besarnya belas kasihanMu.

Lepaskanlah kami sesuai dengan perbuatanMu yang ajaib, dan nyatakanlah kemuliaan namaMu, ya Tuhan.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 25:4bc-5ab,6-7bc,8-9

Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku.

Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.

Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala.

Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.

TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.

Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.

Bacaan Injil Matius 18:21-35

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"

Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.

Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.

Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.

Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.

Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!

Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.

Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.

Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.

Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?

Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.

Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i renungan hari ini mengajak kita melihat dua sikap hati manusia di hadapan Tuhan: hati yang rendah dan memohon belas kasihan, serta hati yang keras yang sulit mengampuni.

Dalam bacaan pertama diceritakan tentang seorang yang berdoa kepada Tuhan dari tengah penderitaan yang sangat berat. Ia tidak membela dirinya, tidak juga menyalahkan orang lain.

Sebaliknya, ia mengakui bahwa bangsa mereka telah jatuh dalam banyak kesalahan. Dengan kerendahan hati ia memohon agar Tuhan tetap menunjukkan belas kasih-Nya.

Ia sadar bahwa manusia sering kali tidak memiliki apa-apa untuk dipersembahkan kepada Tuhan selain hati yang hancur dan penuh penyesalan. Namun justru dari hati seperti itulah doa yang tulus lahir.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak terutama mencari persembahan yang besar atau hal-hal yang megah. Yang Tuhan rindukan adalah hati yang jujur, hati yang menyadari kelemahan diri, dan hati yang mau kembali kepada-Nya.

Ketika seseorang datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati, di situlah belas kasih Tuhan bekerja dengan luar biasa.

Sementara itu dalam Injil, Yesus mengajarkan sesuatu yang tidak mudah bagi manusia: mengampuni tanpa batas. Petrus mencoba menghitung berapa kali seseorang harus memberi pengampunan, seolah-olah kasih memiliki angka tertentu. Namun Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati tidak dapat dibatasi oleh hitungan.

Melalui sebuah perumpamaan tentang seorang raja dan para hambanya, Yesus menggambarkan betapa besar belas kasih Tuhan kepada manusia. Ada seorang hamba yang memiliki hutang yang sangat besar dan tidak mungkin ia lunasi.

Karena belas kasihan, tuannya menghapuskan seluruh hutangnya. Namun ironisnya, hamba yang baru saja menerima pengampunan besar itu tidak mampu menunjukkan belas kasihan yang sama kepada orang lain yang memiliki hutang jauh lebih kecil kepadanya.

Di sinilah pesan penting Injil hari ini: sering kali manusia sangat berharap Tuhan mengampuni kesalahan mereka, tetapi di saat yang sama mereka sulit mengampuni kesalahan orang lain. Padahal setiap orang hidup dari rahmat dan pengampunan Tuhan setiap hari.

Jika kita jujur, sebenarnya kita semua adalah seperti hamba yang memiliki hutang besar. Kita menerima begitu banyak belas kasih Tuhan dalam hidup kita: kesempatan baru, pengampunan dosa, perlindungan, dan berkat yang tidak terhitung. Namun kadang kita masih menyimpan luka, dendam, atau kemarahan terhadap sesama.

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan bahwa orang yang sungguh mengalami belas kasih Tuhan akan belajar menyalurkan belas kasih itu kepada orang lain. Mengampuni memang tidak selalu mudah.

Kadang luka terlalu dalam dan rasa sakit terlalu nyata. Tetapi justru di situlah iman kita diuji: apakah kita mau menyerahkan luka itu kepada Tuhan dan membiarkan hati kita dibebaskan dari kepahitan.

Mengampuni bukan berarti melupakan begitu saja, tetapi memilih untuk tidak membiarkan kebencian menguasai hati kita. Pengampunan adalah jalan menuju kebebasan batin.

Masa tobat adalah waktu yang tepat untuk memeriksa hati kita. Apakah masih ada orang yang belum kita ampuni?. Apakah kita masih menyimpan kemarahan atau sakit hati yang lama?. Tuhan yang penuh belas kasih mengundang kita untuk melepaskan semua itu, supaya hati kita menjadi ringan dan damai.

Semoga hari ini kita belajar dua hal penting: datang kepada Tuhan dengan hati yang rendah seperti dalam doa yang penuh pertobatan, dan mengampuni sesama dengan hati yang luas seperti Tuhan telah lebih dahulu mengampuni kita. Dengan demikian, hidup kita benar-benar menjadi tanda nyata dari belas kasih Tuhan di dunia. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan