Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Pemuda, GPIB, Senin, 9 Maret 2026, Mazmur 73:25 Masa Mudaku Dalam Tangan Tuhan

Alfianne Lumantow • Selasa, 10 Maret 2026 | 12:29 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab : Mazmur 73:25
Tema : MASA MUDAKU DALAM TANGAN TUHAN

“Siapakah yang kumiliki di surga kecuali Engkau?” (ay. 25a)
Masa muda adalah masa Tuhan memanggilku dalam karya-Nya.

Sobat muda yang dikasihi Tuhan, masa muda adalah masa yang sangat spesial dalam perjalanan hidup manusia. Masa muda adalah masa penuh energi, penuh mimpi, penuh semangat, dan penuh potensi.

Pada masa inilah kita mulai merancang masa depan, menetapkan cita-cita, dan menentukan arah hidup. Kita ingin berhasil, ingin diakui, ingin dihargai, dan ingin menjadi seseorang yang berarti.

Namun, masa muda bukan hanya masa penuh peluang, tetapi juga masa penuh tantangan. Masa muda adalah masa di mana kita mulai banyak bertanya tentang jati diri: “Aku ini siapa?” “Aku mau jadi apa?” “Apa arti hidupku?”

Masa muda juga adalah masa di mana kita mudah terpengaruh oleh lingkungan, tren, dan media sosial. Apa yang dilihat, sering ingin ditiru. Apa yang viral, sering ingin diikuti. Tanpa sadar, kita bisa kehilangan arah karena ingin diterima dan diakui.

Firman Tuhan hari ini membawa kita kepada pengakuan iman yang sangat dalam: “Siapakah yang kumiliki di surga kecuali Engkau?” Ini bukan kalimat orang yang hidupnya selalu mulus.

Ini adalah kalimat orang yang pernah kecewa, pernah iri, pernah bingung, tetapi akhirnya menemukan satu kebenaran: hanya Tuhan yang menjadi pegangan hidupnya.

Pemazmur Asaf dalam Mazmur 73 bukan orang yang sejak awal kuat imannya. Ia jujur menceritakan bahwa ia sempat iri kepada orang-orang fasik yang hidupnya terlihat enak, berhasil, dan tanpa masalah. Ia merasa hidup benar kepada Tuhan seolah-olah tidak ada gunanya. Secara manusiawi, ia kecewa.

Ia membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Ia melihat dunia menawarkan banyak kesenangan yang kelihatannya lebih menarik daripada hidup taat kepada Tuhan.

Sobat muda, perasaan Asaf ini sangat dekat dengan dunia kita hari ini. Kita hidup di zaman perbandingan. Media sosial membuat kita mudah membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain.

Kita melihat orang lain sukses lebih cepat, lebih kaya, lebih populer, lebih bahagia. Lalu kita mulai bertanya dalam hati: “Kenapa bukan aku?” “Kenapa hidupku begini-begini saja?”

Kadang kita jadi iri. Kadang kita jadi minder. Kadang kita jadi kecewa pada diri sendiri. Bahkan kadang kita bisa kecewa pada Tuhan. Kita merasa sudah berusaha, sudah berdoa, sudah ikut kegiatan rohani, tapi hasilnya belum seperti yang kita harapkan.

Asaf juga mengalami hal itu. Tetapi titik balik hidupnya terjadi ketika ia kembali memandang Tuhan, bukan keadaan. Ia sadar bahwa kesenangan dunia tidak kekal. Ia sadar bahwa keberhasilan tanpa Tuhan hanya sementara.

Ia sadar bahwa hanya Tuhan yang dapat menjadi dasar hidupnya. Maka ia berkata : Siapakah yang kumiliki di surga kecuali Engkau?” Artinya: “Tuhan, Engkaulah yang paling penting bagiku. Tanpa Engkau, semua yang lain tidak berarti.”

Sobat muda, masa muda adalah masa Tuhan memanggil kita untuk terlibat dalam karya-Nya. Tuhan tidak hanya memanggil orang tua atau orang yang sudah mapan. Tuhan juga memanggil anak muda. Tuhan mau memakai masa muda kita, bukan sisa hidup kita. Tuhan mau terlibat dalam mimpi kita, bukan hanya dalam kegagalan kita.

Namun, pertanyaannya: di tangan siapa masa muda kita berada?
Apakah masa muda kita ada di tangan tren dunia?
Apakah masa muda kita ada di tangan ambisi pribadi?
Apakah masa muda kita ada di tangan pengakuan manusia?
Atau masa muda kita sungguh ada di tangan Tuhan?

Dunia menawarkan banyak hal yang kelihatan menyenangkan: popularitas, uang, kesenangan instan, kebebasan tanpa batas. Dunia berkata: “Kalau mau bahagia, lakukan saja apa yang kamu mau.” Tetapi firman Tuhan berkata: “Kalau mau hidup bermakna, hiduplah bersama Tuhan.”

Ada kutipan yang mengatakan, “Jika kita menginginkan kebahagiaan sejati, kita harus mencari Tuhan, bukan hanya hal-hal yang Tuhan berikan.” Ini sangat relevan bagi kita sebagai anak muda.

Banyak dari kita ingin berkat Tuhan, tetapi tidak selalu mau Tuhan itu sendiri. Kita ingin sukses, tapi tidak selalu mau tunduk pada kehendak Tuhan. Kita ingin jalan kita lancar, tapi tidak selalu mau berjalan di jalan Tuhan.

Padahal, kebahagiaan sejati bukan terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, tetapi kepada siapa kita menyerahkan hidup kita. Kesuksesan sejati bukan soal lebih hebat dari orang lain, tetapi soal hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

Sobat muda, tema “Masaku Muda dalam Tangan Tuhan” mengingatkan kita bahwa masa muda bukan milik dunia, bukan milik ego kita, tetapi milik Tuhan. Masa muda adalah masa pembentukan. Masa Tuhan mengajar kita percaya, taat, dan setia.

Kalau masa muda kita berada dalam tangan Tuhan, maka:
• arah hidup kita tidak ditentukan oleh tren, tetapi oleh firman Tuhan,
• keputusan kita tidak hanya berdasarkan perasaan, tetapi berdasarkan kehendak Tuhan,
• mimpi kita tidak hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang kemuliaan Tuhan.

Sering kali kita berpikir bahwa ikut Tuhan berarti kehilangan banyak hal. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah: bersama Tuhan, kita menemukan arti hidup yang sesungguhnya.

Dunia bisa memberi kesenangan, tetapi Tuhan memberi makna. Dunia bisa memberi hiburan, tetapi Tuhan memberi damai. Dunia bisa memberi pengakuan sementara, tetapi Tuhan memberi identitas yang sejati.

Asaf akhirnya menyadari bahwa Tuhan adalah bagian terpenting dalam hidupnya. Ia berkata bukan hanya tentang surga, tetapi juga tentang bumi: “Siapakah yang kumiliki di surga kecuali Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.”
Artinya: Tuhan bukan hanya penting untuk hidup kekal, tetapi juga penting untuk hidup sekarang.

Sobat muda, Tuhan bukan hanya Tuhan hari Minggu, tetapi Tuhan setiap hari. Tuhan bukan hanya Tuhan di gereja, tetapi Tuhan di sekolah, di kampus, di tempat kerja, di media sosial, dan dalam pergaulan. Tuhan ingin hadir dalam semua aspek hidup kita.

Mungkin saat ini ada di antara kita yang sedang bingung tentang masa depan.
Ada yang takut gagal.
Ada yang merasa tertinggal.
Ada yang iri melihat orang lain lebih maju.
Ada yang lelah karena berusaha tapi belum berhasil.

Firman Tuhan hari ini mau berkata: jangan lepaskan tangan Tuhan dari masa mudamu. Jangan serahkan hidupmu sepenuhnya kepada dunia. Jangan ukur nilai dirimu dari standar dunia. Ukurlah hidupmu dari siapa Tuhan bagimu.

Ketika Tuhan memegang masa muda kita, Dia akan menuntun kita:
• dalam memilih jalan hidup,
• dalam menghadapi kegagalan,
• dalam mengelola emosi,
• dalam membangun karakter,
• dalam memakai potensi kita bagi sesama.

Tuhan tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi Tuhan menjanjikan penyertaan. Tuhan tidak menjanjikan kita akan selalu lebih cepat dari orang lain, tetapi Tuhan menjanjikan kita tidak berjalan sendirian.

Sobat muda, kesuksesan dan kebahagiaan bukan karena kita lebih hebat dari orang lain atau karena kita menjadi seperti orang lain. Kesuksesan dan kebahagiaan sejati ada ketika hidup kita ada dalam tangan Tuhan.

Ketika Tuhan menjadi pusat hidup kita, kita tidak lagi hidup hanya untuk membuktikan diri, tetapi hidup untuk memuliakan Tuhan.

Maka, pertanyaan penting bagi kita hari ini adalah:
• Siapa yang memegang masa mudaku?
• Siapa yang menentukan arah hidupku?
• Apa yang paling aku kejar dalam hidup ini?

Mari kita belajar bersama Asaf untuk berkata: “Tuhan, Engkaulah yang paling penting bagiku.” “Tuhan, Engkaulah yang memegang masa mudaku.” “Tuhan, Engkaulah yang menentukan arah hidupku.”

Jika kita menyerahkan masa muda kita kepada Tuhan:
• Tuhan akan membentuk karakter kita,
• Tuhan akan memurnikan motivasi kita,
• Tuhan akan memakai potensi kita,
• Tuhan akan menuntun masa depan kita.

Sobat muda, masa muda adalah anugerah. Jangan sia-siakan dengan hidup tanpa arah. Jangan habiskan hanya untuk mengejar pengakuan dunia. Jangan rusakkan dengan keputusan yang menjauhkan kita dari Tuhan. Tetapi gunakan masa muda sebagai masa untuk mengenal Tuhan, melayani Tuhan, dan bertumbuh bersama Tuhan.

Biarlah hidup kita menjadi kesaksian bahwa:
masa muda bisa kudus,
masa muda bisa dipakai Tuhan,
masa muda bisa menjadi berkat,
masa muda bisa memuliakan Tuhan.

Kiranya hari ini kita bisa berkata dengan iman:
“Tuhan, masa mudaku ada dalam tangan-Mu.”
“Tuhan, arahkan hidupku sesuai kehendak-Mu.”
“Tuhan, pakailah aku dalam karya-Mu.”

Dan seperti Asaf, kita boleh mengaku:
“Siapakah yang kumiliki di surga kecuali Engkau?”
Karena hanya Tuhan yang sanggup memberi makna, tujuan, dan pengharapan sejati dalam hidup kita.

Masaku muda dalam tangan Tuhan. Hidupku dalam rencana Tuhan. Masa depanku dalam kasih Tuhan. Amin.

Doa : Ya Tuhan yang setia, kami bersyukur atas firman-Mu tentang masa muda yang ada dalam tangan-Mu. Ajar kami menyerahkan mimpi, rencana, dan langkah hidup kami kepada-Mu. Jauhkan kami dari iri hati dan arahkan kami pada kehendak-Mu. Pakailah masa muda kami untuk memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB