Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 7 April 2026, Bacaan I Kisah Para Rasul 2:36-41, Bacaan Injil Yohanes 20:11-18

Fandy Gerungan • Jumat, 27 Maret 2026 | 10:18 WIB

Photo
Photo

Hari Selasa dalam Oktaf Paskah (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Kisah Para Rasul 2:36-41

Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus."

Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?"

Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.

Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita."

Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: "Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini."

Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 33:4-5,18-19,20,22

Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.

Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN.

Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya,

untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.

Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita!

Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.

Bacaan Injil Yohanes 20:11-18

Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu,

dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.

Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan."

Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.

Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."

Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru.

Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."

Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara-saudari terkasih, ada dua gambaran kuat dalam bacaan hari ini: hati yang tertusuk dan hati yang menangis. Keduanya tampak berbeda, tetapi sebenarnya menuju satu arah yang sama perjumpaan yang mengubah hidup.

Dalam bacaan pertama, orang-orang yang mendengar pewartaan para rasul tiba-tiba tersadar. Mereka seperti “terbangun” dari hidup yang selama ini berjalan tanpa arah.

Hati mereka tersentuh, bahkan terguncang. Mereka mulai bertanya dengan jujur: apa yang harus kami lakukan sekarang?.

Pertanyaan ini penting. Karena banyak orang hidup tanpa pernah sampai pada titik itu. Mereka tahu sesuatu tidak beres dalam hidupnya, tetapi tidak pernah benar-benar mau berubah.

Namun di sini kita melihat langkah awal keselamatan: keberanian untuk mengakui kesalahan, lalu mengambil keputusan untuk berubah.

Dan perubahan itu bukan sekadar niat, tetapi tindakan nyata membuka diri pada rahmat Tuhan, memulai hidup baru, dan membiarkan Roh Kudus bekerja dalam diri.

Sementara itu, dalam Injil, kita melihat Maria Magdalena. Ia berdiri di dekat kubur, menangis. Ia kehilangan harapan. Baginya, semua sudah berakhir. Bahkan ketika Yesus berdiri di dekatnya, ia tidak menyadari kehadiran-Nya.

Ini menarik. Kadang kita juga seperti Maria. Kita merasa Tuhan jauh, hilang, bahkan seolah tidak peduli. Padahal sebenarnya Tuhan ada sangat dekat hanya saja hati kita tertutup oleh kesedihan, ketakutan, atau kekecewaan.

Perubahan besar terjadi ketika Yesus memanggil namanya. Bukan dengan suara keras, bukan dengan mukjizat yang dramatis, tetapi dengan panggilan yang sangat pribadi. Saat itulah Maria sadar: Tuhan yang ia cari ternyata sudah menemukannya lebih dulu.

Saudara-saudari, di sinilah inti pesan hari ini, keselamatan dimulai dari hati yang terbuka dan perjumpaan yang personal dengan Tuhan.

Orang banyak dalam bacaan pertama berubah karena mereka mau mendengar dan bertobat. Maria berubah karena ia mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus.

Dan setelah itu, keduanya tidak berhenti pada diri sendiri. Mereka bergerak. Mereka menjadi saksi. Maria berlari memberi kabar. Orang banyak yang bertobat menjadi komunitas baru yang hidup dalam iman.

Artinya, iman sejati tidak berhenti pada perasaan haru atau pengalaman pribadi saja. Iman selalu mendorong kita untuk bertindak dan bersaksi.

Mungkin hari ini kita datang dengan “tangisan” kita masing-masing, masalah, kegagalan, dosa, atau rasa kehilangan. Tapi kabar baiknya: Tuhan tidak jauh. Ia ada dekat, memanggil kita, dan mengundang kita untuk bangkit.

Jangan tinggal dalam kesedihan. Jangan berhenti pada penyesalan. Bangkitlah, bertobatlah, dan jadilah saksi. Karena ketika seseorang sungguh bertemu dengan Tuhan, hidupnya akan diubahkan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan