Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Kamis 26 Maret 2026, Bacaan I Kejadian 17:3-9, Bacaan Injil Yohanes 8:51-59

Fandy Gerungan • Jumat, 20 Maret 2026 | 11:22 WIB

Photo
Photo

Pekan Prapaskah V ( Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Kejadian 17:3-9

Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya:

"Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.

Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.

Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.

Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.

Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka."

Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 105:4-5,6-7,8-9

Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!

Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Ny dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya,

hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!

Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya.

Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan,

yang diikat-Nya dengan Abraham, dan akan sumpah-Nya kepada Ishak;

Bacaan Injil Yohanes 8:51-59

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya."

Kata orang-orang Yahudi kepada-Nya: "Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.

Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?"

Jawab Yesus: "Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami,

padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya.

Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita."

Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?"

Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada."

Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i dalam hidup ini, kita sering ingin kepastian. Kita ingin tahu masa depan kita seperti apa, apakah usaha kita akan berhasil, apakah hidup kita akan berbuah. Namun, iman justru mengajak kita berjalan bukan karena melihat dengan jelas, tetapi karena percaya.

Kisah tentang Abraham mengajarkan satu hal penting: relasi dengan Tuhan dimulai dari penyerahan diri. Ia tidak memulai dengan kekuatan, tetapi dengan kerendahan hati bersujud, percaya, dan menerima kehendak Tuhan.

Bahkan, identitasnya diubah. Dari seseorang yang biasa, ia dipanggil menjadi pribadi dengan misi besar. Ini menunjukkan bahwa ketika Tuhan masuk dalam hidup seseorang, Ia tidak hanya memberi berkat, tetapi juga memberi arah dan identitas baru.

Namun, ada satu bagian penting yang sering kita lupakan: setiap janji Tuhan selalu disertai tanggapan dari manusia. Tuhan setia, tetapi manusia juga dipanggil untuk setia.

Perjanjian itu bukan sepihak. Ada komitmen, ada ketaatan, ada kesediaan untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya, bahkan ketika tidak mudah.

Lalu dalam Injil, kita melihat sesuatu yang lebih dalam lagi. Yesus berbicara tentang kehidupan yang tidak berakhir sebuah hidup yang melampaui kematian. Tetapi orang-orang di sekitar-Nya justru tidak mengerti.

Mereka terpaku pada logika manusia, pada apa yang terlihat dan terbatas. Mereka mengenal nama Tuhan, tetapi tidak sungguh mengenal hati-Nya.

Di sini kita diajak untuk bertanya, apakah kita benar-benar mengenal Tuhan, atau hanya sekadar tahu tentang Dia?.

Yesus menunjukkan bahwa hubungan dengan Tuhan bukan soal status, bukan soal tradisi, bukan juga soal siapa nenek moyang kita. Yang terpenting adalah apakah kita hidup dalam sabda-Nya. Karena sabda itulah yang memberi hidup sejati hidup yang tidak bisa dihancurkan oleh kematian sekalipun.

Sering kali kita seperti orang-orang dalam Injil: cepat menilai, cepat menolak, terutama ketika kebenaran terasa mengganggu kenyamanan kita. Padahal, bisa jadi justru di situlah Tuhan sedang berbicara.

Abraham percaya tanpa melihat hasilnya secara langsung. Ia hidup dalam janji. Sementara kita, sering ingin melihat dulu baru percaya. Kita ingin bukti, baru mau taat.

Renungan hari ini mengajak kita untuk kembali bertanya.
Apakah kita mau mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan?.
Apakah kita mau setia, bukan hanya saat segalanya mudah, tetapi juga saat terasa sulit?.

Karena pada akhirnya, hidup sejati bukan soal berapa lama kita hidup di dunia ini, tetapi apakah kita hidup dalam hubungan yang benar dengan Tuhan.

Jika kita berpegang pada sabda-Nya, maka kita tidak hanya hidup untuk hari ini, tetapi untuk kekekalan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan