Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Pemuda, GPIB, Kamis, 19 Maret 2026, Matius 5:17-20 Sikap Kasih Yang Benar Memuji Orang Lain Dengan Tulus

Alfianne Lumantow • Selasa, 17 Maret 2026 | 14:54 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Matius 5:17–20
Tema: “SIKAP KASIH YANG BENAR: MEMUJI ORANG LAIN DENGAN TULUS”

“Jika hidupmu tidak lebih benar daripada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk dalam Kerajaan Surga.” (ayat 20)

Sobat muda yang dikasihi Tuhan, ketika kita membaca bagian firman Tuhan ini, mungkin muncul satu pertanyaan penting: siapakah sebenarnya musuh Yesus? Dalam banyak bagian Injil, kita sering membaca tentang konflik antara Yesus dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Mereka sering digambarkan sebagai pihak yang menentang Yesus, bahkan mencari cara untuk menjatuhkan-Nya. Karena itu, banyak orang beranggapan bahwa Yesus memusuhi mereka.

Namun jika kita membaca firman Tuhan dengan lebih teliti, kita akan menemukan sesuatu yang menarik. Dalam bagian Injil hari ini, Yesus justru menampilkan sikap yang berbeda. Ia tidak hanya mengkritik, tetapi juga mengakui hal yang baik dari orang-orang Farisi dan ahli Taurat.

Bahkan secara tidak langsung Yesus memuji kesungguhan mereka dalam menjalankan hukum Taurat. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus tidak melihat orang hanya dari sisi kekurangannya, tetapi juga dari sisi kebaikannya.

Inilah pelajaran penting bagi kita semua, khususnya bagi para pemuda. Kasih yang benar tidak hanya terlihat ketika kita mencintai teman yang baik kepada kita, tetapi juga ketika kita mampu menghargai kebaikan orang lain, bahkan dari orang yang mungkin berbeda dengan kita.

Sobat muda, dalam Matius 5:17 Yesus berkata bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya. Artinya, hukum Taurat yang diberikan Allah kepada umat Israel adalah sesuatu yang baik. Hukum itu mengajarkan manusia bagaimana hidup benar di hadapan Allah dan juga di hadapan sesama.

Orang-orang Farisi dan ahli Taurat dikenal sebagai kelompok yang sangat taat terhadap hukum Taurat. Mereka mempelajari hukum itu dengan serius, mengajarkannya kepada masyarakat, dan berusaha menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal kesungguhan memegang hukum Taurat, mereka memang patut dihargai.

Namun Yesus kemudian mengatakan bahwa kebenaran para pengikut-Nya harus lebih daripada mereka. Bukan berarti Yesus merendahkan mereka, tetapi Yesus mengajak para murid untuk memiliki kebenaran yang lebih dalam. Kebenaran itu bukan hanya soal aturan yang terlihat di luar, tetapi juga sikap hati yang penuh kasih.

Di sinilah kita melihat sesuatu yang luar biasa dari sikap Yesus. Walaupun Ia sering berdebat dengan orang-orang Farisi, Yesus tetap mampu mengakui hal yang baik dari mereka. Ia tidak menutup mata terhadap kebaikan mereka. Ia tidak dikuasai oleh kebencian atau iri hati. Sebaliknya, Ia tetap memberikan penghargaan atas kesetiaan mereka dalam memegang hukum Taurat.

Sobat muda, sikap seperti inilah yang sering kali sulit kita lakukan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa iri ketika melihat orang lain berhasil. Ketika teman kita mendapat pujian, ketika seseorang dipercaya memimpin pelayanan, atau ketika ada teman yang lebih berprestasi dari kita, kadang hati kita menjadi tidak nyaman.

Perasaan iri ini bisa muncul dalam banyak bentuk. Ada yang mulai menjaga jarak dengan orang tersebut. Ada yang mulai berbicara buruk di belakangnya. Ada juga yang menjadi malas datang ke persekutuan atau pelayanan karena merasa tersaingi.

Padahal, jika kita jujur kepada diri sendiri, sikap seperti ini tidak mencerminkan kasih yang diajarkan oleh Tuhan. Kasih yang sejati tidak dipenuhi oleh iri hati. Kasih yang sejati justru mampu bersukacita melihat keberhasilan orang lain.

Yesus memberi teladan yang luar biasa dalam hal ini. Walaupun orang-orang Farisi sering menentang-Nya, Yesus tidak membalas dengan kebencian. Ia tetap melihat sisi baik dari mereka dan mengakuinya. Ia bahkan menggunakan contoh mereka untuk mengajar para murid tentang kesungguhan dalam hidup beriman.

Inilah yang disebut sebagai kasih yang tulus. Kasih yang tulus tidak hanya mengasihi orang yang dekat dengan kita. Kasih yang tulus juga mampu menghargai kebaikan orang lain, bahkan ketika orang itu berbeda dengan kita.

Sobat muda, dunia kita saat ini sering dipenuhi dengan persaingan. Di sekolah, di kampus, di tempat kerja, bahkan di dalam pelayanan gereja, kadang kita merasa harus lebih baik dari orang lain. Tanpa kita sadari, semangat persaingan itu bisa membuat hati kita menjadi keras dan penuh iri.

Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa hidup sebagai pengikut Kristus berarti hidup dalam kasih yang benar. Kasih yang benar tidak membandingkan diri dengan orang lain secara negatif. Kasih yang benar justru mampu memberi dukungan dan penghargaan kepada sesama.

Bayangkan jika dalam sebuah persekutuan pemuda setiap orang saling mendukung. Ketika seseorang berhasil memimpin pujian dengan baik, kita memberi apresiasi. Ketika ada teman yang rajin melayani, kita memberi semangat. Ketika ada yang berhasil melakukan sesuatu dengan baik, kita bersyukur bersama.

Suasana seperti ini akan membuat persekutuan menjadi penuh sukacita. Tidak ada iri hati, tidak ada persaingan yang merusak hubungan. Yang ada adalah kasih, dukungan, dan semangat untuk bertumbuh bersama.

Sebaliknya, jika hati kita dipenuhi iri hati, maka persekutuan akan menjadi dingin. Kita mulai menjauh dari orang lain. Kita sulit bersukacita bersama. Bahkan kita bisa kehilangan semangat untuk melayani Tuhan.

Karena itu, firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk memeriksa hati kita. Apakah kita masih menyimpan iri hati terhadap keberhasilan orang lain? Apakah kita sulit memuji orang lain dengan tulus? Apakah kita lebih suka mengkritik daripada menghargai?

Jika jawabannya ya, maka inilah saatnya kita belajar dari Yesus. Yesus mengajarkan bahwa kebenaran sejati bukan hanya tentang melakukan aturan, tetapi juga tentang memiliki hati yang penuh kasih.

Dalam Matius 22:37–40 Yesus merangkum seluruh hukum Taurat dalam dua perintah utama: mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Inilah inti dari seluruh hukum Allah.

Ketika kita benar-benar mengasihi sesama, maka kita tidak akan merasa terancam oleh keberhasilan mereka. Sebaliknya, kita akan bersukacita bersama mereka. Kita akan mampu berkata dengan tulus, “Selamat, kamu melakukan dengan sangat baik.”

Sobat muda, memuji orang lain dengan tulus sebenarnya adalah tanda kedewasaan rohani. Orang yang dewasa secara rohani tidak merasa kecil ketika orang lain berhasil. Ia justru bersukacita karena melihat karya Tuhan dalam hidup sesamanya.

Memuji orang lain juga adalah cara sederhana untuk menunjukkan kasih. Sebuah kalimat pujian yang tulus bisa memberi semangat besar bagi seseorang. Kadang seseorang tetap setia melayani karena ia merasa dihargai.

Sebaliknya, ketika tidak ada penghargaan, seseorang bisa merasa lelah dan tidak dihargai. Karena itu, jangan pelit memberi pujian kepada sesama. Jika temanmu melakukan sesuatu dengan baik, katakanlah dengan tulus.

Namun tentu saja pujian yang kita berikan harus berasal dari hati yang tulus, bukan dari kepura-puraan. Pujian yang tulus lahir dari hati yang bersih dari iri hati. Pujian yang tulus lahir dari hati yang dipenuhi kasih.

Sobat muda, mari kita belajar meneladani sikap Yesus. Ia tidak membiarkan iri hati menguasai hati-Nya. Ia tetap mampu melihat kebaikan orang lain dan mengakuinya dengan jujur.

Jika kita mempraktikkan sikap ini dalam kehidupan kita, maka hubungan kita dengan sesama akan menjadi lebih sehat. Persekutuan kita akan menjadi lebih hangat. Dan yang terpenting, hidup kita akan mencerminkan kasih Kristus.

Karena itu, mulai hari ini mari kita belajar untuk menyingkirkan iri hati dari hati kita. Belajarlah untuk menghargai orang lain. Belajarlah untuk memuji dengan tulus. Belajarlah untuk bersukacita atas keberhasilan sesama.

Ingatlah bahwa setiap orang memiliki karunia yang berbeda-beda dari Tuhan. Ketika kita saling menghargai karunia itu, maka tubuh Kristus akan bertumbuh dengan indah.

Kiranya firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa sikap kasih yang benar adalah sikap yang mampu melihat kebaikan orang lain dan menghargainya dengan tulus.

Sobat muda, singkirkanlah iri hati dari dalam hatimu. Bukalah hatimu untuk mengasihi sesama. Dan pujilah prestasi orang lain dengan tulus hati. Sebab itulah sikap hidup yang benar di hadapan Tuhan. Amin.

Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu yang telah kami dengar hari ini. Ajarlah kami memiliki hati yang tulus, bebas dari iri hati, dan mampu menghargai serta memuji sesama dengan kasih. Biarlah hidup kami memancarkan kebaikan-Mu. Pimpin langkah kami untuk selalu hidup benar di hadapan-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB