Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Minggu 15 Maret 2026, Bacaan I 1 Samuel 16:1b,6-7,10-13a, Bacaan II Efesus 5:8-14, Bacaan Injil 9:1-41

Fandy Gerungan • Kamis, 12 Maret 2026 | 10:29 WIB

Photo
Photo

Hari Minggu Prapaskah IV (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I 1 Samuel 16:1b,6-7,10-13a

Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku."

Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya."

Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN."

Lalu Samuel berkata kepada Isai: "Inikah anakmu semuanya?" Jawabnya: "Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba." Kata Samuel kepada Isai: "Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari."

Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia."

Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 23:1-3a,3b-4,5,6

Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;

Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Bacaan II Efesus 5:8-14

Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,

karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,

dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.

Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.

Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan.

Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.

Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu."

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Yohanes 9:1,6-9,13-17,34-39

Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya.

Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi

dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.

Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: "Bukankah dia ini, yang selalu mengemis?"

Ada yang berkata: "Benar, dialah ini." Ada pula yang berkata: "Bukan, tetapi ia serupa dengan dia." Orang itu sendiri berkata: "Benar, akulah itu."

Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi.

Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat.

Karena itu orang-orang Farisipun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya: "Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat."

Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Sebagian pula berkata: "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?" Maka timbullah pertentangan di antara mereka.

Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: "Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?" Jawabnya: "Ia adalah seorang nabi."

Jawab mereka: "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?" Lalu mereka mengusir dia ke luar.

Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?"

Jawabnya: "Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya."

Kata Yesus kepadanya: "Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!"

Katanya: "Aku percaya, Tuhan!" Lalu ia sujud menyembah-Nya.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara-saudari terkasih, sering kali dalam hidup kita terbiasa menilai sesuatu dari apa yang tampak di luar. Kita menilai orang dari wajahnya, penampilannya, kedudukannya, atau kemampuannya yang terlihat.

Tidak jarang kita juga menilai diri sendiri dengan ukuran yang sama. Jika merasa tidak cukup hebat, tidak cukup berbakat, atau tidak menonjol, kita mulai berpikir bahwa kita tidak berarti.

Namun kisah dalam bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa cara pandang Tuhan sangat berbeda dengan cara pandang manusia.

Ketika seorang nabi diminta memilih seorang raja dari antara anak-anak seorang ayah di Betlehem, ia sempat mengira bahwa anak yang tampak kuat dan gagah pasti adalah pilihan yang tepat.

Tetapi ternyata bukan itu yang Tuhan cari. Satu per satu anak-anak yang tampak hebat lewat di hadapannya, namun tidak satu pun dipilih.

Akhirnya dipanggillah anak yang paling muda, yang bahkan sebelumnya tidak dianggap penting karena sedang menggembalakan ternak di padang. Dialah yang justru dipilih dan diurapi.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Tuhan melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh manusia: hati yang tulus.

Sering kali Tuhan bekerja melalui orang-orang yang dianggap kecil, sederhana, atau bahkan diabaikan oleh dunia. Tuhan melihat ketulusan, kerendahan hati, dan kesiapan seseorang untuk melakukan kehendak-Nya.

Pesan ini juga berkaitan dengan bacaan tentang hidup sebagai anak-anak terang. Kita diingatkan bahwa hidup bersama Tuhan berarti meninggalkan cara hidup lama yang dipenuhi kegelapan: kepalsuan, ketidakjujuran, atau sikap egois.

Hidup sebagai anak terang berarti memancarkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran dalam tindakan sehari-hari.

Terang itu bukan sekadar sesuatu yang kita bicarakan, tetapi sesuatu yang kita hidupi.

Injil hari ini memberi gambaran yang sangat kuat tentang perbedaan antara terang dan kegelapan. Ada seorang yang sejak lahir tidak dapat melihat. Secara fisik ia hidup dalam kegelapan. Namun setelah mengalami perjumpaan dengan Yesus, ia mendapatkan penglihatan.

Menariknya, orang yang tadinya buta justru semakin mengenal siapa Yesus sebenarnya. Sebaliknya, mereka yang merasa paling tahu dan paling benar malah menolak kebenaran itu. Mereka memiliki mata yang sehat, tetapi hati mereka tertutup.

Kisah ini mengajarkan bahwa kebutaan yang paling berbahaya bukanlah kebutaan mata, melainkan kebutaan hati.

Ada orang yang sederhana, tetapi hatinya terbuka pada Tuhan sehingga mampu melihat kebenaran. Ada pula orang yang terlihat religius atau pintar, tetapi hatinya tertutup oleh kesombongan sehingga tidak mampu melihat karya Tuhan.

Masa hidup kita juga sering seperti itu. Kadang kita merasa sudah tahu banyak, merasa sudah benar, dan akhirnya sulit menerima kebenaran yang Tuhan tunjukkan.

Tanpa kita sadari, kita bisa menjadi seperti orang yang merasa melihat, tetapi sebenarnya masih berada dalam kegelapan.

Sebaliknya, orang yang rendah hati, yang mau belajar, yang berani mengakui keterbatasannya, justru lebih mudah menerima terang Tuhan.

Karena itu bacaan hari ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri:
Apakah hati kita terbuka bagi Tuhan?.
Apakah kita menilai orang lain hanya dari penampilan luar?.
Ataukah kita belajar melihat dengan hati seperti Tuhan melihat?.

Tuhan tidak mencari manusia yang paling sempurna di mata dunia. Tuhan mencari hati yang bersedia dibentuk, hati yang mau percaya, dan hati yang mau berjalan dalam terang.

Jika kita mau membuka hati kepada-Nya, Tuhan dapat memakai hidup kita untuk menjadi terang bagi orang lain. Bahkan dari hidup yang sederhana sekalipun, Tuhan dapat melakukan hal-hal besar.

Semoga kita tidak hanya memiliki mata yang dapat melihat dunia, tetapi juga hati yang mampu melihat karya Tuhan dalam hidup kita. (*)




Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan