Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Pemuda, GPIB, Sabtu, 21 Maret 2026, Matius 6:1-4 Welas Asih

Alfianne Lumantow • Sabtu, 21 Maret 2026 | 20:15 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab : Matius 6:1-4
TEMA : "WELAS ASIH"

Sobat muda yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat berbagai bentuk kebaikan. Ada orang yang memberi bantuan kepada sesama, ada yang menyumbang untuk orang miskin, bahkan ada yang secara rutin melakukan aksi sosial.

Namun, di tengah semua itu, muncul satu pertanyaan penting: mengapa kita melakukan kebaikan itu? Apakah karena benar-benar ingin menolong, atau karena ingin dilihat, dipuji, dan diakui oleh orang lain?

Firman Tuhan dalam Matius 6:1-4 mengajak kita untuk melihat lebih dalam. Tuhan Yesus tidak hanya berbicara tentang tindakan memberi, tetapi juga tentang motivasi di balik pemberian itu.

Ia berkata, “Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” Ini adalah ungkapan yang sangat dalam dan penuh makna.

Secara logika, tentu saja hal ini terasa tidak mungkin. Bagaimana mungkin tangan kiri tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanan? Namun, Yesus tidak sedang berbicara tentang anatomi tubuh, melainkan tentang hati manusia.

Ia ingin menegaskan bahwa dalam memberi, jangan ada unsur pamer, jangan ada keinginan untuk dilihat, bahkan jangan sampai kita sendiri membanggakan perbuatan kita.

Sobat muda, Dunia saat ini sangat mendorong kita untuk menunjukkan segala sesuatu. Di era media sosial, setiap kebaikan bisa dengan mudah dipublikasikan.

Memberi bantuan, berbagi makanan, atau melakukan aksi sosial sering kali diiringi dengan dokumentasi dan unggahan. Tidak salah berbagi inspirasi, tetapi yang perlu kita jaga adalah hati kita—apakah kita masih tulus, atau mulai mencari pengakuan?

Yesus menentang sikap orang-orang munafik yang suka melakukan kebaikan supaya dilihat orang. Mereka memberi di depan umum, meniup sangkakala, dan ingin dipuji. Tuhan berkata bahwa mereka sudah menerima upahnya, yaitu pujian manusia.

Tetapi bagi orang yang memberi dengan tulus, tanpa ingin diketahui, Bapa di Surga melihat dan akan memberi upah yang sejati.

Di sinilah kita belajar tentang welas asih. Welas asih bukan sekadar memberi. Welas asih adalah sikap hati yang penuh kasih, empati, dan kerinduan untuk meringankan penderitaan orang lain.

Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah eleemosyne, yang berarti sedekah, amal, atau belas kasihan. Ini bukan tindakan luar saja, tetapi sesuatu yang lahir dari hati yang dipenuhi kasih Tuhan.

Sobat muda, Bayangkan seseorang yang benar-benar lapar. Ketika kita memberinya makanan dengan tulus, tanpa berharap apa pun, itu adalah welas asih. Tetapi jika kita memberi sambil berharap dipuji, difoto, atau dikenang, maka nilai dari pemberian itu menjadi berkurang di mata Tuhan.

Tuhan tidak melihat besar kecilnya pemberian kita, tetapi melihat ketulusan hati kita.
Dalam Alkitab juga ada kisah tentang seorang janda miskin yang memberi dua peser. Secara jumlah, itu sangat kecil.

Tetapi Yesus memuji dia karena ia memberi dari kekurangannya, dengan hati yang tulus. Ini menunjukkan bahwa nilai di hadapan Tuhan tidak ditentukan oleh kuantitas, tetapi oleh kualitas hati.

Sobat muda, Mengapa welas asih itu penting?

Pertama, karena welas asih mencerminkan hati Allah.
Allah kita adalah Allah yang penuh kasih. Ia melihat penderitaan manusia dan tidak tinggal diam. Ia mengutus Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita. Itu adalah bentuk welas asih terbesar dalam sejarah manusia. Ketika kita memiliki welas asih, kita sedang mencerminkan karakter Allah dalam hidup kita.

Kedua, welas asih membentuk karakter kita.
Ketika kita belajar memberi dengan tulus, kita sedang melatih hati kita untuk tidak egois. Dunia mengajarkan kita untuk mencari keuntungan, tetapi Tuhan mengajarkan kita untuk memberi tanpa pamrih. Ini adalah proses pembentukan yang membuat kita semakin serupa dengan Kristus.

Ketiga, welas asih membawa sukacita sejati.
Pujian manusia hanya sementara, tetapi sukacita karena melakukan kehendak Tuhan itu jauh lebih dalam dan bertahan lama. Ada kepuasan batin ketika kita tahu bahwa kita telah menolong seseorang dengan tulus.

Sobat muda yang terkasih, Namun, kita juga harus jujur bahwa tidak mudah untuk memiliki welas asih yang murni. Kadang-kadang kita tergoda untuk ingin dihargai. Kita ingin orang tahu bahwa kita baik. Bahkan tanpa sadar, kita bisa merasa bangga dengan kebaikan kita sendiri.

Di sinilah pentingnya kita terus menjaga hati. Yesus mengajarkan agar kita memberi secara tersembunyi. Artinya, kita melatih diri untuk tidak mencari sorotan. Kita belajar untuk cukup dengan satu hal: Tuhan melihat dan itu sudah cukup.

Firman Tuhan dalam 2 Tawarikh 6:30 mengatakan bahwa Allah mengetahui hati setiap manusia. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya. Ia tahu motivasi kita yang terdalam. Oleh karena itu, yang terpenting bukanlah apa yang dilihat manusia, tetapi apa yang dilihat oleh Tuhan.

Sobat muda, Mari kita refleksikan hidup kita:
• Apakah kita memberi karena kasihan dan kasih, atau karena ingin dipuji?
• Apakah kita menolong orang lain dengan tulus, atau ada motif tersembunyi?
• Apakah kita masih memiliki hati yang peka terhadap penderitaan orang lain?

Jika hari ini kita menyadari bahwa motivasi kita belum murni, jangan berkecil hati. Tuhan selalu memberi kesempatan untuk berubah. Mintalah kepada Tuhan agar Ia memurnikan hati kita, sehingga kita bisa memiliki welas asih yang sejati.

Mulailah dari hal-hal kecil. Kita tidak perlu menunggu menjadi kaya untuk memberi. Kita bisa mulai dari hal sederhana: membantu teman yang kesulitan, berbagi makanan, menghibur orang yang sedih, atau bahkan sekadar mendengarkan seseorang yang membutuhkan perhatian.

Welas asih tidak selalu tentang uang.
Welas asih adalah tentang hati.

Sobat muda, Tuhan memanggil kita untuk menjadi terang dan garam dunia. Salah satu cara kita menjadi terang adalah melalui tindakan kasih yang tulus. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang tidak hanya baik di luar, tetapi juga memiliki hati yang murni.

Bayangkan jika setiap kita hidup dengan welas asih. Dunia ini akan menjadi tempat yang lebih hangat, lebih penuh kasih, dan lebih mencerminkan Kerajaan Allah.

Akhirnya, ingatlah ini: Bukan soal seberapa banyak kita memberi, tetapi seberapa tulus kita memberi. Bukan soal siapa yang melihat kita, tetapi apakah Tuhan berkenan atas kita.
Dan bukan soal pujian manusia, tetapi tentang hati yang berkenan di hadapan Allah.

Kiranya setiap kita, sebagai generasi muda, boleh hidup dengan hati yang penuh welas asih—memberi dengan tulus, menolong dengan kasih, dan hidup hanya untuk kemuliaan Tuhan. Amin.

Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Ajarlah kami memiliki hati yang tulus dan penuh welas asih. Jauhkan kami dari keinginan mencari pujian manusia. Mampukan kami menolong sesama dengan kasih yang murni. Biarlah hidup kami memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB