Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Senin 16 Maret 2026, Bacaan I Yesaya 65:17-21, Bacaan Injil Yohanes 4:43-54

Fandy Gerungan • Jumat, 13 Maret 2026 | 15:21 WIB

Photo
Photo

Pekan Prapaskah IV (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Yesaya 65:17-21

"Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati.

Tetapi bergiranglah dan bersorak-sorak untuk selama-lamanya atas apa yang Kuciptakan, sebab sesungguhnya, Aku menciptakan Yerusalem penuh sorak-sorak dan penduduknya penuh kegirangan.

Aku akan bersorak-sorak karena Yerusalem, dan bergirang karena umat-Ku; di dalamnya tidak akan kedengaran lagi bunyi tangisan dan bunyi erangpun tidak.

Di situ tidak akan ada lagi bayi yang hanya hidup beberapa hari atau orang tua yang tidak mencapai umur suntuk, sebab siapa yang mati pada umur seratus tahun masih akan dianggap muda, dan siapa yang tidak mencapai umur seratus tahun akan dianggap kena kutuk.

Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya juga; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya juga.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 30:2,4,5-6,11-12a,13b

TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku.

Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus!

Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.

Dalam kesenanganku aku berkata: "Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!"

Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita,

supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.

Bacaan Injil Yohanes 4:43-54

Dan setelah dua hari itu Yesus berangkat dari sana ke Galilea,

sebab Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri.

Maka setelah ia tiba di Galilea, orang-orang Galileapun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiripun turut ke pesta itu.

Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit.

Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati.

Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya."

Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati."

Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.

Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup.

Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: "Kemarin siang pukul satu demamnya hilang."

Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: "Anakmu hidup." Lalu iapun percaya, ia dan seluruh keluarganya.

Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara-saudari terkasih, dalam hidup ini, tidak jarang kita merasa dunia dipenuhi oleh kesedihan, kekecewaan, dan ketidakpastian. Ada masa ketika kita melihat begitu banyak hal yang rusak.

Hubungan yang hancur, kesehatan yang menurun, mimpi yang tidak terwujud. Namun bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak pernah berhenti bekerja untuk membawa pembaruan.

Dalam nubuat nabi Yesaya, digambarkan sebuah masa ketika Tuhan memperbarui segalanya. Dunia yang penuh luka akan digantikan oleh kehidupan yang dipenuhi sukacita. Tangisan akan digantikan dengan kegembiraan, dan manusia dapat menikmati hasil dari kerja keras mereka.

Gambaran ini menunjukkan bahwa rencana Tuhan selalu mengarah pada pemulihan, bukan kehancuran. Tuhan tidak menciptakan manusia untuk hidup dalam keputusasaan, melainkan untuk mengalami sukacita bersama-Nya.

Harapan itu juga terlihat dalam kisah Injil. Ada seorang ayah yang sedang menghadapi ketakutan terbesar dalam hidupnya: anaknya sakit keras dan hampir meninggal. Dalam keputusasaan, ia datang mencari Yesus.

Ia tidak memiliki banyak pilihan selain berharap. Yang menarik, Yesus tidak langsung datang ke rumahnya. Ia hanya memberikan sebuah perkataan yang sederhana namun penuh kuasa.

Di titik itu, ayah tersebut dihadapkan pada sebuah keputusan: apakah ia akan percaya, atau tetap diliputi keraguan?. Ia memilih untuk percaya. Ia pulang dengan membawa iman di dalam hatinya.

Dan ketika ia dalam perjalanan, kabar baik datang bahwa anaknya telah sembuh tepat pada saat Yesus mengatakan bahwa anak itu akan hidup.

Kisah ini mengajarkan sesuatu yang sangat penting. Iman sering kali bukan tentang melihat dulu baru percaya. Iman justru sering dimulai ketika kita belum melihat apa-apa, tetapi kita mempercayai Tuhan sepenuhnya.

Banyak dari kita mungkin seperti ayah itu. Kita datang kepada Tuhan membawa masalah: keluarga, kesehatan, pekerjaan, atau masa depan. Kita ingin Tuhan segera bertindak sesuai dengan cara yang kita harapkan.

Namun terkadang Tuhan bekerja dengan cara yang berbeda. Ia meminta kita untuk percaya terlebih dahulu, bahkan ketika hasilnya belum terlihat.

Ketika kita berani percaya, kita sedang membuka hati bagi karya Tuhan yang lebih besar. Dan sering kali, seperti dalam kisah Injil itu, kita baru menyadari bahwa Tuhan sudah bekerja sejak awal.

Bacaan hari ini mengajak kita untuk hidup dalam dua sikap sekaligus: harapan dan iman. Harapan bahwa Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik bagi hidup kita, dan iman untuk percaya kepada-Nya bahkan ketika jalan di depan belum jelas.

Jika hari ini Anda sedang menghadapi kesulitan, ingatlah bahwa Tuhan adalah Allah yang memperbarui kehidupan. Ia mampu mengubah tangisan menjadi sukacita. Ia juga mendengar doa-doa yang dipanjatkan dengan hati yang percaya.

Semoga kita memiliki hati yang seperti ayah dalam Injil tadi: berani datang kepada Tuhan, berani percaya pada sabda-Nya, dan berani melangkah pulang dengan iman. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan