Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Pantekosta Menghayati Dan Memperingati Jumat Agung, Aku Melakukannya Untukmu

Deiby Rotinsulu • Kamis, 2 April 2026 | 12:14 WIB
Gereja Pantekosta di Indonesia
Gereja Pantekosta di Indonesia

 

Pembacaan:

Saudaraku yang terkasih

Bayangkan…
Langit menjadi gelap.
Angin berhembus pelan, namun terasa berat.
Suasana mencekam… sunyi… dan penuh luka.

Di atas sebuah bukit yang bernama Golgota—
tergantung seorang Pribadi…
yang tidak bersalah…
yang tidak berdosa…
namun diperlakukan seperti penjahat.

Dialah Yesus.

Dan hari itu…
bukan sekadar hari kematian.
Itu adalah hari di mana kasih diuji sampai titik darah terakhir.

1. Setiap Luka Itu Nyata

Dia dicambuk…
bukan satu dua kali…
tetapi berkali-kali sampai tubuh-Nya hancur.

Mahkota duri ditancapkan di kepala-Nya.
Darah mengalir… menetes… membasahi wajah-Nya.

Paku menembus tangan dan kaki-Nya.
Rasa sakit yang tidak terbayangkan…

Dan yang paling menyakitkan—
Dia melakukan semua itu… untuk kita.

Dalam Yesaya 53:5 dikatakan:
"Oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh."

Setiap luka itu punya nama.
Nama itu… adalah kita.

Renungan (hening sejenak):
Jika kita ada di sana…
mampukah kita tetap memandang salib itu…
dan berkata… “itu bukan untukku”?


2. Ketika Kasih Tidak Dibalas

Orang-orang yang dulu disembuhkan-Nya…
yang pernah ditolong-Nya…
yang pernah melihat mukjizat-Nya…

Kini berteriak:
"Salibkan Dia!"

Yesus tidak melawan.
Tidak membalas.
Tidak turun dari salib.

Sebaliknya… Ia berkata:
"Ya Bapa, ampunilah mereka."

 Inilah kasih yang tidak masuk akal.
Kasih yang tetap mengampuni, bahkan saat disakiti.

Ilustrasi (dramatis):

Seorang anak menghancurkan hati orang tuanya.
Melukai… mengecewakan… bahkan meninggalkan.

Namun ketika anak itu kembali…
orang tua itu tetap membuka tangan…
dan berkata: “Aku tetap mengasihimu.”

Begitu juga Yesus.
Walau kita jatuh… gagal… bahkan menjauh…
Dia tetap memilih mengasihi kita.

Renungan:
Masihkah kita menunda untuk kembali kepada-Nya?

Baca Juga: Renungan Pantekosta Selasa 2 April 2026, Bacaan 2 Korintus Pasal 11 Sampai 13, Kekuatan dalam Kelemahan, Kuasa Roh Kudus yang Nyata


3. Teriakan yang Mengubah Segalanya

Di atas kayu salib…
dengan napas yang hampir habis…
Yesus berkata:

“Sudah selesai.” (Yohanes 19:30)

Bukan teriakan kekalahan…
tapi teriakan kemenangan.

Artinya:

Saat itu… tirai Bait Allah terbelah.
Akses kepada Tuhan… tidak lagi tertutup.

Renungan (suara pelan):
Apa yang sudah Yesus selesaikan di salib…
jangan kita sia-siakan dalam hidup kita.


Penutup 

Bayangkan jika Yesus berdiri di depanmu sekarang…
dengan bekas luka di tangan-Nya…
dan mata yang penuh kasih…

Ia tidak marah.
Ia tidak menuntut.

Ia hanya berkata pelan:

“Aku melakukan semuanya… untukmu.”

Dan sekarang…
Ia menunggu jawabanmu.

👉 Apakah kita akan tetap hidup biasa saja?
👉 Ataukah kita memilih untuk berubah… dan hidup bagi Dia?


Doa

“Tuhan Yesus… kami terdiam di bawah bayang-bayang salib-Mu. Kami sadar, begitu besar kasih yang Engkau berikan, namun sering kami abaikan. Ampuni kami Tuhan… Ajari kami untuk menghargai setiap pengorbanan-Mu, hidup dalam pertobatan, dan mengasihi seperti Engkau mengasihi kami. Kami menyerahkan hidup kami sepenuhnya ke dalam tangan-Mu. Dalam nama Yesus… amin.” (*)

Editor : Deiby Rotinsulu
#Menghayati dan Memperingati #Jumat Agung #Renungan Pantekosta