Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Selasa, 10 Maret 2026, Mazmur 77:2 Berseru KepadaNya

Alfianne Lumantow • Selasa, 10 Maret 2026 | 12:31 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab : Mazmur 77:2
Tema : BERSERU KEPADA-NYA

“Aku hendak berseru-seru dengan nyaring kepada Allah, dengan nyaring kepada Allah, supaya Ia mendengarkan aku.” (ayat 2)

Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, ayat yang kita renungkan hari ini memperlihatkan kepada kita sebuah sikap iman yang sangat kuat dan jujur. Pemazmur tidak sedang berada dalam keadaan damai dan nyaman ketika ia berkata, “Aku hendak berseru-seru dengan nyaring kepada Allah.”

Justru sebaliknya, ia sedang berada dalam kesesakan, dalam tekanan batin, dan dalam pergumulan yang berat. Ia tidak datang kepada Tuhan dengan kata-kata indah yang disusun rapi, melainkan dengan seruan yang keluar dari hati yang terluka.

Seruan ini menunjukkan bahwa pemazmur adalah seorang yang tidak berhenti berharap. Meskipun ia berada dalam penderitaan, ia tidak berhenti datang kepada Tuhan. Meskipun jawabannya belum kunjung tiba, ia tidak berhenti berseru. Inilah gambaran iman yang hidup dan teguh: iman yang tidak menyerah hanya karena keadaan tidak berubah dengan cepat.

Berseru kepada Tuhan berarti membuka hati sepenuhnya di hadapan-Nya. Pemazmur tidak menyembunyikan kesedihannya, tidak menutupi kekecewaannya, dan tidak memendam lukanya sendirian. Ia membawa semuanya kepada Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan layak menerima keluh kesahnya, dan Tuhan sanggup menanggung beban yang ia rasakan.

Sering kali kita berpikir bahwa datang kepada Tuhan harus dalam keadaan tenang dan teratur. Kita merasa harus kuat dulu baru berdoa. Kita merasa harus sabar dulu baru berbicara dengan Tuhan.

Padahal firman Tuhan hari ini menunjukkan kepada kita bahwa justru di tengah tangisan, di tengah kelelahan, dan di tengah kebingungan, kita dipanggil untuk berseru kepada-Nya.

Pemazmur berseru “dengan nyaring”. Ini bukan soal kerasnya suara, tetapi tentang kesungguhan hati. Ia tidak berdoa setengah-setengah. Ia tidak datang dengan hati yang dingin. Ia datang dengan seluruh dirinya: perasaannya, pikirannya, dan harapannya.

Seruan itu adalah ekspresi dari iman yang masih hidup, iman yang masih percaya bahwa Tuhan mendengar.

Saudara-saudari, kadang-kadang kita berhenti berdoa bukan karena tidak percaya kepada Tuhan, tetapi karena lelah menunggu. Kita sudah terlalu sering meminta hal yang sama. Kita sudah terlalu lama berharap.

Kita mulai berpikir bahwa doa kita sia-sia. Namun, pemazmur mengajarkan kepada kita bahwa ketekunan dalam berseru kepada Tuhan adalah tanda iman yang kuat, bukan tanda iman yang lemah.

Pemazmur tidak berkata, “Aku sudah berseru dan tidak dijawab, maka aku berhenti.” Sebaliknya, ia berkata, “Aku hendak berseru-seru dengan nyaring kepada Allah.” Artinya, ia terus melakukannya. Ia menjadikan doa sebagai napas hidupnya. Ia menjadikan seruan kepada Tuhan sebagai pegangan di tengah badai.

Tuhan Allah tidak pernah jauh dari seruan anak-anak-Nya. Dalam kesesakan yang dialami umat-Nya, Ia mendengarkan. Dalam keputusasaan, Ia hadir. Mungkin Tuhan tidak selalu menjawab sesuai waktu dan cara yang kita inginkan, tetapi firman Tuhan menegaskan bahwa Tuhan tidak menutup telinga terhadap seruan orang percaya.

Berseru kepada Tuhan bukan sekadar meminta pertolongan. Berseru kepada Tuhan juga berarti mengakui bahwa hanya Dia satu-satunya harapan dan sumber kekuatan. Ketika kita berseru, kita sedang berkata: “Aku tidak sanggup sendiri. Aku membutuhkan Engkau.” Ini adalah sikap rendah hati yang sangat berharga di hadapan Tuhan.

Sering kali manusia ingin mengandalkan kekuatannya sendiri. Kita mencoba menyelesaikan masalah dengan pikiran kita, tenaga kita, dan kemampuan kita. Baru ketika semuanya terasa buntu, kita datang kepada Tuhan. Padahal, firman hari ini mengajak kita untuk menjadikan Tuhan sebagai tempat pertama kita berseru, bukan tempat terakhir.

Pemazmur berseru bukan karena ia sudah putus asa sepenuhnya, tetapi karena ia masih memiliki harapan. Orang yang tidak berharap tidak akan berseru. Orang yang tidak percaya tidak akan berdoa. Seruan adalah tanda bahwa iman masih menyala, meskipun kecil. Seruan adalah bukti bahwa hati masih terarah kepada Tuhan, meskipun sedang terluka.

Saudara-saudari yang terkasih, di dalam hidup ini kita pasti mengalami keadaan yang menyesakkan. Ada masa ketika kita merasa sendirian. Ada masa ketika kita merasa tidak dipahami.

Ada masa ketika kita merasa lemah dan tidak berdaya. Dalam keadaan seperti itu, firman Tuhan berkata: berserulah kepada-Nya.

Jangan menahan air mata sendiri. Jangan memendam beban seorang diri. Tuhan rindu mendengarkan setiap seruan kita. Ia bukan Tuhan yang jauh dan dingin. Ia adalah Bapa yang peduli kepada anak-anak-Nya. Ia tidak menutup telinga terhadap jeritan umat-Nya.

Belajar dari pemazmur, kita akan mendapati bahwa di balik seruan kepada Tuhan, selalu ada ruang bagi penghiburan dan kekuatan baru. Mungkin masalah belum langsung selesai. Mungkin keadaan belum langsung berubah. Tetapi hati kita diubahkan. Kita diberi ketenangan. Kita diberi kekuatan untuk melangkah satu hari lagi.

Sering kali jawaban Tuhan tidak datang dalam bentuk yang kita bayangkan. Kita ingin masalah langsung hilang, tetapi Tuhan memberi kita ketabahan. Kita ingin situasi langsung berubah, tetapi Tuhan memberi kita damai sejahtera. Kita ingin beban diangkat, tetapi Tuhan memberi kita kekuatan untuk memikulnya. Inilah cara Tuhan bekerja dalam hidup orang percaya.

Berseru kepada Tuhan juga mengajar kita untuk jujur tentang diri kita. Kita tidak perlu berpura-pura kuat di hadapan Tuhan. Kita tidak perlu menyembunyikan luka. Kita boleh berkata, “Tuhan, aku lelah.” Kita boleh berkata, “Tuhan, aku takut.” Kita boleh berkata, “Tuhan, aku tidak mengerti.” Semua itu adalah doa, jika disampaikan dengan iman.

Pemazmur menunjukkan bahwa iman bukan berarti tidak pernah menangis. Iman bukan berarti tidak pernah mengeluh. Iman berarti tetap datang kepada Tuhan di tengah tangisan dan keluhan itu. Iman berarti tetap mengarahkan hati kepada Tuhan, bukan menjauh dari-Nya.

Saudara-saudari, seruan kepada Tuhan juga menolong kita untuk tidak terjebak dalam keputusasaan. Ketika kita berhenti berseru, kita mulai menutup diri. Ketika kita berhenti berdoa, kita mulai memikul beban sendiri.

Ketika kita berhenti datang kepada Tuhan, kita mulai kehilangan arah. Tetapi ketika kita berseru, kita membuka pintu bagi pertolongan Tuhan bekerja dalam hidup kita.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak tuli. Ia mendengar. Ia peduli. Ia bekerja. Meskipun kita tidak selalu melihat hasilnya dengan segera, tetapi iman percaya bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan seruan umat-Nya.

Oleh karena itu, di saat keadaan yang menyesakkan meliputi kita dan membuat hati penuh kesedihan dan kepedihan, janganlah ragu untuk datang kepada-Nya dengan tulus dan sepenuh hati.

Jangan menunggu sampai kita kuat baru berdoa. Datanglah justru saat kita lemah. Jangan menunggu sampai kita tenang baru berseru. Datanglah justru saat kita gelisah.

Tuhan rindu mendengarkan setiap seruan kita. Ia tidak menilai indahnya kata-kata kita, tetapi ketulusan hati kita. Ia tidak menimbang panjangnya doa kita, tetapi kesungguhan iman kita.

Belajar dari pemazmur, kita percaya bahwa di balik setiap seruan, Tuhan menyediakan jawaban. Di balik setiap tangisan, Tuhan menyediakan penghiburan. Di balik setiap kelelahan, Tuhan menyediakan kekuatan baru. Dan di balik setiap doa, Tuhan menyediakan damai sejahtera yang melampaui pengertian manusia.

Saudara-saudari yang terkasih, pada malam hari ini, ketika kita akan beristirahat, firman Tuhan mengajak kita untuk kembali berseru kepada-Nya. Serahkanlah seluruh beban pergumulan kita kepada Tuhan. Jangan simpan dalam hati. Jangan pikul sendiri. Letakkan di hadapan Tuhan.

Serahkan rasa takutmu kepada Tuhan. Serahkan kekecewaanmu kepada Tuhan. Serahkan sakit hatimu kepada Tuhan. Serahkan masa depanmu kepada Tuhan.

Sebab Ia mendengar. Ia peduli. Ia mengasihi. Dan Ia akan memberikan kekuatan serta damai sejahtera bagi kita.

Kiranya firman Tuhan hari ini meneguhkan kita bahwa berseru kepada Tuhan bukan tanda kelemahan, melainkan tanda iman. Berseru kepada Tuhan bukan tanda putus asa, melainkan tanda pengharapan. Berseru kepada Tuhan adalah jalan menuju penghiburan dan pemulihan.

Mari kita belajar untuk tidak berhenti datang kepada Tuhan. Jangan menyerah dalam doa. Jangan lelah berseru. Sebab Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang hidup dan mendengar.

Berserulah kepada-Nya dalam kesesakan. Berserulah kepada-Nya dalam luka. Berserulah kepada-Nya dalam kelelahan. Sebab Ia setia mendengarkan umat-Nya. Amin.

Doa : Ya Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Ajarlah kami untuk selalu berseru kepada-Mu dalam setiap keadaan hidup kami. Saat kami lemah dan terluka, dengarkanlah seruan kami dan berikan kekuatan baru. Penuhi hati kami dengan damai sejahtera-Mu dan tuntun langkah kami dalam kebenaran-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB