Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Cerita Alkitab, Kisah Yunus, Nabi Yang Lari Dari Pangilan Tuhan

Deiby Rotinsulu • Jumat, 13 Maret 2026 | 15:22 WIB

Ilustrasi Kisah Yunus (SS YTB)
Ilustrasi Kisah Yunus (SS YTB)

MANADOPOST.ID - Di pelabuhan Yavo, seorang pria berkerudung berdiri dengan gelisah di antara para pelaut dan pedagang.

Tangannya bergetar saat menyerahkan uang perak kepada petugas kapal. Ia terus menoleh ke belakang seakan ada sesuatu yang mengejarnya.

Namun yang mengejarnya bukanlah manusia, bukan pula tentara. Yang mengejarnya adalah panggilan Tuhan.

Pria itu adalah Yunus bin Amit, seorang nabi Allah. Ia sedang berusaha melakukan sesuatu yang mustahil: melarikan diri dari Tuhan.

Ia percaya bahwa jika ia pergi cukup jauh, ia bisa menghindari tugas yang diberikan kepadanya. Betapa kelirunya pemikiran itu. Tetapi ketakutan dan kebencian telah membuat akalnya tertutup.

Inilah kisah tentang bagaimana Tuhan tidak pernah melepaskan orang yang telah Ia panggil, betapapun keras usaha mereka untuk melarikan diri.

Beberapa hari sebelumnya Yunus masih berada di rumahnya di Gat-Hefer, sebuah kota kecil di Galilea. Ia dikenal sebagai nabi Tuhan di Israel.

Pada masa pemerintahan Raja Yerobeam II, nubuatnya mengenai perluasan wilayah Israel terbukti benar. Ia dihormati, kehidupannya nyaman, dan pelayanannya kepada bangsanya sendiri membuatnya merasa cukup.

Namun suatu pagi, ketenangan hidupnya berubah. Sebuah suara berbicara kepadanya, bukan melalui telinga, tetapi langsung di dalam jiwanya.

Suara itu adalah suara yang sama yang dahulu memanggil Abraham, Musa, dan Elia.

Dalam Yunus 1 ayat 1 sampai dengan 2, firman Tuhan datang kepadanya,
"Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu.

Berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepadaku."

Nama Niniwe membuat Yunus terdiam.

Niniwe adalah ibu kota Asyur, musuh terbesar Israel. Kota itu terkenal karena kekejaman dan penindasannya. Tentara Asyur dikenal brutal.

Mereka menguliti musuh hidup-hidup, memancangkan kepala di tiang, dan menghancurkan kota-kota tanpa belas kasihan.

Dan sekarang Tuhan menyuruh Yunus pergi ke sana untuk memperingatkan mereka agar bertobat.

Pikiran Yunus menolak perintah itu. Mengapa Tuhan ingin menyelamatkan musuh Israel? Bukankah lebih adil jika mereka dihancurkan?

Lebih dari itu, Yunus mengenal karakter Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan penuh belas kasihan. Jika penduduk Niniwe bertobat, Tuhan pasti akan mengampuni mereka.

Dan itulah yang tidak bisa diterima oleh Yunus.

Akhirnya ia membuat keputusan: ia tidak akan pergi ke Niniwe.

Jika Tuhan memanggilnya ke timur, ia akan pergi ke barat. Jika Tuhan menyuruhnya menyelamatkan, ia memilih untuk pergi sejauh mungkin.

Diam-diam ia meninggalkan rumahnya dan menuju Yavo, pelabuhan di Laut Tengah. Tujuannya adalah Tarsis, tempat yang sangat jauh, mungkin di wilayah Spanyol modern.

Ia ingin pergi sejauh mungkin dari panggilan Tuhan.

Ketika sampai di pelabuhan, kebetulan ada kapal yang akan berlayar ke Tarsis. Yunus menganggap itu sebagai tanda bahwa keputusannya benar.

Ia membayar ongkos perjalanan dan naik ke kapal.

Dalam Yunus 1 ayat 3 tertulis bahwa dia membayar biayanya lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis. Jauh dari hadapan Tuhan.

Jauh dari hadapan Tuhan.

Namun tidak ada tempat yang benar-benar jauh dari Tuhan.

Kapal berangkat saat matahari terbit. Angin bertiup baik dan layar mengembang penuh.

Para pelaut dari berbagai bangsa bekerja sambil bernyanyi. Laut tampak tenang.

Yunus turun ke bagian bawah kapal dan akhirnya merasa lega. Ia berpikir dirinya telah berhasil melarikan diri. Tidak ada tanda murka Tuhan.

Ia berbaring di antara barang-barang dagangan dan segera tertidur lelap.

Namun di atas dek, sesuatu mulai berubah.

Awan gelap muncul di langit. Angin yang tadinya lembut berubah menjadi dingin dan tajam. Burung-burung laut menghilang.

Kemudian badai datang dengan tiba-tiba.

Dalam Yunus 1 ayat 4 kita membaca,
"Tetapi Tuhan menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur."

Gelombang menghantam kapal dengan kekuatan yang mengerikan. Para pelaut yang berpengalaman pun menjadi panik. Mereka berteriak dan berdoa kepada dewa masing-masing.

Ada yang berseru kepada Baal, ada yang memohon kepada Poseidon, dan yang lain kepada dewa laut mereka.

Muatan kapal mulai dibuang ke laut agar kapal lebih ringan.

Namun badai semakin dahsyat.

Di tengah kekacauan itu, nahkoda teringat pada seorang penumpang yang belum terlihat sejak kapal berangkat. Ia turun ke ruang bawah kapal.

Di sana ia menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Yunus tertidur pulas.

Dengan marah ia mengguncang Yunus dan berkata, "Bagaimana mungkin engkau tidur nyenyak? Bangunlah.

Berserulah kepada Allahmu. Barangkali Allah itu akan mengindahkan kita sehingga kita tidak binasa."

Yunus bangun dengan linglung. Ia segera sadar bahwa badai ini bukan kebetulan.

Ini adalah Tuhan yang mengejarnya.

Baca Juga: Cerita Alkitab,Kisah Hancurnya Kota Sodom dan Gomora, Kisah Penghakiman Tuhan

Sementara itu para pelaut memutuskan membuang undi untuk mengetahui siapa penyebab bencana itu.

Dalam Yunus 1 ayat 7 tertulis,
Lalu mereka membuang undi dan Yunus kena undi.

Semua mata tertuju kepada Yunus.

Mereka bertanya dengan penuh ketakutan, siapa dia dan mengapa bencana ini terjadi.

Akhirnya Yunus berkata,
"Aku seorang Ibrani. Aku takut akan Tuhan Allah yang empunya langit yang telah menjadikan lautan dan daratan."

Para pelaut semakin ketakutan. Mereka menyadari bahwa badai ini datang dari Tuhan yang menciptakan laut.

Yunus pun mengakui bahwa ia sedang melarikan diri dari Tuhan.

Para pelaut bingung. Mereka tidak ingin membunuh Yunus, tetapi badai semakin mengancam.

Akhirnya Yunus berkata kepada mereka,

"Angkatlah aku," katanya dengan suara yang anehnya tenang. Lemparkan aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi.

Sebab aku tahu bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu.

Para pelaut mencoba mendayung kembali ke darat, tetapi badai semakin ganas.

Akhirnya mereka berdoa kepada Tuhan Israel.

Dalam Yunus 1 ayat 14 mereka berkata,
"Ya Tuhan, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini. Dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah. Sebab Engkau Tuhan telah berbuat seperti yang Kau kehendaki."

Dengan berat hati mereka melemparkan Yunus ke laut.

Begitu Yunus jatuh ke dalam air, badai berhenti seketika.

Laut yang tadinya mengamuk tiba-tiba menjadi tenang.

Para pelaut diliputi rasa takut kepada Tuhan.

Dalam Yunus 1 ayat 16 tertulis,
orang-orang itu menjadi sangat takut kepada Tuhan lalu mempersembahkan korban sembelihan bagi Tuhan serta mengikrarkan Nazar.

Sementara itu Yunus tenggelam ke dalam laut yang gelap.

Namun Tuhan belum selesai dengannya.

Dalam Yunus 1 ayat 17 tertulis,
"Maka atas penentuan Tuhan, datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus. Dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu 3 hari 3 malam lamanya."

Di dalam perut ikan, Yunus berada dalam kegelapan total.

Di sana akhirnya ia berdoa.

Dalam kesusahanku, aku berseru kepada Tuhan dan Ia menjawab aku.

Dari perut aku berteriak minta tolong dan engkau mendengarkan suaraku.

Ia menyadari kesalahannya dan berkata,

Tetapi Engkau mengangkat nyawaku dari liang kubur, ya Tuhan Allahku.

Kemudian ia mengakui kebenaran yang penting,

Mereka yang berpegang pada berhala kesia-siaan melalaikan kasih setia. Tetapi aku akan mempersembahkan korban kepadamu dengan nyanyian syukur. Apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari Tuhan.

Setelah tiga hari, ikan itu memuntahkan Yunus ke darat.

Ia selamat.

Kemudian firman Tuhan datang lagi kepadanya.

Dalam Yunus 3 ayat 1 sampai dengan 2 tertulis.
Kemudian datanglah firman Tuhan kepada Yunus untuk kedua kalinya.

Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang kufirmankan kepadamu.

Kali ini Yunus taat.

Ia pergi ke Niniwe dan memberitakan pesan Tuhan,

40 hari lagi maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.

Hal yang luar biasa terjadi.

Dalam Yunus 3 ayat 5 tertulis,
orang-orang Niniwe percaya kepada Allah. Lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka baik orang dewasa maupun anak-anak mengenakan kain kabung.

Bahkan raja Niniwe mengeluarkan perintah.

"Manusia dan ternak, lembu sapi, dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya manusia dan ternak berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu mungkin Allah akan berbalik dari murkan yang bernyala-nyala itu sehingga kita tidak."

Dan Tuhan melihat pertobatan mereka.

Dalam Yunus 3 ayat 10 tertulis, ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesalah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkannya terhadap mereka dan ia pun tidak melakukannya.

Namun Yunus justru marah.

Dalam Yunus 4 ayat 1 sampai dengan 3 ia berkata,

"Ya Tuhan, bukankah telah kukatakan itu ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya aku dahulu melarikan diri ke Tarsis. Sebab aku tahu bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkannya. Jadi sekarang ya Tuhan, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati daripada hidup."

Tuhan menjawab dengan pertanyaan,

"Layakkah engkau marah?"

Akhirnya Tuhan mengajarkan pelajaran melalui pohon jarak.

Dan Tuhan berkata kepada Yunus,

"Engkau sayang kepada pohon jarak itu yang untuknya sedikit pun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan. yang dalam satu malam tumbuh dan dalam satu malam binasa. Bagaimana tidak aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu yang berpenduduk lebih dari 120.000 orang yang semuanya tidak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri dengan ternaknya yang banyak."

Kisah Yunus mengajarkan kita sesuatu yang penting.

Kita mungkin mencoba melarikan diri dari panggilan Tuhan seperti Yunus. Tetapi Tuhan tidak pernah berhenti mencari orang yang Ia panggil.

Ia mengejar Yunus dengan badai, menyelamatkannya dengan ikan, dan mengajarnya dengan pohon jarak.

Pada akhirnya Yunus mengakui satu kebenaran besar: keselamatan adalah dari Tuhan. (YTB)

Editor : Deiby Rotinsulu
#cerita alkitab #Yunus Di perut Ikan #Kisah Yunus