Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

RHK GMIM Selasa 31 Maret 2026, Markus 15:6-7 Jangan Membenarkan Kebiasaan Salah

Aprilia Sahari • Selasa, 24 Maret 2026 | 14:39 WIB

LOGO GMIM.
LOGO GMIM.

RHK GMIM Selasa 31 Maret 2026

Markus 15:6-7

(6) Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak.
(7) Dan pada waktu itu adalah seorang yang bernama Barabas sedang dipenjarakan bersama beberapa orang pemberontak lainnya. Mereka telah melakukan pembunuhan dalam pemberontakan.

Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Kita mengenal dalam pemerintahan modern kebijakan remisi, grai atau amnesti yang diberikan kepada narapidana dalam peristiwa tertentu seperti pada hari kemerdekaan.

Di dalamnya terdapat kebijakan pengampunan atau keringanan hukuman bari para narapidana.

Tradisi membebaskan tahanan pada perayaan Paskah menunjukkan adanya kompromi politis.

Sebuah mekanisme simbolik untuk meredakan ketegangan dengan publik.

Hal ini mencerminkan adanya budaya konsesi, yaitu mengutamakan ketentraman sosial daripada kebenaran objektif.

Pilatus mengikuti tradisi populis yakni membebaskan satu narapidana sebagai bentuk "konsesi politik" kepada rakyat Yahudi pada saat perayaan Paskah.

Orang Yahudi memiliki tradisi bahwa gubernur Romawi akan membebaskan satu orang tahanan sebagai bentuk kemurahan.

Ini adalah suatu tindaan konsesi politik untuk memperlihatkan kesan perdamaian antara penguasa dan rakyat.

Tradisi ini tidak hanya mencerminkan relasi antara penguasa dan rakyat yang dijajah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kebijakan yang bersifat populis digunakan untuk mempertahankan stabilitas kekuasaan.

Barabas bukanlah tahanan biasa.

Ia adalah seorang pemberontak dan pembunuh.

Hal ini memberikan gambaran sosial politis tentang praktik pembebasan seorang tahanan pada hari raya, yakni kebiasaan yang mencampuradukan unsur tradisi, politik dan konsesi publik.

Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Firman hari ini membuka ruang refleksi tentang bagaimana keluarga masa kini perlu mendidik dengan kesadaran etis terhadap keadilan, kebenaran, kejujuran, disiplin dan kasih.

Dalam konteks keluarga, banyak orangtua juga sering terjebak dalam praktik "reward" atau kelonggaran yang tidak disertai dengan evaluasi moral yang jernih.

Anak-anak dibebaskan dari tanggungjawab, diberi pujian tanpa disiplin dan kerja keras, dimaafkan tanpa nilai-nilai pertobatan.

Generasi masa kini tidak hanya pintar bermain game online tetapi juga harus rajin beribadah dan selalu menghormati orangtuanya.

Kita juga bisa tergoda untuk membuat konsesi terhadap kebenaran demi "kenyamanan dan ketenangan" rumah tangga.

Akan tetapi kita selalu diingatkan bahwa Tuhan Allah berdaulat atas sejarah, atas sistem politik dan hukum.

Ini memberi pengharapan pada kita bahwa tidak ada keputusan manusia yang bisa mengagalkan rencana Tuhan Allah.

Memilih "barabas" dalam rumah tangga hari ini berarti memberi ruang bagi kekacauan yang akan diwariskan.

Sebaliknya, memilih Yesus Kristus, mungkin tidak populer di mata dunia, namun menyelamatkan generasi.

Doa: Ya Tuhan Allah, terkadang kehidupan kami seperti Barabas, yang selalu memberontak, dan melawan kehendak-Mu. Tapi Engkau rela menggantikan tempat kami, Tolong kami untuk tidak lagi hidup menurut keinginan dosa, tetapi berani hidup tidak membenarkan yang salah. Amin.

Baca Juga: RHK GMIM Senin 30 Maret 2026, Markus 15:3-5 Diam Dalam Kebenaran

Editor : Aprilia Sahari
#RHK #RHK GMIM Selasa 31 Maret 2026 #GMIM #Renungan GMIM