Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Kamis, 19 Maret 2026, Matius 5:21-30 Relasi

Alfianne Lumantow • Selasa, 17 Maret 2026 | 14:55 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Matius 5:21–30
Tema: RELASI

"Tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu." (ayat 24)

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, dalam kehidupan manusia relasi atau hubungan dengan sesama merupakan bagian yang sangat penting. Tidak ada manusia yang dapat hidup sendirian tanpa berhubungan dengan orang lain.

Kita hidup sebagai keluarga, tetangga, rekan kerja, sahabat, dan anggota jemaat. Dalam setiap hubungan itu terdapat berbagai perasaan: kasih, perhatian, kerja sama, tetapi juga kadang muncul konflik, kekecewaan, bahkan kemarahan.

Firman Tuhan yang kita baca hari ini mengajak kita untuk melihat kembali bagaimana seharusnya kita membangun relasi dengan sesama. Dalam bagian ini, Yesus menjelaskan makna yang lebih dalam dari hukum Allah. Ia tidak hanya berbicara tentang tindakan lahiriah, tetapi juga tentang sikap hati manusia.

Dalam hukum Taurat tertulis, “Jangan membunuh.” Hukum ini sangat jelas: membunuh adalah kejahatan besar yang patut dihukum. Tindakan itu merampas nyawa orang lain yang adalah ciptaan Allah.

Namun Yesus kemudian mengajak para pendengar-Nya untuk memahami bahwa kejahatan tidak selalu dimulai dari tindakan besar seperti pembunuhan. Kejahatan sering kali bermula dari hati manusia.

Yesus berkata bahwa orang yang marah terhadap saudaranya juga berada dalam bahaya hukuman. Bahkan orang yang menghina atau memaki sesamanya juga bersalah di hadapan Allah.

Dengan kata lain, Yesus menunjukkan bahwa dosa tidak hanya terjadi ketika seseorang melakukan kejahatan secara nyata, tetapi juga ketika hati manusia dipenuhi kebencian, kesombongan, atau kemarahan yang tidak terkendali.

Saudara-saudari, dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin jarang melihat orang melakukan pembunuhan secara fisik. Namun yang sering kita temui adalah bentuk kejahatan lain yang tidak kalah berbahayanya, yaitu pembunuhan karakter.

Pembunuhan karakter terjadi ketika seseorang merusak nama baik orang lain melalui fitnah, gosip, atau kata-kata yang merendahkan. Kadang-kadang orang mengucapkan kata-kata kasar seperti “bodoh,” “dungu,” atau kata-kata hinaan lainnya.

Mungkin bagi sebagian orang itu hanya dianggap sebagai candaan atau luapan emosi sesaat. Namun di mata Tuhan, kata-kata seperti itu memiliki dampak yang sangat serius.

Fitnah dan makian dapat merusak reputasi seseorang. Ketika seseorang difitnah atau direndahkan, orang lain mulai memandangnya secara negatif. Lama-kelamaan kepercayaan terhadap orang tersebut hilang. Ia mungkin kehilangan kesempatan dalam pekerjaan, pelayanan, bahkan dalam relasi sosialnya.

Dengan kata lain, kata-kata yang keluar dari mulut kita bisa menjadi senjata yang melukai orang lain. Luka itu mungkin tidak terlihat secara fisik, tetapi dampaknya bisa sangat dalam.

Itulah sebabnya Yesus menegaskan bahwa kemarahan yang dipelihara dan kata-kata yang merendahkan sesama adalah dosa yang serius. Hati yang dipenuhi kebencian dapat merusak relasi manusia, baik dengan sesama maupun dengan Tuhan.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Yesus kemudian memberikan pengajaran yang sangat mengejutkan. Ia berkata bahwa jika seseorang datang untuk mempersembahkan persembahan kepada Tuhan, tetapi ia teringat bahwa saudaranya memiliki sesuatu terhadap dirinya, maka ia harus meninggalkan persembahan itu dan terlebih dahulu berdamai dengan saudaranya.

Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya relasi dengan sesama di hadapan Tuhan. Ibadah yang kita lakukan tidak dapat dipisahkan dari cara kita memperlakukan orang lain. Tuhan tidak menginginkan ibadah yang indah di luar tetapi hati kita masih dipenuhi kebencian.

Bayangkan situasi yang digambarkan oleh Yesus. Pada zaman itu, orang datang ke bait Allah untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan. Perjalanan menuju bait Allah tidak selalu mudah; ada yang harus datang dari tempat yang jauh.

Namun Yesus berkata bahwa jika seseorang ingat bahwa relasinya dengan sesama belum baik, maka ia harus mendahulukan pendamaian daripada ritual ibadahnya.

Hal ini menunjukkan bahwa bagi Tuhan, hati yang berdamai lebih berharga daripada sekadar ritual keagamaan.

Sering kali manusia berpikir bahwa selama ia rajin beribadah, maka hubungannya dengan Tuhan pasti baik. Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa hubungan dengan Allah sangat berkaitan dengan hubungan kita dengan sesama.

Jika kita menyimpan kebencian, iri hati, atau dendam terhadap orang lain, maka hati kita tidak berada dalam keadaan yang benar di hadapan Tuhan. Ibadah kita bisa menjadi kosong dan kehilangan maknanya.

Saudara-saudari, mungkin dalam kehidupan kita ada relasi yang pernah terluka. Ada kata-kata yang pernah menyakiti, ada kesalahpahaman yang belum diselesaikan, atau ada konflik yang membuat hubungan menjadi renggang.

Kadang-kadang kita merasa bahwa kita adalah pihak yang benar. Kita menunggu orang lain datang meminta maaf terlebih dahulu. Namun firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk mengambil langkah pertama dalam membangun perdamaian.

Yesus tidak berkata, “Tunggulah sampai saudaramu datang berdamai denganmu.” Ia justru mengatakan, “Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu.” Artinya, kita dipanggil untuk aktif membangun perdamaian.

Memang tidak selalu mudah untuk meminta maaf atau memberi maaf. Kadang-kadang luka yang kita rasakan begitu dalam. Namun sebagai orang percaya, kita diingatkan bahwa kita sendiri telah menerima pengampunan dari Tuhan.

Tuhan mengampuni dosa kita bukan karena kita layak, tetapi karena kasih karunia-Nya yang besar. Ketika kita menyadari betapa besar pengampunan yang kita terima dari Tuhan, kita pun dipanggil untuk belajar mengampuni sesama.

Mengampuni bukan berarti kita melupakan sepenuhnya apa yang telah terjadi. Mengampuni berarti kita memilih untuk melepaskan kebencian dan tidak lagi menyimpan keinginan untuk membalas dendam.

Saudara-saudari, relasi yang sehat membutuhkan kerendahan hati. Kita perlu berani mengakui kesalahan kita sendiri. Kita juga perlu membuka hati untuk memahami perasaan orang lain.

Ketika kita membangun relasi yang penuh kasih dan pengampunan, kita sebenarnya sedang mencerminkan karakter Kristus dalam kehidupan kita.

Sebaliknya, jika kita terus memelihara kemarahan dan dendam, hati kita akan dipenuhi kepahitan. Kepahitan itu bukan hanya merusak hubungan dengan orang lain, tetapi juga mengganggu kedamaian hati kita sendiri.

Yesus ingin supaya para pengikut-Nya hidup dalam relasi yang dipenuhi damai. Ia ingin agar komunitas orang percaya menjadi tempat di mana kasih dan pengampunan nyata dirasakan.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, malam ini sebelum kita beristirahat, firman Tuhan mengajak kita untuk merenungkan kembali hubungan kita dengan sesama. Apakah ada orang yang masih kita benci? Apakah ada seseorang yang pernah kita lukai dengan kata-kata kita?

Jika ada, marilah kita datang kepada Tuhan dengan hati yang terbuka. Kita memohon pengampunan-Nya dan meminta kekuatan dari Roh Kudus untuk memperbaiki relasi tersebut.

Roh Kudus sanggup melembutkan hati yang keras. Roh Kudus juga sanggup memberikan keberanian kepada kita untuk mengambil langkah perdamaian.

Mungkin langkah itu sederhana, seperti menyapa kembali seseorang yang sudah lama kita jauhi, meminta maaf atas kesalahan kita, atau memberikan pengampunan kepada orang yang pernah menyakiti kita.

Ketika kita melakukan hal itu, kita sedang membuka pintu bagi damai sejahtera Tuhan untuk bekerja dalam hidup kita.

Saudara-saudari, relasi yang dipulihkan membawa kebahagiaan yang besar. Hati kita menjadi lebih ringan, hubungan kita dengan sesama menjadi lebih hangat, dan ibadah kita kepada Tuhan menjadi lebih bermakna.

Kiranya firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa relasi dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari relasi dengan sesama. Tuhan menghendaki agar kita hidup dalam kasih, pengampunan, dan perdamaian.

Sebelum kita beristirahat malam ini, marilah kita bertekad di hadapan Tuhan untuk memperbarui relasi kita dengan sesama. Kita memohon supaya Roh Kudus menolong kita melepaskan kebencian, kemarahan, dan keinginan untuk membalas dendam.

Sebaliknya, biarlah hati kita dipenuhi kasih, kerendahan hati, dan kerinduan untuk membangun damai.

Dengan demikian, kehidupan kita menjadi kesaksian nyata tentang kasih Tuhan yang memulihkan dan membawa damai bagi dunia. Amin.

Doa : Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Ajarlah kami memiliki hati yang lembut untuk mengampuni dan membangun relasi yang penuh damai dengan sesama. Lepaskan kami dari kemarahan dan kebencian. Pimpin kami hidup dalam kasih dan kerendahan hati, sehingga hidup kami memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB